Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

Bicara di Persidangan, Mursy Masih Menyebut Dirinya Presiden Mesir yang Sah

Mantan Presiden Mesir Mohammad Mursy
Bagikan:

Hidayatullah.com–Mantan presiden Mesir Muhammad Mursy hari Ahad (18/1/2015) berkesempatan melakukan pembelaan di persidangan untuk pertama kalinya sejak dilengserkan, di mana dia mengklaim tidak bersalah dalam dakwaan spionase dan menyebut dirinya masih sebagai presiden Mesir yang sah.

“Saya masih presiden yang sah negara ini, yang mendapat kekuasaan lewat pemilihan umum yang fair,” kata Mursy di Pengadilan Pidana Kairo dikutip Ahram Online.

Dalam kesempatan itu Mursy menegaskan kembali argumen yang sering dikemukakan pendukungnya, yang menyebut pelengserannya sebagai coup d’état (kudeta).

Berbicara selama dua jam dalam kasus spionase, Mursy mengenang saat-saat di mana dia ditahan oleh kepala pasukan penjaga istana Muhammad Zaki.

“Saya katakan padanya, ‘Apa kamu gila?’ Kamu (seharusnya) yang mendapat perintah dari saya,” kata Mursy.

Dalam kasus spionase Mursy diadili bersama 35 orang lainnya. Mereka dituduh berkolaborasi dengan Hamas untuk melakukan aksi teror di dalam wilayah Mesir.

Mursy membantah tuduhan itu. Dia menegaskan bahwa laporan tim pencari fakta yang dikeluarkan atas permintaannya saat menjabat sebagai presiden tahun 2012, menunjukkan bahwa sebuah “entitas kekuasaan” yang berafiliasi dengan “pemimpin kudeta” terlibat dalam Pertempuran Unta, sebutan untuk salah satu kasus bentrokan yang terjadi ketika demonstrasi besar rakyat selama 18 hari menentang rezim Husni Mubarak.

Mursy mengatakan bahwa menurut kesaksian para pekerja di hotel-hotel yang menghadap ke arah Lapangan Tahrir, di mana bentrokan itu terjadi, menunjukkan orang-orang yang berada di atas atap adalah mereka yang memiliki kartu identitas dari “entitas” tersebut.

Presiden Mesir saat ini, Abdul Fattah Al-Sisi, pada masa itu merupakan kepala intelijen militer. Kemudian ketika dan selama Mursy menjabat sebagai presiden Al-Sisi diangkat sebagai menteri pertahanan.

Dalam persidangan Mursy juga menolak mengakui kewenangan majelis hakim untuk mengadili dirinya. “Anda bukan hakim-hakim saya dan ini bukan persidangan saya,” ujarnya. Meskipun demikian, dalam menyampaikan pernyataannya Mursy menampakkan penghormatan kepada majelis hakim

Menurut Mursy, alasan mengapa dirinya didepak dari kekuasaan adalah karena ketika itu parlemen yang mayoritas kursinya diduduki oleh politisi dari partai Islam (kebanyakan berasal dari partainya Al-Ikhwan, red), berseteru dengan pemerintah yang dipimpin oleh Kamal El-Ganzouri, salah satu tokoh terkemuka era Mubarak.

“El-Ganzouri mengatakan kepada El-Katatni [juru bicara perlemen (= pimpinan parlemen) yang merupakan tokoh Al-Ikhwan] …’ada sebuah pengajuan banding yang tersimpan di laci mahkamah konstitusi yang akan membubarkannya (parlemen),” kata Mursy menirukan perkataan El-Ganzouri.

Pada tahun 2012 majelis rendah parlemen dinyatakan oleh mahkamah harus dibubarkan, sebab proses pemilihan dalam pembentukannya tidak konstitusional. Majelis tinggi kemudian menyusul dibubarkan pada tahun 2013 sebagai bagian dari peta politik yang berujung pada pelengseran Mursy dari kursi kekuasaan.

Persidangan kasus spionase Mursy akan dilanjutkan pada 21 Januari.*

Rep: Ama Farah
Editor: Dija

Bagikan:

Berita Terkait

Warga China Pewarta Pandemi Coronavirus Wuhan Terancam Bui

Warga China Pewarta Pandemi Coronavirus Wuhan Terancam Bui

Satu Mahasiswa Positif Covid-19, Universiti Utara Malaysia Lockdown Kampus

Satu Mahasiswa Positif Covid-19, Universiti Utara Malaysia Lockdown Kampus

Pengelola Bar di Myanmar Diperkarakan karena Buddha Pakai Headphone

Pengelola Bar di Myanmar Diperkarakan karena Buddha Pakai Headphone

Erdogan, Dunia Juga Harus Selidiki Nuklir Israel

Erdogan, Dunia Juga Harus Selidiki Nuklir Israel

Politisi Jerman Beda Pendapat Soal Innocence of Muslims

Politisi Jerman Beda Pendapat Soal Innocence of Muslims

Baca Juga

Berita Lainnya