Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

Setelah Pria, Giliran Wanita Mesir Dilarang Pergi ke Turki

Bagikan:

Hidayatullah.com—Mesir memberlakukan larangan bepergian ke negara Turki bagi warganegara wanitanya, beberapa bulan setelah Kairo mengeluarkan kebijakan serupa bagi laki-laki guna mencegah mereka dari bergabung dengan kelompok ISIS/ISIL.

Perempuan berusia 18 hingga 40 tahun sekarang harus mendapatkan izin dari pihak keamanan sebelum melakukan perjalanan ke Turki, kata seorang anggota kepolisian senior kepada AFP, tanpa menjelaskan apa alasannya.

“Izin dari pihak keamanan bisa didapat dalam kurun waktu 72 jam, dan sekarang itu menjadi keharusan bagi wanita yang ingin bepergian ke negara ini (Turki),” kata petugas kepolisian itu dikutip AFP Senin (18/5/2015).

Pembatasan itu berlaku mulai 14 Mei 2015, kata seorang petugas bandara di ibukota Kairo.

Pada bulan Maret, Darul Ifta memperingatkan para wanita Mesir untuk tidak menikah dengan anggota-anggota ISIS/ISIL yang dikenalnya lewat internet, yang mengajak mereka untuk pergi ke wilayah yang dikuasai kelompok itu di Iraq dan Suriah.

Pembatasan bepergian ke Turki untuk laki-laki Mesir sudah diberlakukan sejak Desember tahun lalu. Peraturan serupa berlaku untuk mereka yang ingin pergi ke Libya.

Turki –dan sekarang Libya– sejak berkecamuknya perang saudara di Suriah menjadi pintu masuk bagi warganegara asing yang ingin bergabung dengan kelompok-kelompok bersenjata di sana.

Di dalam negeri, Mesir kerap mengalami serangan bersenjata dan bom sejak dilengserkannya Muhammad Mursy dari kursi kepresidenan. Di antara kelompok yang mengaku sebagai pelaku serangan mengatakan mereka melakukan aksinya sebagai balasan atas dilengserkannya Mursy. Kelompok-kelompok bersenjata di wilayah Sinai juga ada yang menyatakan janji setia kepada ISIS/ISIL dan Negara Islam bentukan kelompok itu.

Mursy pada hari Sabtu (16/5/2015) telah divonis hukuman mati bersama lebih dari 100 orang terdakwa lainnya dalam kasus pembobolan penjara secara massal, saat terjadi demonstrasi rakyat menuntut pengungduran diri Husni Mubarak pada Januari 2011. Mursy adalah salah satu narapidana yang ikut melarikan diri dari penjara.

Hubungan Ankara-Kairo memburuk sejak Mursy dilengserkan dari kursi presiden. Dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan kecaman kerasnya atas vonis mati yang diberikan kepada Mursy.

Mesir menuding Ankara sebagai “pendukung terorisme”, sementara Turki menuding Kairo telah melakukan kudeta atas pemerintahan Muhammad Mursy.*

Rep: Ama Farah
Editor: Dija

Bagikan:

Berita Terkait

Fidel Castro: Iran Tidak akan Perang dengan AS

Fidel Castro: Iran Tidak akan Perang dengan AS

Saudi Bantah Tuduhan Al Ikhwan Soal Mubarak

Saudi Bantah Tuduhan Al Ikhwan Soal Mubarak

Mullah Hemmatullah Terbunuh Bersama  10 Milisi Taliban

Mullah Hemmatullah Terbunuh Bersama 10 Milisi Taliban

Xi Jinping: Tak Ada Pemenang dalam Perang Dagang

Xi Jinping: Tak Ada Pemenang dalam Perang Dagang

Politisi Ternama Nigeria Curi Uang Negara $19,6 Juta

Politisi Ternama Nigeria Curi Uang Negara $19,6 Juta

Baca Juga

Berita Lainnya