Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

Syeikh Al Buthy, Tentara dan Rakyat Suriah

Bagikan:

Hidayatullah.com–Selama ini beredar informasi bahwa Syeikh Al Buthy mendukung pembunuhan terhadap rakyat Suria oleh tentaranya, hingga ada kabar ada pihak yang mengekspresikan kegembiraan setelah mendengar terbunuhnya Syeikh Al Buthy di saat beliau menyampaikan ceramah hadapan para murid beliau di masjid Al Iman Damaskus.

Bagaimana sebenarnya posisi Syeikh Al Buthy terhadap kedzaliman yang terjadi di Suriah? Hal ini bisa lebih terjelaskan dengan melihat fatwa-fatwa beliau yang ditujukan kepada tentara Suria.

Nasim Syam, situs resmi Masjid Umawi Damaskus yang mana Syeikh Al Buthy menjadi khatibnya, melalui akun Facebook resminya melansir beberapa fatwa beliau yang ditujukan kepada beberapa tentara Suria.

Pada 13 Maret 2013 akun itu melansir jawaban Syeikh Al Buthy terhadap pertanyaan seorang anggota wajib militer Suriah yang masuk pengabdian pada (09/01/2012) yang mengaku kabur dari tugas karena takut melakukan pembunuhan ketika ia terus berada dalam militer. Pemuda itu pun bertanya apa hukum syar’i atas keputusannya itu.

Maka Syeikh Al Buthy pun menjawab, ”Kalau engkau tahu dengan perkiraanmu bahwa engkau akan dibebani membunuh jiwa yang tidak bersalah tanpa hak selama keberadaanmu di militer, maka pelarianmu disyariatkan. Namun jika engkau mengetahui bahwa engkau akan ditugaskan untuk mempertahankan dari penjahat yang bertujuan untuk mengancam nyawa tidak bersalah atau menghancurkan bangunan atau merampasnya dari para pemiliknya maka menerima hal itu wajib.”

Sebelumnya pada (05/06/2011) Nashim Syam melansir fatwa nomor 13060 yang menjawab pertanyaan tentara Suria yang menyebutkan bahwa dia dan rekannya di militer berselisih mengenai keadaan dimana petinggi memerintahkan mereka menembak demonstran dengan peluru hidup, apakah perintah itu boleh ditaati atau tidak? Penanya juga menyampaikan bahwa jika ia tidak menembak demonstran maka ia akan dibunuh petingginya.

Syeikh Al Buthy pun menjawab, ”Para fuqaha menyatakan bahwa orang yang dipaksa untuk membunuh tanpa hak, maka ia tidak boleh menuruti siapa yang memaksanya untuk melakukan perbuatan itu, meskipun dia tahu dia akan dibunuh ketika tidak menurutinya. Hal itu dikarenakan dua pelanggaran itu (pemimpin membunuh tentara dan tentara membunuh demonstran-pent.) memiliki derajat bahaya yang sama, maka tidak boleh orang yang dipaksa untuk membunuh mengutamakan kehidupannya daripada nyawa semisalnya yang tak berdosa.”

Dari jawaban-jawaban yang diberikan Syeikh Al Buthy tersebut bisa dinilai bahwa beliau menentang pembunuhan rakyat tak bersalah oleh tentara Suriah.*

Rep: Sholah Salim
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Protes Melawan Serangan Ghouta Timur di Kedutaan Rusia di Beirut

Protes Melawan Serangan Ghouta Timur di Kedutaan Rusia di Beirut

Junta Militer Mali Resmi Dibubarkan

Junta Militer Mali Resmi Dibubarkan

Wanita Korea Utara Dapat Cuti Melahirkan 240 Hari

Wanita Korea Utara Dapat Cuti Melahirkan 240 Hari

Pengadilan Perintahkan Larangan Parsial di Berlin untuk Kendaraan Diesel

Pengadilan Perintahkan Larangan Parsial di Berlin untuk Kendaraan Diesel

Pegiat Hak Asasi: Pemerintah Myanmar Dorong Diskriminasi terhadap Rohingya

Pegiat Hak Asasi: Pemerintah Myanmar Dorong Diskriminasi terhadap Rohingya

Baca Juga

Berita Lainnya