Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

PM Inggris Kecam Presiden Donald Trump karena Retwit Anti Islam

Kekerasan terhadap Muslim meningkat pasca terpilihnya Donald Trump jadi presiden
Bagikan:

Hidayatullah.com—Perilaku Presiden AS Donald Trump memicu kemarahan public setelah ikut  me-retwit tiga video pada 29 November 2017 dari akun anggota sayap kanan Inggris, Jayda Fransen, yang mengandung pesan kebencian terhadap muslim.

Tweet yang dicuit ulang oleh Trump itu memuat video yang menggambarkan aksi kekerasan dari seorang muslim.

Konten dari video-video itu sendiri tidak dapat diverifikasi secara independen. Kehebohan di dunia Twitter  itu sendiri terjadi beberapa hari setelah Jayda Fransen ditahan karena pidatonya dalam sebuah aksi demontrasi di Belfast.

Insiden terbaru dari serangkaian kejadian serupa yang dituduh sebagai tindakan ujaran kebencian, pelecehan agama oleh anggota Britain First.

Baca: Selamat Datang Presiden Anti Islam!

Merespons hal tersebut, juru bicara Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan bahwa apa yang dilakukan Donald Trump jelas salah. Ia menambahkan bahwa Birtain First bertujuan memecah belah masyarakat melalui ujaran kebencian yang menjajakan kebohongan dan memicu ketegangan.

Namun, Donald Trump tak terima dengan respons Theresa May. pria berusia 71 tahun itu pun mengatakan bahwa May seharusnya fokus pada “terorisme” di Inggris, ujarnya dikutip BBC, Kamis (30/11/2017).

“Jangan fokus kepada saya, fokus kepada teroris Islam radikal yang saat ini sudah ada di Inggris. Kami baik-baik saja!” tulis Trump di Twitter -nya.

Baca: Setelah Hina Wartawan Difabel, Donald Trump Cerca Muslim

Selain Theresa May, sejumlah pejabat Inggris juga mengecam cuitan Donald Trump itu. Salah satunya adalah seorang anggota pemerintahan konservatif senior Inggris, Sajid Javid.

“Jadi POTUS (Presiden AS) telah mendukung pandangan dari sebuah organisasi rasis yang penuh kebencian. Ia salah dan saya menolak membiarkannya dengan tak berkata apa-apa,” tulis Javid.

Sementara itu Brendan Cox menyebut bahwa Donald Trump telah melegalkan gerakan sayap kanan di AS. Brendan adalah suami Jo Cox, anggota Parlemen Inggris yang tewas dibunuh tahun lalu oleh seorang pria yang meneriakkan “Britain First” ketika menyerang korban.

“Menyebarkan kebencian teah menimbulkan konsekuensi dan Presiden harusnya malu dengan dirinya sendiri,” tulis Brendan di akun Twitter -nya.

Sementara itu Jayda Fransen (31),   seolah mendapat angin segar didukung Presiden AS tersebut.

Baca: Lebih dari 200 Masjid Diserang di Eropa dan Inggris dalam 12 Bulan Terakhir

Fransen menyambutnya dengan gembira dan mengatakan bahwa video tersebut telah ditonton oleh 43,6 juta pengikut Trump di Twitter . “SEMOGA TUHAN MEMBERKATIMU!” tulis Fransen dengan huruf kapital.

Jayda Fransen adalah Wakil Pemimpin Britain First, yang mengklaim sebagai partai politik namun banyak dikecam sebagai kelompok ekstrim kanan.

Akun Twitter  milik Jayda Fransen kerap membagikan video yang tak terverifikasi menampilkan migran maupun orang muslim yang menyerang warga Eropa, secara verbal maupun fisik.*

Rep: Panji Islam
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Pernah Terima Duit Qadhafi, Sarkozy Terancam Kalah

Pernah Terima Duit Qadhafi, Sarkozy Terancam Kalah

Liberal Takut Ikhwan, Salafi Dikagumi Janda

Liberal Takut Ikhwan, Salafi Dikagumi Janda

Australia Gagalkan 230 Orang yang akan Bergabung dengan Militan Timur Tengah

Australia Gagalkan 230 Orang yang akan Bergabung dengan Militan Timur Tengah

AS: Kami Tidak Tekan Turki atau Israel

AS: Kami Tidak Tekan Turki atau Israel

Tokoh Qibthy: “Jika Didzalimi, Kami Mengadu ke Al Azhar”

Tokoh Qibthy: “Jika Didzalimi, Kami Mengadu ke Al Azhar”

Baca Juga

Berita Lainnya