Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

Jadi Tersangka Tabrak Lari Maut Pewaris Red Bull Buron

Vorayuth Yoovidhya (inzet), pewaris perusahaan Red Bull, pelaku tabrak lari maut di Thailand.
Bagikan:

Hidayatullah.com—Salah satu pewaris perusahaan minuman berenergi Red Bull yang menjadi tersangka kasus tabrak lari maut dikabarkan buron, setelah pihak berwenang Thailand mencabut paspornya.

Kementerian Luar Negeri Thailand telah mencabut paspor atas nama Vorayuth Yoovidhya, seorang pewaris kerajaan bisnis Red Bull, yang sekarang buron dan dicari pihak berwenang karena terlibat tabrak lari maut.

Pemuda yang dipanggil “Boss” itu kabur dari Thailand bulan lalu dengan pesawat pribadi, hanya beberapa hari sebelum surat perintah penangkapannya dikeluarkan. Dia terbang ke Singapura, tetapi dua hari kemudian terbang lagi, kabarnya ke Eropa dengan menggunakan pesawat komersial. Namun, sekarang keberadaannya tidak diketahui.

Yoovidhya dicari aparat terkait insiden tabrak lari tahun 2012, yang menewaskan seorang polisi Thailand. Pewaris Red Bull itu diyakini menabrakkan Ferrarinya ke sebuah sepeda motor dan menyeret pengendaranya lebih dari 200 meter hingga tewas.

Kasus tersebut menimbulkan kemarahan di kalangan masyarakat Thailand. Tidak hanya menyebabkan hilangnya nyawa seseorang, tetapi kasus itu juga mencerminkan standar ganda dalam urusan hukum di Thailand ketika perkaranya menyangkut orang kaya atau terpandang. Sebagaimana diketahui, sebagai salah satu pendiri perusahaan minuman berenergi Red Bull keluarga Yoovidhya dilaporkan berhasil menimbun kekayaan $20 miliar.

Dalam kurun lima tahun ini Yoovidhya mangkir dari persidangan sebanyak 8 kali. Pengacaranya kerap berdalih dia sedang ada kepentingan bisnis di luar negeri atau sakit.

Namun, laporan kantor berita Associated Press menunjukkan bahwa Yoovidhya, yang sekarang berusia 32 tahun, masih menjalani kehidupan mewahnya seperti biasa meskipun sedang menghadapi dakwaan hukum tersebut. Termasuk menikmati liburan bersama keluarganya di Laos, yang konon berbiaya $1.000 semalam.

Sejak kasus tabrak lari itu, terdapat lebih dari 120 posting di sosial media yang menunjukkan Yoovidhya sedang menikmati wisata mewah di 10 negara, atau lebih, termasuk berski di Jepang, mengunjungi berbagai pantai dan menghadiri Grand Prix yang diikuti tim otomotif Red Bull, lapor Associated Press seperti dilansir Deutsche Welle Sabtu (6/5/2017).

Sekarang keluarga dan temannya berhenti menampilkan foto-foto perjalanan Yoovidhya. Dan sementara laman Facebook-nya masih tetap ada, tetapi namanya sudah diubah dan foto profilnya diganti gambar sayap pesawat.

Akan tetapi, pencabutan paspor Yoovidhya sepertinya tidak akan membuat pemuda itu terperangkap di satu negara. Sejumlah negara bersedia membuatkan paspor untuk orang-orang yang memiliki investasi dalam jumlah tertentu di negaranya. Di sejumlah negara lain, paspor bahkan bisa didapat dengan hanya membayar sejumlah uang.

Pihak berwenang Thailand sudah meminta Interpol untuk mengeluarkan Blue Notice, yang memberitahukan aparat hukum di 190 bahwa Vorayuth Yoovidhya dicari, kata Mayjen (Pol) Apichart Suribunya.

Jubir Kementerian Luar Negeri Busadee Santipitaks mengatakan bahwa pemerintah mengusahakan penangkapan Vorayuth.

“Soal ekstradisi, itu tergantung kantor kejaksaan dan kepolisian,” kata wanita tersebut.

Seorang pejabat senior kepolisian mengatakan bahwa mereka siap untuk melanjutkan kasus itu, tetapi “pertama-tama kita harus menemukannya dulu.”*

Rep: Ama Farah
Editor: Dija

Bagikan:

Berita Terkait

Komisi Pemilu Konfirmasi Nkurunziza Menang Pilpres Periode Ketiga

Komisi Pemilu Konfirmasi Nkurunziza Menang Pilpres Periode Ketiga

Jessica Lynch Ungkap Propaganda AS di Iraq

Jessica Lynch Ungkap Propaganda AS di Iraq

Tes Keperawanan Untuk Mendapatkan Beasiswa Kuliah di Afsel Dinyatakan Ilegal

Tes Keperawanan Untuk Mendapatkan Beasiswa Kuliah di Afsel Dinyatakan Ilegal

Mahasiswi Indonesia Lulus Al-Azhar Mumtaz Bi Syarof

Mahasiswi Indonesia Lulus Al-Azhar Mumtaz Bi Syarof

Bekas Pemimpin Serbia Dipenjara di Swedia

Bekas Pemimpin Serbia Dipenjara di Swedia

Baca Juga

Berita Lainnya