Iran Vonis Mati Pemukim Swedia Terdakwa Mata-Mata Israel

Kejaksaan Iran mengatakan terdakwa bekerja untuk intelijen Israel dengan imbalan uang dan bantuan mendapatkan izin tinggal di Swedia.

Iran Vonis Mati Pemukim Swedia Terdakwa Mata-Mata Israel
Demonstrasi menuntut pembebasan Ahmadreza Djalali. Djalali bersama keluarga (inzet).

Terkait

Hidayatullah.com—Pengadilan di Iran diyakini menghukum mati seorang dokter Iran yang bermukim di Swedia setelah dinyatakan bersalah melakukan aksi mata-mata untuk kepentingan Israel.

Abbas Jafari-Dowlatabadi, seorang jaksa di Teheran, mengatakan hari Selasa (24/10/2017) bahwa seorang terdakwa yang tidak disebutkan namanya telah dinyatakan bersalah memberikan informasi kepada agen telik sandi Israel tentang alamat 30 ilmuwan nuklir dan militer, yang dua di antaranya –Massoud Ali-Mohammadi dan Majid Shahriari– tewas dalam serangan bom tahun 2010, lapor BBC mengutip media Iran.

Terdakwa menyerahkan informasi itu kepada intelijen Israel dengan imbalan uang dan bantuan untuk mendapatkan izin tinggal di Swedia.

Hari Senin, Amnesty International mengatakan telah diberitahu oleh pengacara dari Ahmadreza Djalali bahwa kliennya dinyatakan bersalah melakukan “korupsi di bumi” dan dijatuhi hukuman mati.

Zeynab Taheri mengatakan, dalam putusan pengadilan disebutkan bahwa Djalali telah bekerja untuk pemerintah Israel yang membantunya memperoleh izin bermukim di Swedia.

Amnesty International (AI) mengatakan putusan bersalah itu dibuat melalui siksaan psikis dan pengakuan palsu, serta proses persidangan yang sangat tidak adil terhadap terdakwa.

AI menjelaskan bahwa Djalali, seorang dokter dan dosen di Karolinska Institute di Stockholm, sedang dalam perjalanan bisnis ke Iran pada bulan April 2016, ketika ditangkap oleh petugas dari kementerian intelijen dan ditahan tanpa mendapatkan akses pengacara selama tujuh bulan.

Tiga bulan dari masa tahanan itu, Djalali ditempatkan dalam sel isolasi. Selama itu dia dipaksa dua kali untuk membuat “pengakuan palsu” di depan kamera video dengan membacakan pernyataan yang dibuat oleh para penyidik.

Djalali mengatakan dirinya mendapatkan tekanan berat terus menerus melalui siksaan psikis dan ancaman dirinya akan dieksekusi serta anak-anaknya akan ditangkap, supaya “mengaku” bekerja sebagai mata-mata untuk pemerintah Israel.

Djalali mengatakan tuduhan-tuduhan yang ditujukan kepadanya adalah tuduhan palsu yang dibuat oleh Kementerian Intelijen Iran.

Istrinya, Vida Mehrannia, yang hidup bersama kedua anaknya di Swedia, mengatakan kepada AI bahwa kondisi fisik dan mental Djalali menurun tajam sejak ditahan.

“Kami menyeru agar dia dibebaskan sebab dia tidak melakukan kejahatan apapun,” kata Mehrannia.*

Rep: Ama Farah

Editor: Dija

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !