Partai Netanyahu Kalah Populer dalam Jajak Pendapat Menjelang Pemilu

Aliansi partai Arab-Israel yang baru dibentuk, The Join List, berada di urutan ketiga dengan mendapatkan 13 kursi.

Partai Netanyahu Kalah Populer dalam Jajak Pendapat Menjelang Pemilu
CNN
Warga Israel di Tel Aviv memprotes kebijakan PM Benyamin Netanyahu

Terkait

Hidayatullah.com—Hasil jajak pendapat terakhir beberapa hari menjelang pemilu yang dirilis hari Jumat (13/3/2015) menunjukkan popularitas partai Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Likud, kalah populer 4 kursi dibanding pesaingnya dari aliran tengah-kiri.

Dilansir AFP dari koran terlaris Zionis Yediot Aharonot, pesaing terberat Likud adalah koalisi Zionist Union yang unggul 26 kursi dari 120 kursi parlemen dibanding Partai Likud yang mendapatkan 22 kursi.

Menurut jajak pendapat yang dilakukan Mina Tzemach atas 1.032 responden dengan margin of error 2,5 persen itu, aliansi partai Arab-Israel yang baru dibentuk, The Join List, berada di urutan ketiga dengan mendapatkan 13 kursi.

Sementara itu jajak pendapat oleh Panels Research yang dipublikasikan bersama oleh The Jerusalem Post dan Maariv menunjukkan Partai Likud juga tertinggal 4 kursi dari Zionist Union yang mendapatkan 25 kursi.

Dengan responden sebanyak 1.300 orang, The Join List dalam jajak pendapat Panels Research itu juga mendapatkan 13 kursi.

Hari Jumat ini adalah batas akhir resmi di mana hasil-hasil jajak pendapat secara legal boleh dipublikasikan sebelum memasuki masa pemilu.

Zionist Union dimotori Partai Buruh pimpinan Isaac Hertzog dan partai aliran tengah HaTnuah pimpinan Tzipi Livni, mantan kepala perunding perdamaian dengan Palestina.

Dalam sejumlah jajak pendapat beberapa waktu terakhir, koalisi itu nampak terus unggul dari Likud. Termasuk dalam jajak pendapat yang dilakukan oleh koran sayap kiri Haaretz yang dirilis hari Kamis, di mana koalisi itu menang 24 kursi dan Likud 21 kursi.

Dalam survei itu, lagi-lagi The Join List mendapatkan 13 kursi.

Sistem elektoral yang dipakai Israel menjadikan pemerintahan yang terbentuk bukan dikuasai oleh partai terbesar, melainkan oleh partai apapun yang bisa memimpin sebuah koalisi yang memenangkan kursi terbanyak di parlemen.*

Rep: Ama Farah

Editor: Dija

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !