Ada Jaringan Prostitusi di Penampungan Pengungsi di Jerman, Petugas Sekuriti Mucikarinya

Salah seorang penjaga keamanan di pusat penampungan pengungsi Wilmersdorf mengaku mendapatkan komisi dari prostitusi itu.

Ada Jaringan Prostitusi di Penampungan Pengungsi di Jerman, Petugas Sekuriti Mucikarinya
Salah satu tempat penampungan migran pencari suaka di Jerman.

Terkait

Hidayatullah.com—Lembaga penyiaran di Jerman ZDF menemukan bukti-bukti bahwa pengungsi di Berlin menjual tubuhnya untuk mendapatkan uang dan petugas-petugas keamanan, di setidaknya satu penampungan pengungsi, bertindak sebagai mucikari.

Penampungan pengungsi paling terkenal di Berlin, Tiergarten, menjadi tempat transaksi pelacuran yang melibatkan para pengungsi yang permohonan suakanya ditolak, termasuk di antara mereka ada yang masih di bawah umur.

“Seratus euro,” kata seorang mucikari menjelaskan berapa biaya untuk berhubungan seks dengan seorang pengungsi, seperti yang terekam dalam video reporter.

Diana Henninges yang bekerja di “Moabit helps”, sebuah organisasi bantuan untuk pengungsi di Berlin, menjelaskan mengapa pengungsi terjebak dalam prostitusi.

“Tekanannya datang dari perasaan seperti ‘saya ditolak, saya tidak diperbolehkan bekerja, saya tidak punya izin bekerja, saya hanya punya sedikit uang, saya bersedia melakukan hal lebih untukmu’. Ada perasaan putus asa permanen. Prostitusi sebenarnya adalah tindakan kompulsif dari perasaan itu,” kata Henninges kepada Euronews Rabu (25/10/2017).

Sebagian dari para migran dan pengungsi itu merasa berkewajiban mengirimkan uang kepada keluarga mereka di kampung halaman, dan menjual diri adalah satu-satunya yang bisa mereka lakukan. Sebagian lain melakukan prostitusi kemungkinan karena berhutang kepada penyelundup manusia yang membawanya ke Eropa.

Salah seorang penjaga keamanan di pusat penampungan pengungsi Wilmersdorf mengaku mendapatkan komisi dari prostitusi yang merebak di sana.

“Dari setiap kencan saya mendapatkan 20 euro. Itu kenapa saya menyuruh mereka supaya mau tidur (melacur, red),” kata petugas sekuriti itu, mengakui dirinya juga terdorong menjadi mucikari karena uang. [Satu euro kurang lebih setara 16 ribu rupiah.]

“Apakah ada jaringan prostitusi di tempat-tempat penampungan pengungsi?” tanya reporter.

“Ya. Ada banyak. Pengungsi juga perlu uang,” jawabnya.

“Apakah anak-anak di bawah umur juga menjajakan dirinya?”

“Iya,” ujar petugas sekuriti itu.

Cerita-cerita semacam ini sebenarnya sudah bermunculan sejak Jerman kebanjiran pengungsi dan migran beberapa tahun silam. Namun, fakta bahwa petugas keamanan di tempat-tempat penampungan pengungsi terlibat langsung dalam prostitusi yang terjadi di depan mata pihak berwenang sungguh sangat mengejutkan.*

Rep: Ama Farah

Editor: Dija

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !