Kemiskinan dan Revolusi Rakyat Miskin di Mesir [1]

Jutaan orang menghadapi ‘kematian perlahan’ di Mesir karena meningkatnya memiskinan

Kemiskinan dan Revolusi Rakyat Miskin di Mesir [1]
AFP

Terkait

Hidayatullah.com–Bagi banyak orang yang hidup di bawah garis kemiskinan, kehidupan di Mesir telah menjadi sebuah perjuangan untuk bertahan hidup.

“Ini merupakan kematian perlahan.” Dengan kalimat tersebut Soliman Bakar dan istrinya menyimpulkan situasi ekonomi di Mesir, di mana laporan secara meningkat menunjukkan bagaimana hal itu sedang terjadi, dengan banyak rakyat yang tidak dapat membeli sembako dan berjuang untuk memenuhi hal itu.

Bakar, seorang bapak tiga anak, merupakan pegawai negeri. Setelah pekerjaannya selesai, dia kembali bekerja sebagai supir taksi sepanjang malam hingga dini hari.

“Saya menjalankan dua pekerjaan, dan istriku juga bekerja, tetapi bahkan dengan tiga gaji, kami hampir tidak dapat melewati kondisi ini,” middleeasteye.net, Selasa, (25/10/2016).

“Masalah-masalah sepertinya tidak pernah berakhir, tidak peduli kemanapun kamu mengarah kamu akan dihadapkan dengan lebih dan lebih banyak kesulitan. Harga gas, listrik, air, bensin, semuanya naik secara tiba-tiba. Sekarang harga makanan yang naik, pound turun. Susu bersubsidi yang biasa kami dapat untuk anak-anak kami tidak lagi tersedia. Obat-obatan harganya mencapai empat kali lipat – bahkan jika kamu dapat menemukannya. Tiba-tiba para apoteker mengatakan pada kami bahwa stok obat-obatan berkurang, termasuk obat jantung dan gagal ginjal. Kami sedang sekarat.”

Dengan anak bungsunya yang masih di sekolah dasar, Bakar sangat takut akan menghancurkan kecintaan anak perempuannya itu. Dia masih mempercayai ayahnya – sang pahlawan. “Saya merasa tidak berdaya,” Solimon mengatakan dengan putus asa. “Tidak ada seorang ayahpun yang berharap lebih daripada untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya. Tetapi bagaimana? Bagaimana saya bisa menghadapi anakku?”

Bakar tidak sendirian. Ahmed, seorang pengacara, menghemat pengeluaran keluarganya selama satu bulan dalam menghadapi situasi putus asa yang semakin meningkat itu.

“Jadi 1250 [Pound Mesir] untuk membayar sewa. Listrik, gas dan air mencapai 500. Pendidikan untuk anak bungsuku 1000, dan makanan 2000… dan itu tidak termasuk pengeluaran pribadi dan transport.

Gajinya? 1500 pound Mesir – hampir tiga kali lipat dari standar minimum gaji yang berkisar 500 pound Mesir, sekitar $50. “Sejujurnya saya tidak tahu bagaimana kami dapat hidup, atau bagaimana akhirnya kami dapat memenuhi itu. Bagaimana kami hidup? Sejujurnya saya tidak dapat mengatakannya. Tuhan yang tahu.

Sementara pemerintah menemukan bahwa 28 persen penduduk Mesir hidup di bawah garis kemiskinan, angkanya mencapai 60 persen di Mesir Atas, dan terlihat akan terus meningkat.

Jasmine Ali, seorang janda, merupakan salah satu dari ribuan penduduk Mesir yang hidup di bawah garsi kemiskinan dan merasa sulit, sebagai satu-satunya pencari nafkah, untuk memenuhi kehidupannya.

“Bagaimana bisa seseorang dengan 500 pound Mesir diharapkan untuk menghidupi biaya mereka dan tiga anak? Biaya rumah, biaya transport, pendidikan… Kami telah berbulan-bulan tanpa daging dan buah, dan dua dari anak-anak melakukan pekerjaan sambilan untuk memenuhi biaya pendidikan mereka.”

