Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

Punya Rencana Baru di Timur Tengah, Amerika Serikat Menyulut Demonstrasi Anti-Mubarak 2011

Bagikan:

Hidayatullah.com–Habib Al-Adly, menteri dalam negeri era pemerintahan Husni Mubarak, mengatakan bahwa Amerika Serikat berada di balik aksi demonstrasi massa menentang pemerintahan Mubarak pada tahun 2011, sebagai bagian dari “rencana baru di Timur Tengah”.

Hal itu dikatakan Al-Adly saat bersaksi dalam persidangannya di Kairo hari Sabtu (9/8/2014), sebagai terdakwa dalam kasus kematian demonstran 2011 bersama enam orang lainnya, serta Husni Mubarak dan kedua putranya, lapor Ahram Online.

Al-Adly mengatakan bahwa ada dua bagian dalam rencana baru Amerika Serikat di Timur Tengah tersebut. Bagian pertama, yaitu mendekati para pemimpin di Timur Tengah dengan model demokrasi dan bantuan finansial untuk mewujudkan demokrasi itu. Jika para pemimpin Timur Tengah itu menolak, kata Al-Adly, maka Amerika Serikat akan menuding mereka sebagai diktator.

Bagian kedua, mendekati para pemuda di Timur Tengah dan memobilisasinya dengan cara mengajarkan demokrasi kepada mereka dan mengajarkan bagaimana cara menuntut hak-hak mereka, menuntut demokrasi dan bagaimana melakukan revolusi menentang pemerintah yang sedang berkuasa, imbuh Adly.

Lebih lanjut Al-Adly mengatakan, Amerika Serikat melatih para pemuda di Mesir dari kalangan oposisi seperti Kefaya, Gerakan Pemuda 6 April dan pemuda Al-Ikhwan Al-Muslimun di Qatar serta negara-negara Arab lain, untuk “belajar tentang demokrasi”.

Mantan menteri dalam negeri itu mengatakan bahwa pada 25 Januari 2011, hari pertama demonstrasi massa yang akhirnya meruntuhkan pemerintahan Husni Mubarak, polisi menggunakan air dan gas air mata untuk membubarkan para demonstran.

Di Suez, unjuk rasa diubah menjadi “neraka”, di mana para demonstran membakar kantor-kantor polisi guna “memungkinkan elemen asing masuk” ke dalam wilayah Mesir pada 27 Januari. “Elemen asing” itu akhirnya tiba di Kairo, menurut Adly, pada tanggal 28 Januari 2011.

Al-Adly mengatakan bahwa kementerian dalam negeri ketika itu melakukan penyadapan percakapan telepon di Mesir. Hal itu juga dilakukan oleh lembaga intelijen Mesir.

Meskipun demikian, kata Al-Adly, penyadapan itu dilakukan hanya intuk memantau teroris, mata-mata, pengedar narkoba dan “orang-orang yang menginginkan Mesir hancur.”

Selain itu, Al-Adly mengklaim ada sebagian polisi Mesir yang memberikan senjata mereka ke polisi Palestina, yang kemudian menggunakannya untuk membunuh demonstran di Mesir dan menjebak polisi Mesir.

Al-Adly, yang mengaku melakukan tugasnya sebaik mungkin, mengatakan bahwa dia tidak memberikan perintah kepada polisi untuk mundur ketika unjuk rasa besar itu terjadi.*

Rep: Ama Farah
Editor: Dija

Bagikan:

Berita Terkait

Umat Budha Tolak Masjid, Shalat Jumat di Dambulla, Sri Lanka Batal

Umat Budha Tolak Masjid, Shalat Jumat di Dambulla, Sri Lanka Batal

Teroris Kristen Norwegia Tidak Akan Dihukum Mati

Teroris Kristen Norwegia Tidak Akan Dihukum Mati

Sejuta Yahudi Hengkang dari Israel Menuju AS dan Eropa

Sejuta Yahudi Hengkang dari Israel Menuju AS dan Eropa

Pengajar Al-Qur`an Tidak Ditangkap Aparat Saudi

Pengajar Al-Qur`an Tidak Ditangkap Aparat Saudi

Bekerjasama dengan Tabung Haji, Malaysia Buka Restoran Elite di Mekah

Bekerjasama dengan Tabung Haji, Malaysia Buka Restoran Elite di Mekah

Baca Juga

Berita Lainnya