Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

Putra Bekas Presiden Iran Mulai Menjalani Masa Hukuman 10 Tahun Penjara

Mehdi Hashemi Rafsanjanii (tengah).
Bagikan:

Hidayatullah.com—Anak laki-laki mantan presiden Iran Akhbar Hashemi Rafsanjani hari Ahad (9/8/2015) mulai menjalani masa hukuman 10 tahun penjara atas tindakan kejahatan terkait finansial dan keamanan yang dilakukannya.

Mehdi Hashemi, pada bulan Maret lalu divonis penjara total 25 tahun setelah dinyatakan bersalah atas 3 dakwaan terpisah, terkait kejahatan keamanan nasional, penipuan dan penggelapan uang, lapor AFP.

Pria berusia 45 tahun itu juga diperintahkan untuk membayar sejumlah denda dan hukuman berupa uang yang tidak disebutkan secara terbuka jumlahnya. Dia juga dilarang memegang jabatan publik. Mehdi Hashemi kalah dalam gugatannya ditingkat banding.

Sidang peradilan atas Mehdi Hashemi dilakukan secara tertutup. Apa saja bukti-bukti yang diajukan dan kejahatan khusus apa yang dilakukannya tidak diketahui publik.

Media Iran melaporkan dia sudah tiba di Penjara Evin di Teheran, di mana dia membacakan sebuah pernyataan di depan wartawan yang isinya menuntut agar rekaman dari proses persidangannya dirilis ke publik.

Hashemi mengatakan bahwa kasus yang menjerat dirinya bermotif politik. Dia bilang dakwaan atas dirinya tidak adil dan tidak sah.

Ayah Mehdi, Akhbar Hashemi Rafsanjani, menjabat sebagai presiden Iran dari tahun 1989 hingga 1997. Akhbar yang kini berusia sekitar 80-an tahun masih memiliki pengaruh di Iran. Dia dilarang ikut pemilihan presiden tahun 2013, tetapi memberikan dukungannya kepada Hassan Rouhani, tokoh spiritual Syiah Iran yang dikenal moderat, yang kemudian menang menggantikan Mahmoud Ahmadinejad.

Mehdi Hashemi dituduh terlibat dalam aksi protes massa menyusul pemilihan presiden 2009 yang diperselisihkan hasilnya. Pemilu ketika itu dimenangkan politisi garis keras Mahmoud Ahmadinejad.

Diancam bakal ditangkap, putra Hashemi itu melarikan diri ke Inggris. Dia kembali ke tanah air pada Desember 2012, tetapi kemudian ditangkap untuk diperiksa dan dijebloskan dalam tahanan selama tiga bulan, sebelum akhirnya dibebaskan dari kurungan dengan uang jaminan.

Di tahun 2000-an namanya pernah tersangkut masalah hukum, ketika muncul dalam kasus yang melibatkan perusahaan minyak asal Norwegia Statoil dan Total asal Prancis.

Kedua perusahaan minyak itu dicurigai membayar uang suap untuk bisa mendapatkan akses terhadap sumber-sumber hidrokarbon Iran, ketika Hashemi masih menjadi pejabat senior industri perminyakan di Iran.*

Rep: Ama Farah
Editor: Dija

Bagikan:

Berita Terkait

Washington: Dana Pengungsi Palestina $65 Juta Ditahan Bukan untuk Menghukum

Washington: Dana Pengungsi Palestina $65 Juta Ditahan Bukan untuk Menghukum

Pemberontak Syiah al Houthi Ancam 300 Fasilitas Militer Vital Saudi

Pemberontak Syiah al Houthi Ancam 300 Fasilitas Militer Vital Saudi

Demonstran Skotlandia Serukan Persatuan Palestina

Demonstran Skotlandia Serukan Persatuan Palestina

Turki Mengecam Pernyataan ‘Arogan’ Macron Terkait Krisis Mediterania Timur

Turki Mengecam Pernyataan ‘Arogan’ Macron Terkait Krisis Mediterania Timur

DK PBB Gagal Keluarkan Resolusi Untuk Rezim Assad

DK PBB Gagal Keluarkan Resolusi Untuk Rezim Assad

Baca Juga

Berita Lainnya