Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

Hakim Prancis Akhiri Pemeriksaan Bukti Kasus Kematian Yassir Arafat

Yasser Arafat dan istrinya, Suha.
Bagikan:

Hidayatullah.com—Para hakim di Prancis yang mengkaji ulang bukti-bukti terkait kasus kematian pemimpin Palestina Yasser Arafat tahun 2004 telah menuntaskan investigasi mereka, kata kantor kejaksaan di wilayah pingggiran ibukota Paris, Nanterre, Selasa (5/5/2015).

“Para hakim telah menutup berkas mereka dan mengirimkannya ke kejaksaan pada 30 April,” kata pihak kejaksaan dilansir AFP.

Jaksa sekarang punya waktu tiga bulan untuk memutuskan apakah tidak akan memasukkan gugatannya atau melanjutkan kasus itu ke pengadilan.

Sambil menunggu kejaksaan, para pihak yang berkepentingan dalam kasus itu dapat mengajukan disposisi tertulis.

Jika tidak ada nama terdakwa dalam kasus terkait kematian Afarat yang dipermasalahkan ini, maka sepertinya gugatan tidak akan dimasukkan ke pengadilan.

Yassir Arafat meninggal dunia dalam usia 75 tahun pada 11 Nopember 2004 di Rumah Sakit Percy de Clamart, tidak jauh dari kota Paris. Pemimpin PLO itu dilarikan ke Paris pada akhir Oktober setelah menderita sakit di bagian perut saat berada di markas besarnya di Ramallah, Tepi Barat, tempat di mana dia dikepung oleh pasukan Zionis sejak Desember 2001 sehingga tidak dapat pergi ke mana-mana.

Janda Afarat, Suha, mengajukan pengaduan ke pengadilan di Nanterre tahun 2012, dengan menyatakan bahwa suaminya meninggal karena dibunuh.

Sebelum pengaduan itu diajukan, sebuah pusat penelitian di kota Lausanne, Swiss, melakukan tes biologis atas barang-barang pribadi Arafat yang diserahkan oleh Suha ke lembaga itu untuk diperiksa. Termasuk barang pribadi yang diperiksa adalah pakaian terakhir yang dikenakan Arafat saat kematiannya.

Hasil penelitian laboratorium menunjukkan bahwa terdapat kadar polonium tidak wajar pada barang-barang pribadi Arafat tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan ada kemungkinan Arafat terkena racun radiokatif polonium tingkat tinggi.

Makam Arafat di Ramallah pun kemudian dibongkar untuk mendapatkan sampel guna penelitian lebih lanjut. Terbukti, jejak atau sisa-sisa racun polonium itu masih ditemukan.

Namun, bulan lalu Catherine Denis dari kantor kejaksaan di Nanterre menyatakan bahwa polonium-210 dan lead-210 yang terdapat pada sampel dari makam Arafat berasal dari alam lingkungan di sekitar makam.

Polonium-210 menjadi dikenal publik menyusul kematian bekas agen intelijen Rusia, Alexander Litvinenko. Penentang keras Presiden Putin itu meninggal dunia di rumah sakit di London akibat keracunan radioaktif. Dua orang agen intelijen Rusia yang ditemui Litvinenko sebelum kematiannya di sebuah restoran dinyatakan sebagai tersangka yang diburu Kepolisian Inggris. Namun, Rusia menolak untuk mengekstradisi kedua orang itu.

Menyusul perkembangan terakhir mengenai kasus kematian Arafat di Nanterre, pengacara yang mewakili Suha Arafat belum dapat dihubungi untuk diminta komentarnya, lapor AFP.*

Rep: Ama Farah
Editor: Dija

Bagikan:

Berita Terkait

Erdogan Berkunjung ke Korea Selatan

Erdogan Berkunjung ke Korea Selatan

Istri Presiden Suriah Terancam Tak Bisa Shopping ke Eropa

Istri Presiden Suriah Terancam Tak Bisa Shopping ke Eropa

Maroko Protes Kapal Aborsi Belanda

Maroko Protes Kapal Aborsi Belanda

Mantan Menhan Israel Bangga Membunuh Sebagian Besar Rakyat Palestina

Mantan Menhan Israel Bangga Membunuh Sebagian Besar Rakyat Palestina

Elbaradei: AS Harus Berhenti Mendukung Diktator Mubarak

Elbaradei: AS Harus Berhenti Mendukung Diktator Mubarak

Baca Juga

Berita Lainnya