Rabu, 1 Desember 2021 / 25 Rabiul Akhir 1443 H

Internasional

Dilarang Gunakan Etnis Rohingya, Ekstimis Buddha Khawatir Islam Rebut Kekuasaan

Voice of America
Sebagian ekstremis Buddha di Myanmar, khawatir orang-orang Muslim akan mengambil alih kekuasaan
Bagikan:

Hidayatullah.com– Pemerintah Myanmar bulan ini melanjutkan proses untuk memberikan kewarganegaraan kepada orang-orang yang sejak lama tidak punya kewarganegaraan.

Proses itu mewajibkan warga Rohingya untuk tidak menggunakan nama yang telah lama mereka gunakan dan harus menyebut diri mereka sebagai orang-orang “Bengali,” yang merujuk pada orang-orang dari Bangladesh.

Di Rakhine, kelompok minoritas Muslim yang disebut Rohingya semakin putus asa sejak kerusuhan etnis mengoyak komunitas itu tiga tahun lalu.

“Kami perlu pekerjaan dan pendidikan. Kami tidak punya uang,” kata Ali, seorang pria Rohingya dikutip Voice of America (VOA).

Aung Minglar adalah satu-satunya permukiman warga Muslim di Sittwe dan pernah dilanda kekerasan tahun 2012. Sebagian besar penduduk di sini menyebut diri mereka Rohingya. Menurut mereka, ancaman kekerasan serta diskriminasi karena dilarang memperoleh kewarganegaraan adalah akar dari berbagai masalah.

Seorang bernama Shwe La mengatakan meskipun kekerasan itu telah berhenti, situasinya tetap mengerikan karena warga Rohingya tidak bisa pergi kemanapun karena khawatir akan keselamatan mereka.

“Setelah tiga tahun, meskipun tidak ada aksi-aksi kekerasan, situasi sosial, kesehatan dan ekonomi kami tidak membaik karena kami tidak diperbolehkan keluar dari wilayah kami dengan bebas,” keluhnya.

Agama Islam juga telah menjadi isu panas di Myanmar yang mayoritas penduduknya beragama Buddha. Ada pihak-pihak yang membentuk opini publik untuk menentang Muslim.

Aye Lwin adalah seorang Muslim aktivis lintas agama di Yangon yang bukan orang Rohingya. Ia mengatakan, “Yang terjadi akhir-akhir ini adalah agama dipolitisir oleh orang-orang yang punya kepentingan tertentu.”

Sebagian pemimpin ekstremis Buddha, baik di dalam Rakhine maupun di wilayah lain di Myanmar, khawatir orang-orang Muslim akan mengambil alih kekuasaan di sana.

Kekahawatiran itu dirasakan oleh warga negara bagian Rakhine, seperti Mya Sein yang tinggal di kota Sittwe.

“Kami khawatir akan pengaruh orang-orang Bengali di wilayah ini. Itulah sebabnya kami khawatir dengan masuknya orang-orang Bengali kesini,” tutur Mya Sein.

Gubernur negara bagian Rakhine Maung Maung Ohn mengatakan agama tidak ada kaitannya dengan isu kewarganegaraan bagi warga Rohingya, yang disebutnya sebagai orang-orang Bengali.

“Sebagian orang masih menolak untuk menggunakan istilah Bengali dan ikut dalam proses itu. Jadi masalahnya, apakah mereka menginginkan kewarganegaraan Myanmar atau etnisitas Rohingya?,” kata Gubernur.

Sebagian besar warga Rohingya yang berbicara kepada VOA mengatakan tidak akan pernah mau mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Bengali, sehingga mereka tidak berhak mengikuti proses kewarganegaraan itu.

“Rohingya, Rohingya,” kata kerumunan massa di sana.

Karena warga Rohingya dan pemerintah sama-sama berkeras dengan pandangan masing-masing, kebuntuan yang memecah komunitas masyarakat di negara bagian Rakhine ini agaknya masih akan terus berlanjut.*

 

Rep: Panji Islam
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

‘Pesta Minum Air Kecing Sapi’ di India, Diyakini Obat Tangkal Corona

‘Pesta Minum Air Kecing Sapi’ di India, Diyakini Obat Tangkal Corona

Yaman Menolak Misi Penjaga Perdamaian PBB di Hudaida

Yaman Menolak Misi Penjaga Perdamaian PBB di Hudaida

‘Israel’ Terperangah Kritikan Keras Saudi di KTT Bahrain

‘Israel’ Terperangah Kritikan Keras Saudi di KTT Bahrain

China Lindungi Al-Quran Berusia Seribu Tahun Lebih

China Lindungi Al-Quran Berusia Seribu Tahun Lebih

Pemerintah Libya Memburu Stasiun TV Pro-Qadhafi

Pemerintah Libya Memburu Stasiun TV Pro-Qadhafi

Baca Juga

Berita Lainnya