Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

Wali Kota London Kritik Pelarangan Burkini di Prancis

Wali Kota London Sadiq Khan
Bagikan:

Hidayatullah.com—Kebijakan pemerintahan kota Paris Prancis melarang burkini mendapat tanggapan Wali Kota London, Sadiq Khan. Dalam kunjungannya ke Paris Kamis (25/08/2016) Khan mengecam larangan penggunaan baju renang yang biasa digunakan perempuan Muslim.

“Saya cukup tegas soal ini. Saya kira tak seorang pun boleh mengatur perempuan soal pakaian yang harus mereka kenakan. Titik. Sesederhana itu,” kata Khan kepada harian The Evening Standard.

“Saya tidak berpikir itu benar. Saya tidak mengatakan bahwa kami sempurna, tapi salah satu kegembiraan dari London adalah bahwa kami tidak hanya mentolerir perbedaan, kami menghormatinya, kami menerimanya, dan kami merayakannya.”

Khan menegaskan, tak ada aturan apapun bisa melarang perempuan mengenakan pakaian apapun yang mereka suka.

Burkini, pakaian renang yang biasa dikenakan perempuan Muslim belakangan menjadi pembicaraan di Prancis. Belum lama ini, beberapa tempat wisata di Prancis, khususnya pantai, melarang perempuan Muslim mengenakan burkini.

Sebelumnya, empat polisi Prancis bersenjata lengkap bersikap rasis dengan memaksa seorang perempuan Muslim melepas burkini di  Pantai Nice.

Standar Ganda Eropa: Burkini Dilarang, Baju Biarawati Bebas

Tindakan polisi di Pantai Nice tersebut terekam dalam gambar dan menjadi viral di dunia maya. Aksi ini juga menuai protes dimana-mana. Aksi protes yang menentang keputusan Prancis melarang burkini.

Puluhan perempuan yang menggelar aksi unjuk rasa itu membawa kursi pantai, pasir dan perangkat lainnya untuk menggelar “pesta pantai” di luar Kedubes Prancis.

“Jika burkini memungkinkan perempuan untuk datang ke pantai dan menikmati sinar matahari maka hal ini tak perlu dilarang,” kata koordinator unjuk rasa, Esmar Jeraj, seperti dikutip The Guardian.

“Larangan ini menunjukkan Islamofobia yang sangat besar,” lanjut Jeraj.

Anouar Kbibech, Presiden Dewan Iman Muslim Prancis (CFCM) mengaku prihatin perdebatan yang muncul atas kejadian tersebut. Ia mencemaskan munculnya stigmatisasi terhadap Muslim di Prancis. Sedangkan Wakil Wali Kota Nice mengatakan penghapusan Burkini adalah keharusan setelah serangan teroris mematikan bulan lalu.

“Ini suatu keharusan setelah peristiwa tanggal 14 Juli di Promenade des Anglais. Ini bukan kebiasaan dan kebiasaan umat Islam di Nice memakai (pakaian) seperti ini di pantai,” katanya dikutip BBC, Kamis (25/08/2016).

Baju renang muslim menjadi pembahasan setelah pemerintah Kota Cannes –Villeneuve-Loubet dan Sisco– memberlakukan larangan penggunaan burkini minggu lalu, dengan alasan pakaian ini ‘melanggar aturan sekularisme Prancis’.

Sementara itu, perancang burkini asal Australia mengatakan penjualannya mengalami peningkatan  sejak tiga Kota Prancis melarangnya.

Dianggap Tak Hormati Sekularisme, Prancis Larang Burkini

“Penjualan kami meningkat dan semakin mereka melarangnya, atau semakin mereka menolaknya, tidak berarti perempuan akan berhenti memakainya,” ujar desainer burkini, Aheda Zanetti kepada Reuters.*

Rep: Ama Farah
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Pasukan Prancis Mulai Angkat Ransel dari Afghanistan

Pasukan Prancis Mulai Angkat Ransel dari Afghanistan

Qatar Kembali Menjadi Tuan Rumah Putaran Berikutnya dari Pembicaraan Pemerintah Afghanistan-Taliban

Qatar Kembali Menjadi Tuan Rumah Putaran Berikutnya dari Pembicaraan Pemerintah Afghanistan-Taliban

Seorang Penumpang Pesawat Meninggal, Ebola Mulai Merambah Nigeria

Seorang Penumpang Pesawat Meninggal, Ebola Mulai Merambah Nigeria

Anggapan Bush Soal Demokrasi Pasca Saddam Meleset

Anggapan Bush Soal Demokrasi Pasca Saddam Meleset

Dewan Keamanan PBB Cabut Sanksi Atas Gulbuddin Hekmatyar

Dewan Keamanan PBB Cabut Sanksi Atas Gulbuddin Hekmatyar

Baca Juga

Berita Lainnya