Kamis, 25 Maret 2021 / 12 Sya'ban 1442 H

Internasional

Korban Tewas di Rakhine Hampir 400 Orang,Erdogan: Ada Genosida di Myanmar

RvisionTV
wanita rohingya korban keganasan militer myanmar
Bagikan:

Hidayatullah.com—Diperkirakan ada sekitar 400 orang tewas dalam konflik berdarah di Rakhine, Myanmar barat laut selama seminggu terakhir.

Jumlah korban termasuk warga Muslim Rohingya ini merupakan data resmi yang diakui pemerintah Myanmar.

PBB menyatakan, sekitar 38.000 warga etnis Rohingya telah menyeberang ke Bangladesh dari Myanmar untuk menghindari operasi militer. Operasi militer diluncurkan setelah kelompok gerilyawan Rohingya menyerang pos-pos polisi dan sebuah pangkalan militer di negara bagian Rakhine pada Jumat dini hari pekan lalu.

”Pada 31 Agustus, 38.000 orang diperkIraqan telah melintasi perbatasan ke Bangladesh,” kata para pejabat PBB pada hari Jumat (1/9/2017) kemarin.

Militer Myanmar mengklaim mereka sedang melakukan operasi pembersihan terhadap ”teroris ekstremis” dan pasukan keamanan telah diperintahkan untuk melindungi warga sipil. Tapi, para warga Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh mengatakan bahwa aksi pembakaran dan pembunuhan terjadi dengan tujuan untuk memaksa mereka keluar dari Rakhine.

Data resmi yang diakui militer dan pemerintah Myanmar menyatakan, ada 399 orang yang tewas dalam seminggu ini. Mereka adalah 370 gerilyawan Rohingya, 13 aparat keamanan, dua pejabat pemerintah dan 14 warga sipil.

Baca: Doakan Rohingya, KH Arifin Ilham: Kebiadaban Myanmar untuk Menguji Keimanan dan Ukhuwah Kita

Sebagai perbandingan, kekerasan komunal pada tahun 2012 di Sittwe, Ibu Kota Rakhine, angka kematian yang diakui pemerintah hampir 200 orang dan 140.000 warga yang mayoritas etnis Rohingya mengungsi.

Militer mengklaim telah mengevakuasi lebih dari 11.700 “warga etnis” dari daerah yang terkena dampak pertempuran. Warga etnis yang dimaksud merujuk pada pooulasi non-Muslim di Rakhine utara.

”Empat dari teroris ditangkap, termasuk seorang anak laki-laki berusia 13 tahun,” kata pihak militer Myanmar, seperti dilansir Reuters. Pasukan keamanan dilaporkan menangkap dua orang lagi di dekat pos polisi Maungdaw karena dicurigai terlibat dalam serangan terhadap pos-pos polisi pekan lalu.

Meski jumlah korban tewas dari pihak warga sipil Rohingya yang diakui militer hanya 14 orang, para aktivis sebelumnya memberikan data yang berbeda. Menurut para aktivis  sekitar 130 orang, termasuk wanita dan anak-anak Rohingya dibunuh dalam tindakan keras militer.

Baca: Berjuang dan Melawan! Pilihan Terakhir Pria Rohingya

Para aktivis menyebutnya sebagai pembantaian besar-besaran. Pembantaian itu terjadi di Desa Chut Pyin, dekat Kota Rathedaung, Myanmar barat.

”Sejauh ini laporan—menurut saya cukup kredibel—menyebutkan sekitar 130 orang termasuk wanita dan anak-anak terbunuh,” kata Chris Lewa, Direktur The Arakan Project, lembaga kemanusiaan yang bekerja dengan komunitas Rohingya.

“Itu terjadi pada hari Minggu ketika pasukan keamanan tiba-tiba mengepung seluruh wilayah, bersama dengan penduduk desa Rakhine, sepertinya ini adalah pembantaian besar-besaran di Rathedaung,” kata Lewa.

Baca: Muhammadiyah Desak PBB, ASEAN, dan Mahkamah Internasional Tindak Tegas Myanmar

Sementara itu, Presiden Turki, Tayyip Erdogan, salah satu pemimpin dunia yang terus bersuara terkait nasib etnis Rohingya menyebut kematian ratusan orang Rohingya di Myanmar sebagai genosida yang ditujukan untuk komunitas Muslim.

“Ada genosida di sana. Mereka tetap diam terhadap ini. Semua orang yang berpaling dari genosida yang dilakukan di bawah tabir demokrasi juga merupakan bagian dari pembantaian ini,” kata Erdogan pada perayaan Idul Fitri Adha di Istanbul seperti dilansir dari Reuters, Jumat (1/9/2017). *

Rep: Nashirul Haq AR
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Israel Tangkap Tiga Pemuda Palestina Saat Bentrokan di Issawiya

Israel Tangkap Tiga Pemuda Palestina Saat Bentrokan di Issawiya

Ahmadinejad Singkirkan Besan dan “Saingannya”

Ahmadinejad Singkirkan Besan dan “Saingannya”

Pengungsi Rohingya di Bangladesh Menghadapi Krisis Kesehatan Mental yang Akut

Pengungsi Rohingya di Bangladesh Menghadapi Krisis Kesehatan Mental yang Akut

AS Negara Peringkat Keenam Memenjarakan Wartawan

AS Negara Peringkat Keenam Memenjarakan Wartawan

Pemberontak Libya Gencatan Senjata

Pemberontak Libya Gencatan Senjata

Baca Juga

Berita Lainnya