Senin, 29 November 2021 / 23 Rabiul Akhir 1443 H

Internasional

Minta Dibebaskan dari Penculik, Sekretaris Kedutaan Tunisia Menangis

Bagikan:

Hidayatullah.com—Rekaman video berisi permintaan seorang diplomat Tunisia yang diculik di Libya agar pemerintah melanjutkan negosiasi pembebasan dirinya, diunggah hari Senin (21/4/2014) oleh kelompok penculiknya ke internet.

Video yang menunjukkan sekretaris Kedutaan Tunisia Mohamed Ben Cheikh, yang diculik di Tripoli satu bulan lalu, diunggah oleh sebuah kelompok militan yang menamakan dirinya Shabab Al-Tauhid.

Ben Cheikh meminta presiden Tunisia agar melakukan negosiasi dengan penculik untuk membebaskan dirinya.

“Mereka memberi saya makan dan pakaian. Tetapi mereka capek dan kesal menunggu. Tolong, bernegosiasilah serius dengan mereka,” pinta Ben Cheikh.

“Saya punya seorang istri dan tiga orang anak, dan kedua orangtua saya dalam keadaan tidak sehat,” katanya mengiba.

Kelihatan sangat tertekan, Ben Cheikh mengecam presidennya karena tidak melakukan negosiasi untuk membebaskan dirinya.

“Apakah ini balasan atas pengabdian saya kepada negara?” kata Ben Cheikh, seraya menegaskan bahwa dirinya sudah bekerja selama 12 tahun untuk misi diplomatik Tunisia.

“Pak Presiden, jika Anda sudah tak mau lagi bernegosiasi atau gagal melakukan negosiasi, tolong katakan kepada saya, sehingga mereka bisa membunuh saya,” kata Ben Cheikh putus asa.

“Mereka bisa membunuh saya kapan saja,” imbuhnya, dalam video bertanggal 19 April 2014 itu.

Air mata Ben Cheikh tumpah dua kali dalam rekaman video berdurasi empat menit itu. Dia mengaku sangat rindu dan ingin segera kembali bersama keluarganya di Tunisia.

Di akhir rekaman terpampang tulisan dari Shabab Al-Tauhid yang berbunyi, “Kepada pemerintah Tunisia, karena kalian menawan orang kami, maka kami juga akan menangkap orangmu dan sebagaimana kalian membunuh kami, maka kami akan membunuhmu.”

Kelompok itu menuntut pembebasan dua orang warga Libya yang dipenjara di Tunisia karena terkait kasus terorisme. Kedua orang itu dibui sejak Mei 2011 dan harus menjalani hukuman selama 20 tahun.

Ketua komite pembela warga Libya yang ditahan di luar negeri, Taha Shakshuki, hari Ahad (20/4/2014) mengatakan bahwa kedua orang itu merupakan korban dari kesalahan proses hukum, lansir Libya Herald.

Dua warga Libya yang dipenjara di Tunisia itu ditangkap aparat setempat terkait insiden di kota Rouhia pada Mei 2011 yang menewaskan empat anggota pasukan keamanan Tunisia. Keduanya disebut sebagai anggota AQIM (Al-Qaeda in the Islamic Maghreb).

Kantor mufti besar Libya telah mengeluarkan penyataan kecaman atas aksi penculikan para diplomat dan staf asing dengan mengatasnamakan Islam.*

Rep: Ama Farah
Editor: Dija

Bagikan:

Berita Terkait

Raja Saudi Ubah Garda Nasional Jadi Kementerian

Raja Saudi Ubah Garda Nasional Jadi Kementerian

Polisi Zimbabwe Menggerebek Kantor “Nabi Penyembuh AIDS”

Polisi Zimbabwe Menggerebek Kantor “Nabi Penyembuh AIDS”

Parlemen Australia Batalkan Pembahasan Pemisahan Wanita Berniqab

Parlemen Australia Batalkan Pembahasan Pemisahan Wanita Berniqab

Uni Eropa akan Persulit Pembuatan Visa

Uni Eropa akan Persulit Pembuatan Visa

Presiden Filipina Duterte Sebut Ferdinand Marcos Pahlawan

Presiden Filipina Duterte Sebut Ferdinand Marcos Pahlawan

Baca Juga

Berita Lainnya