Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Internasional

Wanita Tidak Bisa Jadi Uskup di Gereja Anglikan

Bagikan:

Hidayatullah.com—Otoritas tertinggi Kristen aliran Anglikan, Church of England, akhirnya menolak pentahbisan uskup wanita di lingkungan gereja mereka.

Dalam pemandangan dramatis di Church House di Westminster, Inggris, isu uskup wanita yang telah diperdebatkan selama 12 tahun terakhir dan lebih dari 3 dekade dikampanyekan, akhirnya dipupuskan harapannya lewat pemungutan suara di Sinoda Umum, lansir Guardian Rabu (21/11/2012).

Rancangan legislasi pentahbisan uskup wanita di lingkungan Kristen Anglikan sebenarnya bisa lolos kalau saja enam suara yang menentang di kalangan orang awam anggota Sinoda Umum memilih untuk mendukung usulan aturan baru tersebut.

Dilansir AFP (20/11/2012), kalangan uskup di Sinoda Umum memberikan suara 44 mendukung, 3 menolak dan 2 abstain. Sementara di kalangan rohaniwan suara mendukung juga mayoritas dengan jumlah 148 mengatakan ya dan 45 menyatakan tidak. Hasil akhir ditentukan kalangan awam, yang dalam pemungutan suara itu memberikan 132 dukungan dan 74 menolak.

Legislasi pentahbisan uskup wanita untuk bisa lolos harus mendapatkan minimal duapertiga suara mayoritas anggota Sinoda Umum. Dan harapan yang diidamkan selama berabad-abad itu lenyap hanya dengan selisih 6 suara dari kalangan awam, bukan suara dari rohaniwan gereja.

Kepada wartawan uskup Chelmsford, Stephen Cottrell, mengatakan, “Saya sangat kecewa sekali… Saya tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.”

Menurut Cottrell, kegagalan untuk meloloskan legislasi pentahbisan uskup wanita merupakan hal yang memalukan. Pihak Gereja Anglikan harus melakukan upaya keras untuk membujuk kaum awam di Sinoda Umum agar mau meloloskan pembolehan pentahbisan wanita sebagai uskup di lingkungan Kristen Anglikan.

Aliran Kristen Anglikan terbentuk berkaitan dengan pembatalan perkawinan antara raja Inggris Henry VIII dengan Catherine of Aragon. Keduanya dulu menganut Katolik Roma yang merupakan agama kerajaan. Oleh karena ajaran Katolik tidak membolehkan perceraian, maka dibuatlah gereja Kristen baru yang bisa menceraikan pasangan bangsawan Inggris itu, yang sekarang dikenal sebagai Church of England yang menaungi penganut Kristen aliran Anglikan. Nama Anglikan sendiri berasal dari bahasa Latin ‘ecclesia anglicana’ yang artinya Gereja Inggris.*

Rep: Ama Farah
Editor: Dija

Bagikan:

Berita Terkait

Bahas Revolusi, Saudi Larang Buku Salman Audah Dipamerkan

Bahas Revolusi, Saudi Larang Buku Salman Audah Dipamerkan

Turki Menangkap Seorang Jurnalis yang Dicurigai sebagai ‘Mata-mata UEA’

Turki Menangkap Seorang Jurnalis yang Dicurigai sebagai ‘Mata-mata UEA’

Raja Salman Telpon Erdogan Membahas Hilangnya Jurnalis Jamal Khashoggi

Raja Salman Telpon Erdogan Membahas Hilangnya Jurnalis Jamal Khashoggi

Amerika Mengaku Tak Terpengaruh dengan Dokumen Rahasia

Amerika Mengaku Tak Terpengaruh dengan Dokumen Rahasia

Hutan Dibabat untuk Pabrik Tesla, Warga Desa Jerman Unjuk Kemarahan

Hutan Dibabat untuk Pabrik Tesla, Warga Desa Jerman Unjuk Kemarahan

Baca Juga

Berita Lainnya