Senin, 18 Oktober 2021 / 11 Rabiul Awwal 1443 H

Internasional

Tak Bisa Berhaji ke Makkah, Peziarah Iran Bertolak ke Karbala

IbTimes
Penganut Syiah berkumpul di Karbala
Bagikan:

Hidayatullah.com–Ribuan peziarah Iran berkumpul di kota yang dianggap suci oleh kaum Syiah di Karbala pada hari Ahad (11/09/2016) setelah tidak diizinkan mengikuti ibadah tahunan haji di Makkah.

Sebelumnya, akhir Mei lalu, Iran menyalahkan Arab Saudi yang dinilai “menyabotase” dan gagal menjamin keselamatan para peziarah atas musibah di Mina.

Hubungan antara kedua negara ini menurun setelah ratusan warga Iran meninggal pada tragedi Haji tahun lalu dan setelah Riyadh memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran ketika kantor Kedutaannya di Tehran diserang pada awal Januari karena pengeksekusian ulama Syiah Syeikh al-Nimr.

Menolak Perjanjian dengan Saudi, Iran Larang Warganya Haji

Di saat kaum Muslim sedang melaksanakan Hari Arafah, peziarah Iran justru melaksanakannya di tempat suci Imam Hussein dan saudaranya Abbas di Karbala, sekitar 80 kilometer barat daya Baghdad.

“Saya mengira jumlah peziarah mencapai sejuta, sekitar 75% mereka orang Iran,” kata Adel al-Mussawi, petugas tempat suci tersebut laman al-monitor.com.

Menurut mereka, mengunjungi kuil Imam Hussein tidak memiliki nilai ibadah yang sama sebagaimana haji, yang merupakan salah satu rukun Islam dan kewajiban bagi muslim yang mampu melaksanakannya, setidaknya sekali seumur hidup. Namun bagi para penganut aliran Syiah ini merasa lebih nyaman ketika di Karbala ketimbang di Makkah.

“Karbala normal bagi kami. Kami selalu datang kemari. Tahun ini mereka menutup jalan (menuju Makkah) dan tidak ada yang bisa pergi,” kata Syukrullah, peziarah Iran.

“Konflik Saudi-Iran memaksa orang Iran pergi ke Karbala untuk mengunjungi kuil Imam Hussein,” kata Mussawi, “bagi orang Syiah, ini (mengunjungi Karbala) seperti pahala 70 kali naik haji,” tambahnya.

Tak seperti Syukrullah, Nashirah, wanita asal Ahvaz, Iran, belum dapat menunaikan haji di Makkah dan memperkirakan perjalanan ke Karbala bisa menjadi kebiasaan bagi penganut Syiah.

“Di Iran, peziarah membayar untuk mendapatkan visa dan naik haji. Kami di Iran menunggu sangat lama bisa pergi. Bisa sampai 10 atau 15 tahun,” katanya. “Jadi saya bilang, ayo melakukan hari Arafah di Karbala,” kata Nashirah, merujuk kepada ibadah yang dilakukan ummat Syiah di hari Arafah yang jatuh pada hari ke dua ritual haji. “Jika kami di Karbala, ini adalah rumah Allah, maka tentu bisa dianggap haji bagi kami. Jadi, untuk beberapa tahun ke depan, kami akan pergi ke Karbala lagi – apa yang bisa kami lakukan?

Sementara itu, Kedutaan Besar Iran di Kuwait dan kantor urusan kepentingan Iran di Kairo berusaha mengklarifikasi pernyataan yang keluar, baik dari media maupun akademisi Sunni lainnya yang menyatakan bahwa Iran membuat tempat suci tandingan di Karbala.

“Tidak ada fatwa, yang dikeluarkan terkait penggantian ritual ziarah ke kuil Imam Hussein di Karbala untuk melakukan ritual haji di Makkah,” sebut pernyataan yang dikeluarkan Kedubes Iran di Kuwait, Rabu (14/9/2016). “Klaim demikian hanyalah dusta belaka.”

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa menurut tradisi Syiah, mengunjungi Karbala pada hari Arafah dianggap sebagai “amal baik”, bukan sebagai pengganti ritual haji.

Sebelum ini, stasiun televisi Indosiar memberitaan jamaah haji asal Iran ‘melakukan wukuf pada 9 Dzulhijjah’  di Karbala Iraq. Tayangan berita itu disiarkan pada Hari Senin, 12 September 2016 pada program acara Fokus Pagi.

“Pemerintah Arab Saudi melarang jamaah haji asal Iran melakukan ibadah di tanah suci Makkah sehingga mereka berziarah ke Karbala dan melakukan doa Arafah di kawasan Imam Husein,” sebut Indosiar.  

Penganut Syiah berkumpul di depan makam Imam Hussein di Karbala1

Penganut Syiah berkumpul di Karbala [ibTimes]

Namun rupanya, berita ini membuat reaksi kalangan Syiah.

“Tidak Fatwa yang memerintahkan pemindahan pelaksanaan ibadah haji ke makam Imam Hussein di Karbala sebagai pengganti di Makkah. Klaim seperti itu adalah bohong belaka,” kata pernyataan Kedutaan Iran di Kuwait sebagaimana dikutip laman pro Syiah, Satuislam.com.

Sementara itu, Ahmed Ali Ajiba, sekretaris jenderal Dewan Tertinggi Urusan Islam dikutip Arab News hari Senin (12/09/2016), mengatakan ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam, dan tempat dan waktunya telah ditentukan syariah.

Karena itu hal-hal sepeti itu sudah dimaklum di seluruh dunia Islam dan tidak boleh dilanggar dengan cara dan bentun apapun.*/Karina Chaffinch

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

China Merusak Masjid Etnis Hui

China Merusak Masjid Etnis Hui

4 Imam Mazhab adalah Imam Ahlus Sunnah yang Bersaudara

4 Imam Mazhab adalah Imam Ahlus Sunnah yang Bersaudara

Menantunya Kena Sanksi Amerika, Presiden Libanon Minta Bukti yang Mendasarinya

Menantunya Kena Sanksi Amerika, Presiden Libanon Minta Bukti yang Mendasarinya

Pangeran Bandar Pimpin Intelijen Saudi

Pangeran Bandar Pimpin Intelijen Saudi

Mahasiswa Bentrok dengan Polisi Afsel karena Koneksi Wi-fi Lambat

Mahasiswa Bentrok dengan Polisi Afsel karena Koneksi Wi-fi Lambat

Baca Juga

Berita Lainnya