Senin, 25 Oktober 2021 / 18 Rabiul Awwal 1443 H

Internasional

Tiga Kandidat Presiden Turki yang akan Dipilih Langsung Rakyat

Bagikan:

Hidayatullah.com–Hari Ahad (10/8/2014) Turki akan memilih presiden ke-12, presiden pertama yang dipilih langsung oleh rakyat.

Salah satu dari kandidatnya harus mendapatkan suara mayoritas jika ingin keluar langsung menjadi pemenang. Jika tidak, maka pemilihan putaran kedua akan digelar dua minggu kemudian pada 24 Agustus dan pemenangnya akan menjabat selama 5 tahun.

Pada pemilu kali ini ada tiga kandidat yang memperebutkan suara untuk menjadi presiden pertama Turki yang dipilih secara langsung oleh rakyat. Mereka adalah Recep Tayyip Erdogan, Ekmeleddin Ihsanoglu dan Selahattin Demirtas. Berikut profil singkat mereka.

Recep Tayyip Erdogan. Tokoh dari partai Islam AKP ini mendominasi dunia politik di Turki karena posisinya sebagai perdana menteri. Pria berusia 60 tahun ini digadang-gadang akan muncul sebagai pemenang dalam pemilu yang kemungkinan cukup satu putaran saja.

Politisi yang dibesarkan di lingkungan keras di kota Istanbul ini dikenal bersuara vokal, bahkan tidak jarang membuat lawan-lawan politiknya geram sehingga menimbulkan aksi saling mengecam. Salah satu contoh, Erdogan saat kampanye mengatakan politisi-politisi oposisi bersikap diam atas tragedi kemanusiaan yang sedang terjadi di Gaza akibat serangan Zionis Israel. Tidak terima dengan tudingan itu, pemimpin salah satu partai oposisi CHP menuntut Erdogan mengembalikan medali yang pernah diterimanya dari kelompok lobi Yahudi Amerika, AJC, pada 2004. Meskipun kemudian menyatakan akan mengembalikannya, belum jelas apakah medali penghargaan Yahudi itu sudah dikembalikan oleh Erdogan.

Erdogan diakui berhasil memimpin Turki menjadi negara yang lebih makmur, tetapi pada saat yang sama dikecam dan dianggap diktator karena beberapa kali membungkam media, termasuk Twitter dan YouTube, terutama ketika tudingan korupsi mencuat di kalangan orang-orang terdekatnya termasuk putranya.

Menerobos budaya sekuler Turki, satu persatu larangan jilbab bagi wanita Muslim dicabut pada masa kepemimpinannya sebagai perdana menteri, meskipun belum tuntas 100%.

Mendapatkan sumbangan dana kampanye paling banyak dibanding 2 pesaingnya, Erdogan memiliki kebebasan finansial untuk berkampanye besar-besaran. Dengan uang kampanye mencapai 57 juta lira, spanduk bergambar sosok Erdogan tidak jarang menyelimuti gedung-gedung bertingkat di seantero Turki.

Ekmeleddin Ihsanoglu. Lahir dari keluarga terpandang, Ihsanoglu dikenal sebagai sosok pria yang kalem dan tenang. Ilmuwan dan akademisi bergelar profesor doktor ini pernah menjabat sebagai sekretaris jenderal Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dari tahun 2004 sampai 2014.

Ihsanoglu maju sebagai kandidat presiden dengan dukungan belasan partai oposisi, termasuk 2 partai oposisi terbesar di parlemen saat ini, Partai Rakyat Republik (CHP) dan Partai Gerakan Nasionalis (MHP).Ihsanoglu mengusung ide persatuan Turki, menjanjikan pemerintahan yang lebih terbuka dan memperhatikan semua suku, kelompok dan golongan yang beragam di masyarakat Turki.

Fasih berbahasa Arab, Inggris dan Prancis, Ihsanoglu lahir dan dibesarkan di Kairo, Mesir. Fakta ini menjadi peluru bagi Erdogan untuk menyerang pria berusia 70 tahun itu dengan mempertanyakan “Keturkiannya”.

Walaupun dikenal sebagai seorang Muslim yang taat, Ihsanoglu dikenal pula dengan pandangannya yang sekuler dalam urusan politik.

Walaupun didukung belasan partai, Ihsanoglu hanya mendapatkan sumbangan dana kampanye sebesar 8,5 juta lira, jauh di bawah rivalnya Erdogan. Tak heran pada masa kampanye namanya relatif tidak sepopuler Erdogan.

Selahattin Demirtas. Apabila muncul sebagai pemenang dia mungkin akan menjadi kebanggaan suku Kurdi, suku yang nasibnya terombang-ambing akibat urusan politik terutama di sekitar Turki dan Iraq, karena mereka banyak bermukim di daerah yang dikenal kaya sumber daya alam. Memiliki profesi sebagai pengacara, Demirtas getol menyuarakan kepentingan kaum yang tertindas, orang miskin, para pemuda dan kaum pekerja.

Mengawali karir politiknya di tahun 2007, Demirtas kini memimpin Partai Rakyat Demokrat (HDP) dan terus memperjuangkan HAM untuk bangsa Kurdi. Dengan latar belakang Kurdi-nya itu, Demirtas mungkin dapat mengalihkan perhatian kebanyakan warga Kurdi yang selama ini mendukung Erdogan.

Namun, sebagaimana dibutuhkan dalam berbagai kontes pada umumnya, dukungan suara pemilih penting bagi Demirtas untuk keluar sebagai pemenang pada pemilu presiden tahun ini. Dengan dana kampanye hanya 1,2 juta lira dan usia yang relatif muda, 41 tahun, para pengamat yakin dia akan berada di posisi ketiga.

Meskipun diyakini bakal kalah dalam perebutan kursi presiden, di mata para analis Demirtas tetap dianggap berhasil menyuarakan aspirasi suku Kurdi dalam perpolitikan Turki.*

Rep: Ama Farah
Editor: Dija

Bagikan:

Berita Terkait

Ramal Kematian Presiden Mugabe, Pastor Zimbabwe Ditangkap

Ramal Kematian Presiden Mugabe, Pastor Zimbabwe Ditangkap

Pembantu Ahmadinejad Gelapkan Jutaan Euro dari Negara-Negara Non-Blok

Pembantu Ahmadinejad Gelapkan Jutaan Euro dari Negara-Negara Non-Blok

San Francisco Larang Telanjang di Tempat Umum

San Francisco Larang Telanjang di Tempat Umum

Ribuan Muhajirin Rohingya Kehilangan Tempat Berlindung di Tengah Banjir

Ribuan Muhajirin Rohingya Kehilangan Tempat Berlindung di Tengah Banjir

Peserta Ujian PT Turki Akhirnya Boleh Berkerudung

Peserta Ujian PT Turki Akhirnya Boleh Berkerudung

Baca Juga

Berita Lainnya