Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

Lebih dari 20.000 orang tempuh bahaya seberangi samudra

ilustrasi
Muslim Rohingya ditindas bertahun-tahun tanpa ada kepedulian dunia
Bagikan:

Hidayatullah.com–Lebih dari 20.000 orang menempuh risiko dan membahayakan keselamatan mereka dengan menyeberangi Samudra Hindia selama semester pertama tahun ini, banyak di antara mereka adalah orang Rohingya, yang menyelamatkan diri dari Myanmar.

Laporan yang dikeluarkan Komisariat Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR) mengenai gerakan tak beraturan di lautan di Asia Tenggara juga menyatakan beberapa ratus orang dicegat di sejumlah perahu yang menuju Australia.

Laporan itu, yang dikeluarkan oleh Unit Pemantau Gerakan Maritim di Kantor Regional UNHCR di Bangkok, memusatkan perhatian pada keberangkatan orang-orang dari Teluk Benggala dan tempat lain, melalui perairan Asia Tenggara, yang bergolak.

Laporan tersebut juga menyoroti pelecehan yang dihadapi orang-orang tersebut dalam perjalanan mereka, dan perkembangan yang berkaitan dengan kebijakan Operasi Kedaulatan Perbatasan di Australia.

Laporan itu memperlihatkan lebih dari 7.000 pencari suaka dan pengungsi yang telah melakukan perjalanan melalui laut saat ini berada di tahanan di wilayah tersebut, termasuk lebih dari 5.000 orang di Australia atau di pusat pemrosesan lepas pantainya di Nauru serta Papua Nugini.

“Akibat pola gelapnya, jumlah pasti orang yang diselundupkan masih sulit dipastikan,” kata Juru Bicara UNHCR Adrian Edwards, sebagaimana dikutip Xinhua dikutip Antara Sabtu, 23 Agustus 2014.

“Namun wawancara mendalam dengan penyintas telah memberi pandangan mengenai apa yang terjadi selama perjalanan panjang dan berbahaya dari Myanmar dan Bangladesh ke Thailand, Malaysia, Indonesia, serta negara lain,” kata Edwards.

Laporan itu memperkirakan 53.000 orang secara rutin melakukan perjalanan melalui laut dari Teluk Benggala selama 12 bulan sampai Juni 2014 –naik 61 persen dari 12 bulan sebelumnya. Dalam dua tahun setelah meletusnya kerusuhan antar-masyarakat pada Juni 2012 di Negara Bagian Rakhine di Myanmar– kebanyakan orang Rohingya serta Bangladesh melakukan perjalanan berbahaya dalam upaya mereka mencari keselamatan dan kestabilan.

Musim pelayaran utama telah berlangsung antara Oktober dan kuartal pertama tahun ini, ketika kondisi laut lebih tenang. Biasanya, mereka dibawa dengan menggunakan perahu kecil sampai perahu nelayan dan barang yang lebih besar yang bisa membawa sampai 700 orang.

Kebanyakan dari mereka adalah lelaki, tapi jumlah perempuan dan anak-anak juga meningkat.*

Rep: Anton R
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Sembuh dari Covid-19, Dua Pasien di Eropa Dikonfirmasi Terinfeksi Lagi

Sembuh dari Covid-19, Dua Pasien di Eropa Dikonfirmasi Terinfeksi Lagi

Perhitungan Kasus Covid-19 Kacau, Direktur Kesehatan California Mundur

Perhitungan Kasus Covid-19 Kacau, Direktur Kesehatan California Mundur

Tim Investigasi Senat Amerika akan Menanyai Menantu Trump Soal Koneksi Rusia

Tim Investigasi Senat Amerika akan Menanyai Menantu Trump Soal Koneksi Rusia

Jerman Akui Pemberontak Libya

Jerman Akui Pemberontak Libya

Wanita Saudi Capai Puncak Everest

Wanita Saudi Capai Puncak Everest

Baca Juga

Berita Lainnya