Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

Pemred Charlie Hebdo Pernah Mengatakan: “Muhammad Tidak Suci Bagi Saya”

Stephane Charbonnier -pemimpin redaksi majalah satir Prancis, Charlie Hebdo
Bagikan:

Hidayatullah.com–Stephane Charbonnier -pemimpin redaksi majalah satir Prancis, Charlie Hebdo- merupakan salah satu dari empat kartunis yang tewas dalam serangan pembunuhan dengan korban jiwa total 12 orang.

Pria berusia 47 tahun yang dipanggil Chard itu sudah beberapa kali menerima ancaman pembunuhan dan pernah mendapat perlindungan dari polisi.

Kartun rutinnya di majalah Charlie Hebdo diberi judul ‘Chard tidak suka orang’.

Para kartunis di majalah beraliran politik kiri itu dikenal dengan nama panggilan dan tiga kartunis lain yang juga tewas adalah Cabu, Tignous, dan Wolinski.

Laporan-laporan mengatakan Chard sedang menggelar rapat redaksi ketika dua pria bersenjata yang mengenakan topeng menyerbu masuk dan melepas tembakan dengan senapan mesin Kalashnikov.

Chard selama ini dengan teguh membela keputusan Charlie Hebdo memuat kartun yang melecehkan Nabi Muhammad.

“Muhammad tidak suci bagi saya,” jelasnya dalam wawancara dengan kantor berita AP pada tahun 2012, ketika kantor Charlie Hebdo terbakar karena serangan bom molotov.

“Saya hidup berdasarkan undang-undang Prancis. Saya tidak hidup berdasarkan undang-undang Al Quran,” tambahnya dikutip BBC.

Tahun 2007 Charlie Hebdo harus membela diri di pengadilan sehubungan dengan kartun Nabi Muhammad, yang dicetak ulang di majalah itu, dan membuat marah umat Muslim dunia.

Namun satir majalah yang antikemapanan itu amat beragam, termasuk membuat lelucon dari aspek-aspek Kristen dan Yudaisme.

Sejak 2012, Chard menjadi pemred Charlie Hebdo, yang pertama kali terbit tahun 1969 namun berhenti tahun 1981 sebelum terbit kembali 1992.

Sebagaimana Charlie Hebdo, umumnya orang Barat menjunjug tinggi hak asasi manusia (HAM) dan freedom of speech (kebebasan bicara), Dalam sebuah wawancara dengan BBC, Charbonnier mengatakan insiden serangan bom molotov ke kantornya pada 2011 merupakan serangan atas kebebasan dari ‘ekstremis idiot’ yang tidak mewakili komunitas Islam di Prancis.

Di sisi lain, mereka menjunjung HAM, tapi melupakan hak asasi umat Islam dengan mengabaikan perasaan umat Islam sedunia dengan cara melecehkan Nabinya.*

Rep: Panji Islam
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Pengadilan Banding di AS Bolehkan YouTube Tayangkan Film Anti-Islam “Innocence of Muslims”

Pengadilan Banding di AS Bolehkan YouTube Tayangkan Film Anti-Islam “Innocence of Muslims”

Sambil Menunggu Dapat Kerja, Wanita Saudi Berdagang via Online

Sambil Menunggu Dapat Kerja, Wanita Saudi Berdagang via Online

[Foto] Wajah Gembira Rakyat AS

[Foto] Wajah Gembira Rakyat AS

Banjir dan Angin Kecang, Ribuan Rumah di Prancis Selatan Tak Teraliri Listrik

Banjir dan Angin Kecang, Ribuan Rumah di Prancis Selatan Tak Teraliri Listrik

New York Larang Rokok Elektrik di Dalam Ruangan

New York Larang Rokok Elektrik di Dalam Ruangan

Baca Juga

Berita Lainnya