Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

Beijing Diselimuti Kabut Asap, Ribuan Pabrik Diminta Tutup

Bagikan:

Hidayatullah.com—China memerintahkan ribuan pabrik untuk menghentikan operasinya, setelah beberapa hari terakhir Beijing diselimuti kabut asap yang angkanya mencapai 24 kali lipat batas yang diperbolehkan.

Dilansir koran pemerintah China Daily hari Selasa (1/12/2015), pemerintah Beijing memerintahkan 2.100 industri berpolusi tinggi, sementara pabrik-pabrik lainnya diperintahkan untuk mengurangi pekerjaannya secara signifikan. Warga diminta sebisa mungkin tinggal di dalam rumah dan lalu lintas penerbangan membatalkan 30 jadwal dari Beijing dan Shanghai.

Lapisan kabut asap membatasi jarak pandang hingga hanya beberapa ratus meter saja dan menimbulkan bau tidak sedap, sehingga banyak warga menggunakan penutup hidung dan mulut ketika keluar rumah. Akibat kabut asap yang tebal dan minimnya jarak pandang, sejumlah ruas jalan di luar ibukota juga ditutup, kata Kementerian Transportasi China.

Sekolah-sekolah diminta menjaga siswa-siswanya agar tetap berada di dalam ruangan kelas, sementara sebuah sekolah harus tutup hari ini.

Kualitas udara di Beijing semakin memburuk sejak 27 November. Hari Ahad (29/11/2015), untuk pertama kalinya dalam kurun dua tahun terakhir, ibukota mendapatkan peringatan kabut asap warna jingga, simbol warna kedua polusi udara paling berbahaya. Keadaan di Beijing sebelah selatan paling buruk, di mana partikel terkecil di udara berdiameter 2,5 mikron mencapai kepadatan 900 mikrogram per meter kubik. Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan untuk menghindari bahaya kerusakan pada paru-paru, konsentarasi partikel terkecil di udara itu tidak boleh melebihi 25 mikrogram.

Keadaan polusi udara di China yang buruk beberapa terakhir ini bersamaan dengan keikutsertaan negeri tirai bambu itu dalam Konferensi Perubahan Iklim di Paris, yang dimulai awal Desember ini.

Presiden China Xi Jinping berjanji akan mengambil tindakan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, seraya menegaskan bahwa dia tidak yakin negara-negara miskin harus mengorbankan pertumbuhan ekonominya guna memangkas emisi gas rumah kaca mereka.

Keadaan lingkungan, terutama udara, di China semakin memburuk seiring dengan pertumbuhan pesat sektor industri dan meluasnya kepemilikan kendaraan motor kurun 10 tahun terakhir. Bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang melonjak tinggi, kota-kota di China termasuk kelompok kota terkotor di dunia.*

Rep: Ama Farah
Editor: Dija

Bagikan:

Berita Terkait

Istri Presiden Mesir Tolak Dipanggil Ibu Negara

Istri Presiden Mesir Tolak Dipanggil Ibu Negara

Polisi Inggris Melacak Tiga Pelajar Putri yang Diyakini Menuju Suriah

Polisi Inggris Melacak Tiga Pelajar Putri yang Diyakini Menuju Suriah

Brunei persiapkan Hukum Islam, LSM dan Barat Sibuk lakukan Kecaman

Brunei persiapkan Hukum Islam, LSM dan Barat Sibuk lakukan Kecaman

Turki Cabut Larangan Belajar Al-Quran untuk Anak-anak

Turki Cabut Larangan Belajar Al-Quran untuk Anak-anak

Mitsubishi Materials Akui Palsukan Data Kualitas Produk

Mitsubishi Materials Akui Palsukan Data Kualitas Produk

Baca Juga

Berita Lainnya