Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

Selama Diculik Bajak Laut Somalia, Tawanan Bertahan Hidup dengan Makan Tikus

Aslinya kelompok pelaut yang ditawan bajak laut Somalia ini berjumlah 29 orang, tetapi 3 kru tewas.
Bagikan:

Hidayatullah.com—Sekelompok pelaut yang ditawan bajak laut Somali hampir selama lima tahun bertahan hidup antara lain dengan makan tikus, kata salah satu tawanan yang diselamatkan kepada BBC.

Pelaut asal Filipina Arnel Balbero mengatakan mereka hanya diberi sedikit air dan merasa seperti mayat hidup selama ditawan.

Kedua puluh enam pelaut itu pada tahun 2012 kapalnya dibajak oleh perompak Somalia.

Mereka dibebaskan hari Sabtu (22/10/2016), kabarnya setelah uang tebusan dibayarkan.

Para pelaut itu berasal dari sejumlah negara, termasuk China, Filipina, Kamboja, Indonesia, Vietnam dan Taiwan.

Balbero merupakan salah satu awak FV Naham 3 saat kapal itu dicegat bajak laut Somalia di selatan Seychelles. Satu orang kru tewas ketika perompak membajak kapal, menurut organisasi non-pemerintah Oceans Beyond Piracy.

Setahun kemudian kapal itu tenggelam dan krunya dibawa ke pantai Somalia. Dua pelaut meninggal dunia karena sakit.

Balbero mengatakan kepada BBC bahwa selama empat setengah tahun dalam tawanan mereka merasa seperti mayat hidup.

Ketika ditanya bagaimana perompak memperlakukan mereka, dia berkata, “Mereka memberika kami hanya sedikit air…. Kami makan tikus. Ya, kami memasaknya di hutan.”

“[Kami] makan sembarang, apa saja. Kalau lapar, kami makan,” imbuhnya.

Dia juga bicara tentang kesulitannya menyesuaikan diri setelah menjalani pengalaman pahit itu. “Saya tidak tahu apa ini … dunia di luar ini, setelah hal ini berakhir, jadi sangat sulit untuk memulai [hidup] kembali.”

Dalam sebuah rekaman yang dirilis seorang anggota parlemen Taiwan yang ikut dalam negosiasi, tampak sekelompok pria kurus kering dan dikelilingi oleh kawanan bersenjata dan bertopeng.

Shen Jui-chang, kepala teknisi Taiwan dari kapal yang dibajak, dalam rekaman itu mengatakan bahwa mereka hanya diberi satu liter air sehari untuk minum meskipun hawanya sangat panas.

“Tidak ada air, tidak ada makanan…. Setiap orang dari kami mengidap penyakit. Para pembajak tidak memberikan obat, mereka bilang tidak punya uang untuk membeli obat. Itu kenapa dua orang muda mati sia-sia,” kata Shen.

Kementerian Luar Negeri Taiwan mengatakan para tawanan itu dibebaskan setelah uang tebusan dibayarkan oleh pemilik kapal dan juga kelompok yang dikontrak untuk melakukan negosiasi dengan para pembajak, lapor media Taiwan.

Kapal yang dibajak itu berbendera Oman, tetapi dimiliki oleh sebuah perusahaan Taiwan.

Kelompok tawanan yang baru bebas itu diperkirakan sebagian dari tawanan yang tersisa yang disekap oleh pembajak Somalia.

Aksi bajak laut Somalia yang marak di pertengahan tahun 2000-an biasanya dilakukan untuk menuntut uang tebusan. Namun, beberapa tahun terakhir aksi mereka banyak berkurang, terutama karena kapal-kapal militer patroli internasional mondar-mandir di perairan yang rawan pembajakan.*

Rep: Ama Farah
Editor: Dija

Bagikan:

Berita Terkait

Pengakuan Vatikan atas Negara Palestina Berlaku Efektif

Pengakuan Vatikan atas Negara Palestina Berlaku Efektif

Taliban: Penarikan Pasukan Asing Sebaiknya Segera

Taliban: Penarikan Pasukan Asing Sebaiknya Segera

Kota Kecil Dekat Milan Larang Burqa

Kota Kecil Dekat Milan Larang Burqa

Saingi Putin, Jurnalis Muslimah Daftarkan Diri Sebagai Capres

Saingi Putin, Jurnalis Muslimah Daftarkan Diri Sebagai Capres

Pembatasan Dilonggarkan Polandia Alami Lonjakan Infeksi Covid-19

Pembatasan Dilonggarkan Polandia Alami Lonjakan Infeksi Covid-19

Baca Juga

Berita Lainnya