Tiga Pejabat Perusahaan Semen Lafarge Jadi Terdakwa Pendanaan Terorisme

Lafarge –yang merger dengan Holcim asal Swiss pada tahun 2015-- berusaha bertahan di Suriah selama 2 tahun setelah sebagian besar perusahaan asal Pranics hengkang dari Suriah.

Tiga Pejabat Perusahaan Semen Lafarge Jadi Terdakwa Pendanaan Terorisme

Terkait

Hidayatullah.com—Tiga pejabat perusahaan pembuat semen Swiss-Prancis Lafarge hari Jumat (2/12/2017) ditetapkan sebagai terdakwa pendanaan terorisme tidak langsung.

Dilansir RFI, Frederic Jolibois, yang mengambil alih jabatan manager pabrik semen Lafarge di Suriah pada 2014, dijerat dengan dakwaan pendanaan terorisme dan pelanggaran atas embargo Uni Eropa atas minyak Suriah, kata pengacaranya Jean Reinhart.

Bruno Pescheux, pendahulu Jolibois yang menjadi kepala pabrik dari tahun 2008 sampai 2014, serta bos sekuriti Lafarge Jean-Claud Veillard juga dijerat dengan pasal pendanaan terorisme serta membahayakan nyawa orang lain.

Jolibois mengaku membeli minyak dari “organisasi non-pemerintah” seperti Kurdi dan kelompok Muslim. Tindakannya itu melanggar kebijakan embargo Uni Eropa yang diterapkan sejak 2011 atas minyak Suriah.

Kantor pusat produsen semen LafargeHolcim digeledah terkait pendanaan terorisme

Pescheux mengakui bahwa Lafarge membayar sampai $100.000 setiap bulan kepada taipan Suriah Firas Tlaas, seorang pemegang saham minoritas yang memberikan uang tunai kepada kelompok-kelompok bersenjata di Suriah agar pabrik semen mereka di Jalabiya tetap beroperasi meskipun perang sedang berkecamuk.

Pescheux memperkirakan ISIS alias Daesh menerima sekitar $20.000.

Ketiga orang itu merupakan yang pertama ditahan sebagai hasil penyelidikan hakim-hakim di Pranics atas kasus-kasus anti-teror dan pendanaan tindak kejahatan. Hakim juga menyelidiki apakah Lafarge mengambil tindakan yang memadai untuk melindungi pekerja-pekerja lokalnya.

Staf lokal bertahan di lokasi pabrik sementara para eksekutif pergi meninggalkan Damaskus menuju Kairo pada tahun 2011 dengan alasan demi keselamatan, ketika perang saudara mulai berkecamuk di Suriah. Pekerja-pekerja asing lainnya dievakuasi pada bulan-bulan selanjutnya.

Lafarge –yang merger dengan Holcim asal Swiss pada tahun 2015– berusaha bertahan di Suriah selama 2 tahun setelah sebagian besar perusahaan asal Pranics hengkang dari Suriah menyusul penguasaan ISIS atas sejumlah daerah.

Kelompok ISIS alias Daesh akhirnya pun menduduki pabrik semen Lafarge di Jalabiya pada September 2014.

Investigasi kasus Lafarge dipercepat pekan-pekan terakhir, setelah polisi menggeladah markas perusahaan itu di Paris bulan November kemarin. Tiga bekas pekerja lokal Lafarge di Jalabiya juga didatangkan dari Suriah untuk memberikan kesaksian.*

Rep: Ama Farah

Editor: Dija

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !