Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

Pemakaman di Texas Akhirnya Mengakhiri Kebijakan Segregasi Rasis

Bagikan:

Hidayatullah.com—Sebuah kompleks pemakaman di Texas setuju untuk mengakhiri kebijakan rasisnya yang telah diberlakukan selama puluhan tahun, yaitu hanya menerima penguburan orang kulit putih, setelah digugat oleh seorang wanita yang abu suami Hispaniknya dilarang dikebumikan di sana.

Menurut dokumen pengadilan, kota Normanna, berpopulasi 113 jiwa, sekitar 75 mil arah tenggara dari San Antonio, menyediakan dua kompleks pemakaman selama puluhan tahun, yaitu satu untuk kalangan orang kulit putih dan satunya keturunan Amerika Latin.

Dorothy Barrera, wanita kulit putih dan ingin dimakamkan berdampingan dengan mendiang suami pasangan hidupnya selama 40 tahun, mengatakan Normanna Cemetery Association menolak mengubur abu kremasi Pedro Barrera, di San Domingo Cemetery. Pedro Barrera seorang Hispanik.

Dilansir Reuters Senin (25/7/2016), pihak pengelola pemakaman dan pengacaranya tidak bersedia memberikan komentar terkait masalah itu.

Pihak penggugat mengatakan bahwa San Domingo Cemetery yang telah berusia satu abad adalah kuburan khusus orang kulit putih yang menerapkan kebijakan segregasi rasial di alam kubur.

Menurut dokumen pengadilan, pengurus pemakaman menolak permintaan Dorothy Barrera karena “suaminya orang Meksiko” dan menyuruh janda itu untuk mengubur suaminya “di seberang” di pemakaman satunya “bersama-sama dengan orang Meksiko.”

Berdasarkan kesepakatan yang dicapai melalui hakim distrik Nelva Gonzales Ramos di pengadilan Corpus Christi, Texas, tergugat dilarang menolak pemakaman seorang individu di San Domingo Cemetery dengan alasan ras atau asal negaranya.

Sebelumnya tergugat mengaku telah menolak permintaan untuk menguburkan Pedro Barrera, tetapi menyangkal penolakan itu karena alasan rasis atau asal etnis.

“Tidak ada orang Latino yang dikubur di dalam area pagar San Domingo Cemetery, yang dibatasi dengan pagar kawat ayam,” kata tergugat seperti tercantum dalam dokumen pengadilan, seraya menambahkan bahwa hanya sekitar setengah dari warga di daerah itu orang Latino.*

Rep: Ama Farah
Editor: Dija

Bagikan:

Berita Terkait

Diduga Langgar Lockdown, Usai Pesta Pangeran Muda Belgia Terjangkit Covid-19

Diduga Langgar Lockdown, Usai Pesta Pangeran Muda Belgia Terjangkit Covid-19

Tutup Toko di Amerika, Kejayaan Toys ‘R’ Us Berakhir dengan Utang Miliaran Dolar

Tutup Toko di Amerika, Kejayaan Toys ‘R’ Us Berakhir dengan Utang Miliaran Dolar

Dihujani Ujaran Rasis dan Ancaman Maut dari Jemaatnya, Pendeta Nigeria Tinggalkan Paroki Jerman

Dihujani Ujaran Rasis dan Ancaman Maut dari Jemaatnya, Pendeta Nigeria Tinggalkan Paroki Jerman

Politisi Amerika Rancang Ikhwanul Muslimin Jadi “Organisasi Teroris”

Politisi Amerika Rancang Ikhwanul Muslimin Jadi “Organisasi Teroris”

Bangladesh Tetap Pindahkan Kelompok Pengungsi Muslim Rohingya ke Pulau Terpencil Meski Terdapat Protes

Bangladesh Tetap Pindahkan Kelompok Pengungsi Muslim Rohingya ke Pulau Terpencil Meski Terdapat Protes

Baca Juga

Berita Lainnya