Jum'at, 26 Maret 2021 / 13 Sya'ban 1442 H

Internasional

Laporan Terbaru OPCW Tegaskan Rezim Suriah Gunakan Senjata Kimia

Bagikan:

Hidayatullah.com–Aljazeera mendapatkan bocoran salinan laporan yang dibuat oleh pengawas penggunaan senjata kimia Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW) yang menunjukkan bukti-bukti tambahan mengenai penggunaan senjata kimia oleh rezim Suriah.

Laporan tim pencari fakta OPCW yang menyelidiki soal penggunaan senjata kimia dalam konflik di Suriah itu juga berisi kesaksian para saksi mata yang melihat helikopter-helikopter menjatuhkan bom-bom barel (tong) berisi bahan-bahan kimia berbahaya.

Para saksi mengatakan mendengr suara helikopter sebelum serangan bom kimia itu dilakukan.

Melaporkan dari markas Perserikatan Bangsa-Bangsa, editor diplomatik Aljazeera James Bays mengatakan bahwa negara-negara Barat anggota Dewan Keamanan PBB menyalahkan rezim Suriah atas serangan kimia tersebut, sebab hanya mereka yang memiliki akses penggunaan helikopter.

Dilansir Aljazeera Selasa (6/1/2015) duta besar Amerika Serikat untuk PBB Samantha Power dalam kicauannya di Twitter mengatakan “32 saksi melihat atau mendengar suara helikopter ketika bom menghantam, 29 berbau chlorine. Hanya rezim Suriah yang menggunakan heli.”

Laporan setebal 117 halaman itu merupakan laporan yang paling terperinci mengenai penggunaan senjata kimia di Suriah, termasuk tanggal kejadiannya, tetapi tidak menyebutkan pihak mana yang menggunakan senjata berbahaya itu.

Laporan itu memusatkan temuan penggunaan senjata kimia di tiga desa di Suriah, dua di Idlib dan satu di Hama, yang disebut sebagai wilayah yang penduduknya paling banyak mendapatkan serangan gas chlorine.

Temuan dalam laporan tersebut konsisten dengan dua laporan sebelumnya yang disusun oleh OPCW.

Usai pertemuan tertutup DK-PBB guna membahas kemajuan pemusnahan senjata kimia Suriah, Samantha Power mengatakan bahwa laporan terbaru itu memperkuat dugaan penggunaan gas chlorine oleh pemerintah Suriah sebagai senjata kimia dalam perang sipil yang telah berlangsung selama 4 tahun setelah rezim Damaskus berjanji menyerahkan seluruh cadangan senjata kimianya.

Upaya pemusnahan senjata kimia milik rezim Suriah dilakukan sejak serangan gas sarin pada 21 Agustus 2013 yang membunuh ratusan warga di daerah Ghouta pinggiran ibukota Damaskus.

Presiden Suriah Bashar Al-Assad dan pasukan oposisi saling menyalahkan atas serangan senjata kimia itu. Namun, negara-negara Barat meyakini bahwa pelaku sesungguhnya adalah rezim Al-Assad.

Pemerintah Al-Assad bersedia bekerjasama dengan OPCW, tanpa mengaku bertanggungjawab atas serangan senjata kimia di Ghouta, setelah Amerika Serikat mengancam akan melakukan serangan militer jika rezim Damaskus tidak mau menyerahkan cadangan senjata kimia yang dimilikinya.

Setelah melakukan pertemuan dengan 15 negara anggota DK-PBB, kepala urusan perlucutan senjata PBB Angela Kane mengatakan kepada para wartawan bahwa tim OPCW masih berusaha mencari cela atas laporan cadangan senjata kimia yang diakui dimiliki rezim Suriah dan berharap dapat mengungkap seluruh cadangan dan fasilitas produksinya sebelum Juni tahun ini.*

Rep: Ama Farah
Editor: Dija

Bagikan:

Berita Terkait

Proyek Gerbang Makkah Dimulai

Proyek Gerbang Makkah Dimulai

Meski Defisit, Amerika Harus “Memaksakan” Perang di Afghanistan

Meski Defisit, Amerika Harus “Memaksakan” Perang di Afghanistan

Gereja Roma: Pelecehan Seksual atas Biarawati Meningkat

Gereja Roma: Pelecehan Seksual atas Biarawati Meningkat

Perangi Rokok, Gaji Naik

Perangi Rokok, Gaji Naik

Prancis Ancam akan Serang Suriah jika Terbukti Gunakan Senjata Kimia

Prancis Ancam akan Serang Suriah jika Terbukti Gunakan Senjata Kimia

Baca Juga

Berita Lainnya