“Buah? Buah merupakan makanan mewah. Gula, minyak dan beras yang kami butuhkan, dan bahkan bahan-bahan pokok itu tidak dapat ditemukan, itu jika kamu dapat membelinya. Dan jika kamu cukup beruntung untuk menemukannya di salah satu toko pribadi, mereka menolak menjual padamu lebih dari satu atau dua kilo.”

Kurangnya daging dengan harga murah telah menyebabkan eksploitasi, terdapat fenomena yang mencengangkan bahwa tukang daging berupaya menukar daging keledai dengan daging sapi. Eksploitasi dan korupsi bukanlah merupakan hal baru bagi Mesir, dan tidak pula penjualan daging keledai, meskipun begitu, yang baru ialah jaminan sejumlah “ahli” yang berusaha untuk meyakinkan publik bahwa daging keledai aman untuk dimakan.

Hussein Mansour, kepala organisasi keamanan pangan, cabang dari Kementrian Kesehatan, menyebabkan kontroversi ketika dia mengatakan bahwa sebenarnya mustahil membedakan daging dari berbagai tipe, baik itu keledai, kucing atau anjing, jika sudah dicacah. Lotfy Shawer, seorang mantan pegawai di Kementrian Kesehatan, mengatakan bahwa daging keledai telah berkontribusi mengurangi kekosongan makanan di tahun-tahun ini.

Skandal keamanan makanan

Terdapat juga kecemasan yang meningkat akan keamanan dan kualitas dari makanan buatan lokal.

“Lagi-lagi, saya mendengar orang-orang keracunan buah dan sayur-sayuran. Bahkan jika kamu dapat membelinya, kami tidak tahu jika kami dapat beresiko terkena itu,” kata Ali.

Investigasi keracunan yang terjadi di skolah Awlad Nour di Manzala pada awal bulan ini, di mana 33 anak-anak sekolah dasar jatuh sakit setelah popcorn yang dijual pada mereka telah kadaluarsa, ditemukan bahwa tanggal kadaluarsa yang tertera di bungkus telah diubah oleh pemilik supermarket.

Insiden itu hanya salah satu dari serangkaian insiden keamanan makanan baru-baru ini. Pada awal tahun ini, serentetan wabah Hepatitis A menyebar, dipercayai bahwa hal itu disebabkan oleh strawberi dari Mesir, menyebabkan jaringan supermarket menarik produk yang berasal dari Mesir.

Ahmad, pengacara, mengklaim bahwa banyak produk lokal terkontaminasi karena air tercemar digunakan pada awal kekeringan yang disebabkan oleh bangunan bendungan raksasa Ethiopio mengurangi aliran Sungai Nil ke Mesir.

“Karena kekurangan air setelah [bangunan milik Ethiopia] Bendungan Renaissance, sumber alternatif harus ditemukan, dan tanaman-tanaman diari dengan air daur ulang yang berasal dari sistem pembuangan air.”

“Air selalu kotor, gelap, dan terkadang coklat. Anak-anak terus-terusan sakit,” kata Jasmine Ali.

Kekhawatiran tentang keamanan makanan bukanlah hal baru. Rusia, salah satu pemasok gandum terbesar Mesir, mengatakan mereka akan melarang import buah dan sayur-sayuran Mesir setelah pengawas regulasinya mengatakan bahwa produk itu melanggar undang-undang internasional. Tetapi spekulasi pada saat itu mempercayai bahwa hal tersebut merupakan pembalasan atas bencana gandum yang terjadi pada awal tahun, ketika Kementrian Agrikultur Mesir memulihkan kebijakan toleransi nol terhadap gandum impor yang terkontaminasi oleh jamur, membuat pembelian gabah sangat sulit.*/ (bersambung) Nashirul Haq AR

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !