Selasa, 23 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

Presiden AS Paling Tak Disukai, Hari Kedua Berkantor Donald Trump Diprotes Ratusan Ribu Orang

Bagikan:

Hidayatullah.com—Para wanita turun ke jalan-jalan dalam jumlah besar yang tidak pernah terjadi sebelumnya di kota-kota besar di Amerika Serikat, hari Sabtu (21/1/2017) guna memprotes Presiden AS Donald Trump.

Ratusan ribu perempuan, banyak di antara mereka yang mengenakan topi rajut berbentuk seperti kuping kucing berwarna merah muda (pink) -disebut ‘pussyhat’- berjejal di jalanan pusat kota Washington, sekitar Gedung Putih dan National Mall. Ratusan ribu perempuan lainnya melakukan aksi serupa di New York, Los Angeles, Chicago dan Boston, di hari pertamanya bekerja penuh sebagai presiden AS setelah dilantik sehari sebelumnya.

Trump memicu kemarahan banyak orang di Amerika Serikat, terutama kaum liberal, terkait komentar-komentarnya yang dianggap merendahkan wanita, orang Meksiko dan Muslim.

Unjuk rasa Women’s March on Washington jauh lebih besar dibanding aksi serupa di hari pelantikan Trump sebagai presiden, Jumat 20 Januari, yang berpusat di US Capitol. Tidak ada angka perkiraan resmi berapa jumlah orang yang ambil bagian dalam aksi menentang kepemimpinan Trump itu. Namun, dari besarnya kerumunan yang tampak, diyakini peserta unjuk rasa melampaui 200.000, menurut pihak-pihak penyelenggara protes.

Penyelenggara unjuk rasa Sister March memperkirakan aksinya menarik perhatian 750.000 orang, yang memenuhi jalan-jalan di kota Los Angeles. Di Chicago, unjuk rasa yang semula dirancang dalam bentuk pawai diubah menjadi aksi protes di tempat, karena jumlah pesertanya membludak dan menyulitkan massa berjalan beriringan. Kepolisian Chicago memperkirakan orang yang memenuhi jalanan di kotanya untuk berunjuk rasa menentang Trump mencapai 125.000.

Pam Foyster, seorang penduduk Ridgway, Colorado, mengatakan suasana di Washington mengingatkannya pada unjuk rasa massa di era 1960 dan 1970 saat rakyat Amerika menentang Perang Vietnam dan menuntut hak-hak sipil dan kaum wanita.

“Saya berusia 58 tahun, dan saya tak membayangkan kita bisa mengalamani hal seperti itu lagi,” kata Foyster seperti dikutip Reuters.

Meskipun Partai Republik, kendaraan politik Trump, saat ini menguasai kursi di Senat dan Kongres AS, tetapi Taipan itu justru menghadapi banyak penentangan dari berbagai kalangan masyarakat.

Jajak pendapat oleh ABC News/Washington Post belum lama ini menunjukkan tingkat kesukaan rakyat terhadap dirinya adalah yang paling rendah di kalangan presiden baru AS sejak tahun 1970-an.

Selain di ibukota Washington, New York, Los Angeles dan Chicago, puluhan ribu orang membanjiri jalan-jalan di Manhattan, pusat bisnis terkemuka di Amerika Serikat.

Tanpa menghiraukan rakyat yang memprotesnya, hari Sabtu (21/1/2017) Trump yang senang berkicau di Twitter menulis, “Saya merasa terhormat melayani Anda, rakyat Amerika yang hebat, sebagai presiden ke-45 Presiden Amerika Serikat.”

Banyak pengunjuk rasa mengenakan ‘pussyhat’ saat melakukan aksinya. Topi itu adalah simbol pelecehan yang dilakukan Trump terhadap kaum Hawa. Seperti diketahui, saat masa kampanye terungkap rekaman video yang menunjukkan Trump sedang membicarakan wanita-wanita cantik dan mengaku pernah menyentuh bagian intim mereka. Pussy, selain untuk menyebut kucing, adalah istilah dalam bahasa Inggris gaul untuk menyebut vagina.*

Rep: Ama Farah
Editor: Dija

Bagikan:

Berita Terkait

Eropa Dihampiri Awan Mengandung Polutan Radioaktif

Eropa Dihampiri Awan Mengandung Polutan Radioaktif

Al-Zawahiri: Washington Kalah di Afghanistan

Al-Zawahiri: Washington Kalah di Afghanistan

Cemas Virus Serius, China Musnahkan 38 Ribu Babi

Cemas Virus Serius, China Musnahkan 38 Ribu Babi

Jutaan Orang di Afrika Bagian Selatan Terancam Kelaparan

Jutaan Orang di Afrika Bagian Selatan Terancam Kelaparan

Dua Sudan Sepakat Buka Perbatasan Wilayah

Dua Sudan Sepakat Buka Perbatasan Wilayah

Baca Juga

Berita Lainnya