Sabtu, 27 Maret 2021 / 13 Sya'ban 1442 H

Internasional

70.6 % Responden Percaya “Operasi Gerakan Korupsi” di Turki Agenda Global

Perdana Menteri (PM) Turki, Recep Tayyip Erdogan bersama warganya
Bagikan:

Hidayatullah.com—Temua  sebuah lembaga kajian sosial GENAR, Turki  tentang “Operasi 17 Desember” yang mengatasnamakan gerakan anti-korupsi ditengarai ada keterlibatan kekuatan  global.

Seperti diketahui, GENAR melakukan sebuah survey terhadap pandangan sosial, politik dan ekonomi masyarakat mengenai “Operasi 17 Desember” yang digelar di 30 kota besar dengan melibatkan 3.181 partisipan.

Penelitikan  menyuguhkan potret operasi tersebut dalam opini masyarakat di kelas bawah. Di bawah ini hasil penelitian yang dimuat di berbagai media, termasuk www.haber.stargazete.com dan Sabah Gazetesi.

Dalam angket yang disebar, ada sebuah pertanyaan: “Apakah ‘Operasi 17 Desember’ benar-benar merupakan operasi anti-korupsi, tanpa ada tujuan politik lain apa pun?” 57.3 % pemilih menjawab “tidak”.

Dalam pertanyaan lainnya, 73 % pemilih bahwa di belakang operasi tersebut ada “Gerakan/jamaah Gulen” (Fethullah Gulen, red), sebanyak 73.9 % mempercayai adanya negara paralel, struktur bayangan yang bercokol dalam lembaga kehakiman dan kepolisian.

Kekuatan Global

70.6 % partisipan juga mempercayai adanya keterlibatan kekuatan global dalam operasi tersebut. 63.3 % menilai bahwa berbagai peristiwa di Turki belakangan ini disulut untuk menghalangi laju pertumbuhan Turki.

Dalam angket yang berisi pertanyaan,  “Dalam perdebatan antara Pemerintahan AK Parti dan Gerakan Gulen yang bergulir sejak 17 Desember lalu, pihak mana menurut Anda benar, pemerintah atau Gulen?” 61.7 % menjawab “pemerintah benar” sedang 17.2 % lainnya mengatakan “Jemaah Gulen benar”.

Sedangkan berkaitan kasus perdebatan isu Dershane (Pusat Bimbingan Belajar) yang disulut media pro Gulen sebelum munculnya isu korupsi; 57.8 % menyatakan Pemerintah benar,  28.8 % menyatakan Jemaah benar.

“Tidak” untuk Jemaah

Dalam sebuat pertanyaan lain yang menanyakan: “Jika Jemaah berkoalisi dengan Parti CHP (Cumhuriyet Halk Partisi/Parti Rakyat Republik), apakah Anda akan ikut dalam koalisi tersebut?” 94.3 % menjawab “tidak”.

Terhadap pertanyaan yang sama, dari para partisipan yang berasal dari kalangan CHP, 74.4 %-nya menjawab tidak.

CHP adalah parti sekuler yang dahulu didirikan Mustafa Kemal Ataturk dan belakangan terlihat akan membangun koalisi dengan pihak Jemaah (Gulen).

48.9 % partisipan menjawab bahwa pada 2015 nanti AK Parti (Partai Pembangunan dan Keadilan), lah yang layak memimpin. Kemudian Parti CHP mendapat suara 25.3 %, 22.4 % lainnya melihat kemungkinan “koalisi”.

Dengan pertanyaan siapa pimpinan Turki paling kharismatik, 47.5 % partisipan menyebutkan nama Perdana Menteri, Recep Tayyip Erdogan. Disusul berikutnya oleh Ketua Parti CHP, Kemal Kilicdaroglu, dengan meraih 14.2 % suara. Dan disusul oleh Ketua partai MHP (Milliyetçi Hareket Partisi; Parti Gerakan Nasionalis) Devlet Bahceli, dengan 10.1 % suara.

Urutan keempat, ditempati Selahattin Demirtas, ketua Parti BDP (Barış ve Demokrasi Partisi; Parti Perdamamaian dan Demokrasi) dengan menyabet 5.2 % suara.

Seteru

Desember lalu, dakwaan atas korupsi yang cukup mengguncang tubuh pemerintahan Perdana Menteri (PM) Turki, Recep Tayyip Erdogan. Termasuk tuduhan pada Baris Guler, putra Menteri Dalam Negeri Muammer Guler, dan Kaan Caglayan, putra Menteri Ekonomi Zafer Caglayan.

Puluhan orang, termasuk direktur utama sebuah bank pemerintah serta pebisnis yang terkoneksi dengan Partai Pembangunan dan Keadilan (AKP) pimpinan Erdogan, ditahan sejak 17 Desember. Penangkapan merupakan bagian dari investigasi terkait suap, pencucian uang, penyelundupan emas, serta kasus lainnya.

Erdogan menuding beberapa jaksa terlibat dalam konspirasi global untuk meruntuhkan pemerintahan, juga menciptakan “negara di dalam negara.”

Presiden IHH (Insani Hak ve Huriyetlere Insani Yardim Vakvi) Bulent Yildirim, dalam konferensi pers akhir Desember 2013 menyatakan jangan mudah percaya dengan tuduhan korupsi tersebut.

Serangan Erdogan terhadap kantor birokrasi mencerminkan seteru antara sang PM dan mantan sekutunya, Fethullah Gulen, yang pernah membantunya mempertahankan tiga kali masa jabatan sebagai PM Turki.

Gulen, yang kini tinggal dalam pelarian di Pennsylvania, Amerika Serikat, dikenal memiliki dukungan politik yang besar lewat jutaan pengikut. Pendukung ulama Turki itu berasal dari pelbagai kalangan, termasuk kepolisian dan sistem peradilan Turki. Konon Erdogan dan Gulen dituding berebut pengaruh menjelang Pemilu yang dijadwalkan Maret mendatang.*/A. Rahman (Turki)

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Demonstran Thailand Mengkritik Pengeluaran Keluarga Kerajaan

Demonstran Thailand Mengkritik Pengeluaran Keluarga Kerajaan

Iraq: Ada Hadiah Uang Bagi Pembunuh Anggota ISIL atau Al-Qaida

Iraq: Ada Hadiah Uang Bagi Pembunuh Anggota ISIL atau Al-Qaida

Pemerintah UEA Pertimbangkan Rumah Bagi Pria Beristri Lebih dari Satu

Pemerintah UEA Pertimbangkan Rumah Bagi Pria Beristri Lebih dari Satu

Pengacara Pembela Penjahat Perang Slobodan Milosevic Ditembak Mati

Pengacara Pembela Penjahat Perang Slobodan Milosevic Ditembak Mati

Dua Puluh Tahun Memburu Jabatan PM Malaysia, Anwar Ibrahim Masih Sabar Tunggu Giliran

Dua Puluh Tahun Memburu Jabatan PM Malaysia, Anwar Ibrahim Masih Sabar Tunggu Giliran

Baca Juga

Berita Lainnya