Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

Sebelum Mangkat Raja Abdullah Telah Tetapkan Aturan Suksesi Kerajaan Saudi

Ilustrasi
Bagikan:

Hidayatullah.com—Sebelum Raja Abdullah mangkat pada hari Jumat (23/01/15),  ia telah menetapkan aturan baru menyangkut suksesi dalam monarki Arab Saudi. Tujuannya untuk mencegah percekcokan dan perpecahan di kalangan keluarga kerajaan.

Aturan baru terkait suksesi di Kerajaan Saudi ini telah ditetapkan mekanismenya pada tahun 2006 silam.

Raja Abdullah bin Abdulaziz al Saud pada Oktober 2006 menetapkan mekanisme baru untuk menegaskan urutan suksesi di kerajaan yang kaya berkat ekspor minyak itu. Ia membentuk “Majelis Loyalitas” yang beranggotakan 35 orang keturunan pendiri dinasti Abdulaziz al Saud, untuk memutuskan suksesi.

Anggota majelis bertugas selama 4 tahun dan hanya bisa diperpanjang dengan konsensus keluarga serta restu raja.

Berdasarkan hukum di Arab Saudi yang berhak menduduki tahta kerajaan hanya keturunan langsung, anak atau cucu dari Abdulaziz yang wafat 1953.

Raja Abdulazis memiliki 37 putra dan yang paling terkenal adalah tujuh putra dari istrinya Hassa al Sudairi yang dijuluki “Tujuh Sudairi”. Raja Salman bin Abdul Aziz Al Saud yang baru saja naik tahta adalah salah satu dari tujuh Sudairi.

Majelis dipimpin oleh pangeran Mishaal bin Abdulaziz al Saud, putra tertua yang masih hidup. Penentuan pangeran mahkota dilakukan lewat pemungutan suara secara rahasia, dan calon yang mendapat dua pertiga suara dinyatakan sebagai pangeran mahkota yang akan menggantikan raja yang berkuasa jika ia meninggal atau berhalangan tetap.

Majelis mendapat tugas resmi “untuk mempertahankan kesatuan dan kerukunan keluarga kerajaan, serta persatuan negara dan kepentingan rakyat.”

Jika raja meninggal, majelis menggelar sidang luar biasa, untuk menetapkan pangeran mahkota sebagai raja baru.

Raja baru dalam waktu 10 hari setelah diangkat, harus mengajukan tiga kandidatnya kepada majelis untuk dipilih menjadi pangeran mahkota baru.

Majelis punya otoritas menolak calon yang diajukan raja, dan memilih calon sendiri. Raja juga punya hak menolak calon dari majelis. Jika terjadi sengketa itu, majelis memiliki waktu sebulan untuk menggelar pemungutan suara antara calon dari raja dan calon yang diajukan majelis, kutip Deutsche Welle.

Mendiang Raja Abdullah juga menetapkan komisi kesehatan beranggotakan lima orang, tiga diantaranya dokter, untuk menegaskan kondisi kesehatan pangeran mahkota untuk melanjutkan tugasnya.

Sebelum mekanisme baru ini ditetapkan oleh Raja Abdullah pada 2006, pemilihan pangeran mahkota biasanya dilakukan dengan cara konsensus informal di kalangan keluarga kerajaan.*

Rep: Panji Islam
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Ribuan Dokumen Rahasia Hankam Australia Ditemukan di Toko Loak

Ribuan Dokumen Rahasia Hankam Australia Ditemukan di Toko Loak

PBB Tetapkan Embargo Senjata Pemberontak Hautsi

PBB Tetapkan Embargo Senjata Pemberontak Hautsi

Kabinet New South Wales Tolak Larangan Cadar

Kabinet New South Wales Tolak Larangan Cadar

Anwar Konfirmasi Pakatan Mencalonkannya sebagai PM Malaysia

Anwar Konfirmasi Pakatan Mencalonkannya sebagai PM Malaysia

Ron Paul: Sekolah Amerika Mesin Propaganda Pemerintah

Ron Paul: Sekolah Amerika Mesin Propaganda Pemerintah

Baca Juga

Berita Lainnya