Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

Islamisasi Tanah Melayu bukan Arabisasi

hidayatullah.com/caklis
Prof. Wan Mohd Wan Daud: Bangsa Melayu harus bersatu
Bagikan:

Hidayatullah.com–Para pendakwah yang datang ke tanah Melayu lebih memilih bahasa Melayu sebagai bahasa Islam.  Ini dikarenakan bahasa Melayu di masa dahulu masih kosong dari mitos-mitos dan worldview Hindu-Budha. Demikian dijelaskan oleh Prof. Wan Mohd Wan Daud.

Direktur Centre for Advanced Studies on Islam, Science and Civilization (CASIS) Malaysia, menjelaskan bahwa bahasa Melayu yang masih ‘kosong’ itu kemudian diislamisasi dengan dimasuki unsur-unsur worldview Islam melalui istilah-istilah.

“Bahasa Melayu dulu bukan bahasa unggul, hanya bahasa pesisir, bahasa pinggiran. Sedangkan bahasa Jawa merupakan bahasa unggul yang mengandung unsur worldview Budha”, ujarnya kepada hidayatullah.com dan inpasonline.com saat berkunjung ke rumahnya.

Atas alasan itu, menurut Profesor pakar filsafat pendidikan ini, para pendakwah memilihnya sebagai wasilah penting untuk mengubah pandangan hidup orang-orang Melayu Nusantara.

Selain itu Islamisasi dilakukan dengan mengadaptasi dengan bahasa lokal. Bukan mengubah menjadi Arab semua.

“Kita bukan menolak semua, juga bukan menerima semua,” tegasnya.

Sebab, katanya, Islamisasi itu bukan gerakan ‘anti’ tapi memilih mana yang sesuai dengan pandangan hidup Islam dan mana yang tidak.

“Memang, Islamisasi melibatkan kata-kata kunci  bahasa Arab, seperti Allah, Rasul, dan Malaikat, Kitab. Tapi Islamisasi juga menggunakan kata-kata pra-Islamic dengan makna baru,” kata Prof. Wan di Kuala Lumpur.

Istilah-istilah pra-Islamic yang diislamkan maknanya diantaranya adalah kata “Tuhan”, “dosa”, “surga”, “neraka”, “budhi” dan lain-lain.

“Islamisasi adalah mengubah kata-kata pra-islamic dengan makna worldview Islam,” tambahnya.

“Karena itu, bahasa Melayu sebenarnya mengandung worldview Islam”.

Selain itu, Prof. Wan Mohd menyampaikan pesan bahwa bangsa Melayu, baik Indonesia dan Malaysia harus bersatu, karena dua negeri ini lahir dari satu rumpun.

“Kita satu bangsa, jika Melayu lemah, Islam kalah,” ujarnya.

Ia mengaku sedih jika ada orang-orang Melayu sendiri yang saling hujat dan memusuhi.  Karena itu a menganjurkan agar antara Indonesia dan Malaysia berhubungan  lebih erat.

“Indonesia adalah abang kita. Penting sekali kita mempelajari sejarah,” tambahnya sembari menasehati agar tidak ada caci-maki sesama bangsa Melayu.*

Rep: Kholili Hasib
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

MILF-Filipina Gagal Berunding

MILF-Filipina Gagal Berunding

Zionis Akan Hadang Flotilla II dengan Resiko Apapun

Zionis Akan Hadang Flotilla II dengan Resiko Apapun

Terlibat Suap Penjualan Senjata ke Pakistan dan Arab Saudi, Enam Eks Pembantu PM Prancis Dibui

Terlibat Suap Penjualan Senjata ke Pakistan dan Arab Saudi, Enam Eks Pembantu PM Prancis Dibui

Turki Susun Regulasi Praktik Pengobatan Alternatif

Turki Susun Regulasi Praktik Pengobatan Alternatif

Dunia Harus Cegah ‘Israel’ Buat Terowongan Baru di Bawah Masjid al Aqsha

Dunia Harus Cegah ‘Israel’ Buat Terowongan Baru di Bawah Masjid al Aqsha

Baca Juga

Berita Lainnya