Selasa, 16 Februari 2021 / 5 Rajab 1442 H

Internasional

Peningkatan Jumlah Anak yang Dipaksa jadi Buruh di Libanon

AP Foto
Seorang anak Suriah meminta di sebuah jalan di Kota Jdeideh utara timur ibukota Lebanon Beirut, 12 Januari, 2016
Bagikan:

Hidayatullah.com–Para ahli perbudakan memperingatkan pada hari Selasa (12/04/2016) bahwa kerja paksa di antara pengungsi Suriah, terutama anak-anak, meningkat di Libanon (Lebanon).

Sebuah laporan baru yang dikeluarkan oleh Freedom Fund, sebuah gerakan inisiatif internasional untuk melawan perbudakan, menemukan bahwa mayoritas pengungsi anak-anak yang berada di Lebanon dipaksa bekerja untuk sedikit atau tanpa mendapatkan uang.

Laporan tersebut yang berjudul Slavery and Exploitation of Syrian Refugees in Lebanon menyorot Bekaa Valley sebagai daerah perhatian khusus dalam kaitannya terhadap pekerja anak yang lazim terjadi di daerah tersebut.

“Salah satu LSM terkemuka (yang bekerja di daerah tersebut) memperkirakan bahwa antara 60 dan 70 persen anak-anak pengungsi Suriah bekerja, dengan angka pekerja anak lebih tinggi di Lembah Bekaa,” tulis laporan tersebut sebagaimana dimuat middleeasteye.net Selasa (12/04/2016).

“Ada permintaan yang kuat dari kalangan pengusaha Lebanon untuk pekerja anak dan banyak yang ditekan untuk melakukan pekerjaan terburuk untuk anak.”

Anak-anak di Lembah Bekaa sering ditugaskan melakukan pekerjaan pertanian dalam kondisi berbahaya.

“Saya tahu seorang gadis 12 tahun yang menyimpan mainannya ke dalam tas karena dia harus bekerja,” kata salah satu pekerja Lebanon kepada para pewawancara. “Dia tidak ingin orang-orang di kamp melihat dia bermain dengan mainannya dan berpikir dia masih muda dan tidak layak untuk bekerja.”

Menurut mereka yang diwawancarai untuk penelitian tersebut, ada permintaan yang tinggi di kalangan pengusaha Lebanon untuk anak-anak Suriah dan Palestina, karena mereka jauh lebih murah untuk dipekerjakan daripada orang dewasa – dan juga lebih patuh.

“Perbudakan dan perdagangan manusia adalah ilegal dan menjijikkan,” kata Nick Grono, CEO Freedom Fund, yang menyerukan “tindakan tegas” terhadap masalah tersebut.

“Tanpa intervensi yang signifikan dan tekad yang kuat, situasinya hanya akan memperburuk selama bagi ratusan ribu pengungsi yang berisiko terhadap eksploitasi ekstrim.”

Laporan tersebut juga menemukan pernikahan dini pada anak sangat lazim terjadi di kalangan masyarakat tersebut di mana keluarga tidak mampu untuk merawat masa depan mereka dan melihat pernikahan sebagai satu-satunya strategi yang mereka hadapi.

Beberapa keluarga sering menikahkan anak perempuan mereka dalam upaya untuk memberikan keamanan ekonomi, tapi bagi para gadis, ini bisa mengarah kepada kondisi mirip dengan perbudakan.

Menurut salah satu pengungsi yang diwawancarai untuk laporan tersebut, kerja paksa sudah menyebar yang bahkan sekarang hal itu dianggap normal.

“Dengan saudara saya, yang menjahit, majikannya akan mengambil sebagian dari gajinya dan menyimpannya. Dengan cara ini, dia harus terus bekerja untuk majikannya,” kata pengungsi yang tinggal di Beirut.

Grono menambahkan: “Kita tidak bisa lagi bilang kami tidak tahu. Eksploitasi pengungsi Suriah di Lebanon sudah menular dan saya mendorong pemerintah Libanon dan masyarakat internasional untuk menyetujui rekomendasi-rekomendasi dalam laporan tersebut.*/ Karina Chaffinch

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Angka Bunuh Diri tentara Inggris Sangat Tinggi

Angka Bunuh Diri tentara Inggris Sangat Tinggi

WikiLeaks: Film Amerika Ampuh “Rusak” Pemuda Saudi

WikiLeaks: Film Amerika Ampuh “Rusak” Pemuda Saudi

Ratusan Orang di Pakistan Meninggal akibat Gelombang Panas

Ratusan Orang di Pakistan Meninggal akibat Gelombang Panas

WHO Desak Pakistan Berlakukan Karantina Wilayah Secara Berselang

WHO Desak Pakistan Berlakukan Karantina Wilayah Secara Berselang

Sekjen OKI Menangis di Pengungsian Rohingya

Sekjen OKI Menangis di Pengungsian Rohingya

Baca Juga

Berita Lainnya