Senin, 24 Januari 2022 / 20 Jumadil Akhir 1443 H

Internasional

Hanya Jubir, Menantu Bin Ladin Tak Punya Peran Militer

Sulaiman Abu Ghaith, menantu Usama bin Ladin dan Khalid Sheikh Muhammad (inzet).
Bagikan:

Hidayatullah.com—Sulaiman Abu Ghaith menantu Usama bin Ladin yang dituduh sebagai otak serangan 9/11 dan saat ini sedang disidang di New York, tidak memiliki peran dalam operasi militer Al-Qaida.

Dilansir Aljazeera (17/3/2014), Khalid Sheikh Muhammad mengatakan dalam sebuah pernyataan yang diajukan ke pengadilan federal Manhattan Ahad malam (16/3/2014) bahwa Ghaith berperan sebagai jurubicara Al-Qaida karena dia seorang pembicara yang fasih dan memukau.

Namun Muhammad mengatakan, Abu Ghatih, 48, “bukan seorang militer dan tidak ada urusannya dengan operasi militer.”

Abu Ghaith didakwa melakukan konspirasi untuk membunuh orang Amerika. Dia merupakan tokoh Al-Qaida level tertinggi yang diproses hukum oleh Amerika Serikat dalam kasus serangan 11 September 2001 atas gedung World Trade Center di New York.

Jaksa penuntut mengatakan, Abu Ghaith merupakan bagian dari rencana Al-Qaida dan perannya sebagai jurubicara dalam video-video, serta sebagai motivator kelompok itu di kamp pelatihan di Afghanistan.

Pengacara Abu Ghaith mengatakan, kliennya yang kelahiran Kuwait itu memang mengeluarkan pernyataan yang berapi-api, tetapi dia tidak berkonspirasi untuk melakukan terorisme.

Para pengacara pembela Abu Ghaith berusaha menggunakan pernyataan dari Muhammad, yang sekarang dikurung di penjara Guantanamo. Mereka membutuhkan izin dari hakim distrik Lewis A Kaplan untuk bisa menggunakannya di pengadilan.

“Bapak Muhammad tidak bisa secara fisik tampil di pengadilan, dan pernyataannya diperlukan untuk mencegah kegagalan hukum dalam masalah ini,” kata tim pengacara pimpinan Stanley Cohen dalam suratnya kepada hakim.

Tim pembela yakin keterangan Muhammad bisa membantah klaim pemerintah Amerika yang mengatakan bahwa Abu Ghaith pasti sudah mengetahui sebelumnya akan rencana serangan Al-Qaida yang disebut sebagai rencana serangan bom sepatu di pesawat, dan juga rencana Richard Reid untuk melancarkan serangan bom sepatu pada Desember 2001.

Pernyataan yang diberikan Muhammad sama seperti jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh pengacara Abu Ghaith.

Dalam pernyataannya, Muhammad mengatakan bahwa dirinya tidak pernah berbicara dengan Abu Ghaith mengenai rencana operasi bom sepatu.

“Mereka yang ditugaskan untuk memberikan pernyataan kepada media tidak berarti pasti mengetahui seluruh detail sebuah operasi dan terkadang bahkan sama sekali tidak tahu akan keberadaan operasi tersebut,” tegas Muhammad.*

Rep: Ama Farah
Editor: Dija

Bagikan:

Berita Terkait

Legislator Ghana Usulkan Pidana Bagi Promosi Aktivitas LGBT+ di Media (Sosial)

Legislator Ghana Usulkan Pidana Bagi Promosi Aktivitas LGBT+ di Media (Sosial)

Rakyat Negara Termiskin Uni Eropa Protes Harga BBM dan Pajak Kendaraan

Rakyat Negara Termiskin Uni Eropa Protes Harga BBM dan Pajak Kendaraan

Pakistan Undang Tokoh Penting Taliban untuk Perundingan dengan Pemerintah Afghanistan

Pakistan Undang Tokoh Penting Taliban untuk Perundingan dengan Pemerintah Afghanistan

ikhwanul muslimin

Dua Presenter TV Dipenjara 15 tahun karena “Berhubungan dengan Ikhwanul Muslimin”

Pulang ke Inggris, Wanita Ini Dibui 6 Tahun karena Gabung ISIS di Suriah

Pulang ke Inggris, Wanita Ini Dibui 6 Tahun karena Gabung ISIS di Suriah

Baca Juga

Berita Lainnya