Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

Marxis Turki Batalkan Pengakuan sebagai Pelaku Bom Bunuh Diri di Sultanahmet

Bagikan:

Hidayatullah.com–Sebuah kelompok kanan-jauh Turki hari Jumat (9/1/2015) menarik kembali pernyataannya yang berisi klaim bahwa mereka bertanggungjawab atas kasus bom bunuh diri yang diakukan seorang wanita di kantor polisi di kawasan wisata Sultanahmet, Istanbul, lansir Reuters.

Seorang wanita memasuki kantor polisi di distrik bersejarah Sultanahmet hari Selasa (6/1/2015), mengatakan dalam bahasa Inggris bahwa dia kehilangan dompet, sebelum akhirnya meledakkan diri sehingga seorang petugas polisi tewas dan seorang lainnya terluka.

Beberapa jam setelah kejadian itu, sebuah pernyataan dalam website milik Front-Partai Revolusi Pembebasan Rakyat (DHKP-C) yang beraliran Marxis-Leninis mengatakan bahwa anggota mereka yang melakukan peledakan tersebut.

Namun pada hari Jumat kemarin kelompok itu menarik pernyataannya, dengan mengatakan bahwa mereka melakukakan kesalahan sebab sebenarnya mereka sedang aktif merencakan sebuah serangan sendiri “yang kebetulan bersamaan dengan insiden Sultanahmet.” Tetapi kelompok militan Marxis yang dibentuk pada tahun 1978 itu tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai serangan yang direncanakannya itu. [Baca juga; Bom bunuh diri di kantor polisi Istanbul balas dendam untuk Berkin Elvan]

Koran-koran Turki pekan ini melaporkan bahwa pelakunya adalah seorang wanita Rusia yang sedang hamil dan dinas intelijen kepolisian sedang menyelidiki kemungkinan kaitannya dengan kelompok Al-Qaidah.

Menteri Dalam Negeri Efkan Ala mengatakan polisi telah mengidentifikasi identitas pelaku, tetapi dia mengatakan tidak tepat jika dirinya memberikan penjelasan lebih lanjut soal itu.

DHKP-C memiliki kaitan akar dengan gerakan komunis di Turki yang aktif pada tahun 1970an. Kelompok itu sudah beberapa kali melakukan serangan dengan target aparat keamanan. Serangan terbaru dilakukan pada 1 Januari kemarin, ketika seorang pria melemparkan bom rakitan ke arah petugas kepolisian.

Serangkaian penangkapan di seluruh penjuru Turki dan Eropa selama sepuluh tahun terakhir secara signifikan telah melemahkan kelompok bersenjata itu. Namun, para pakar menilai kelompok Marxis itu masih menjadi ancaman serius.

Turki, Amerika Serikat dan Uni Eropa memasukkan DHKP-C ke dalam daftar organisasi teroris.*

Rep: Ama Farah
Editor: Dija

Bagikan:

Berita Terkait

NATO Masih akan Terus Bombardir Libya

NATO Masih akan Terus Bombardir Libya

Lebih dari 700 Orang Palestina Terbunuh di Suriah

Lebih dari 700 Orang Palestina Terbunuh di Suriah

Citra Organisasi Bantuan Amerika Tercoreng

Citra Organisasi Bantuan Amerika Tercoreng

Tahun 2019 Rekor Pembunuhan Massal di Amerika Serikat

Tahun 2019 Rekor Pembunuhan Massal di Amerika Serikat

Australia Berikan Sanksi Lima Jenderal Myanmar

Australia Berikan Sanksi Lima Jenderal Myanmar

Baca Juga

Berita Lainnya