Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

Biksu Myanmar Mendemo Rohingya Lagi

Biksu Buddha menentang keberadaan Rohingya di Myanmar.
Bagikan:

Hidayatullah.com—Belum juga masalah kekerasan atas Muslim Rohingya di Myanmar baru-baru ini diselesaikan, ribuan biksu Buddha kembali berunjuk rasa menentang keberadaan Muslim di negara mayoritas pemeluk Buddha itu.

Dilansir Deutsche Welle, hari Ahad (2/9/2012) ribuan biksu berpakaian rahib warna merah-oranye berbaris di jalanan kota Mandalay, sementara para pendukungnya menyemut di tepi-tepi jalan. Mereka membawa spanduk bertuliskan, “Lindungi ibu pertiwi Myanmar dengan mendukung presiden!”

Menurut pakar masalah Myanmar, Hans-Bernd Zollner, ribuan rahib itu adalah biksu yang sama yang pernah berdemonstrasi pada tahun 2007 menentang junta militer. Junta tersebut yang sekarang mendukung pemerintahan Presiden Thein Sein, pernah menekan para demonstran biksu itu.

Lantas apa yang menyebabkan para biksu itu kini justru berbalik mendukung milliter Myanmar yang menyokong presiden dari militer itu? Tidak lain adalah karena mereka juga menentang keberadaan etnis Muslim Rohingya.

Orang Rohingya kebanyakan tinggal di bagian Barat Myanmar, di negara bagian Arakan atau Rakhine, berbatasan dengan Bangladesh. Mereka tidak dianggap sebagai warga negara dan tidak termasuk etnis minoritas di Burma yang diakui secara resmi oleh pemerintah. Perserikatan Bangsa-Bangsa menganggap Rohingya sebagai salah satu etnis yang paling terancam eksistensinya di dunia.

“Muslim dan khususnya Rohingya selalu menjadi bocah yang dicambuk (korban),” kata Zollner kepada Deutsche Welle. Menurut Zollner tradisi penindasan Buddhis atas kaum Muslim sudah berlangsung sejak masa penjajahan Inggris di Burma.

Buddhis memutarbalikkan fakta

Presiden Thein Sein menyalahkan kelompok Muslim dan rahib Buddhis sebagai biang terjadinya bentrokan di antara keduanya. Namun, pada saat yang sama mantan jenderal itu mengatakan kepada badan pengungsi PBB UNHCR bahwa tidak mungkin bagi Myanmar untuk mengakui Rohingya sebagai warganya. Thein Sein berdalih, Rohingya bukan etnis asal Burma dan mereka adalah para pendatang ilegal.

Para rahib itu menggunakan pernyataan Presiden Thein Sein tentang status Rohingya tersebut untuk menentang PBB dan juga eksistensi Muslim Rohingya, kata Phil Robertson wakil direktur Human Rights Watch untuk wilayah Asia.

Robertson mengatakan, para rahib Buddha “menggunakan PBB sebagai semacam target dari kemarahan mereka, dengan menuding bahwa PBB menunjukkan keberpihakan ke salah satu kubu, yaitu mendukung Rohingya dan tidak mendukung Rakhine.”

Sebagaimana diketahui etnis Rakhine beragama Buddha.

Namun Robertson menampik tuduhan keberpihakan itu dan PBB jelas-jelas juga mendukung kelompok Buddhis di Rakhine

“Masalah mendasarnya adalah para biksu itu dan orang-orang yang mendukung mereka … telah memutarbalikkan fakta di lapangan,” kata Robertson.

Hal senada disampaikan oleh peneliti Myanmar asal Jerman, Marco Bunte.

Pemutarbalikan fakta oleh kelompok Buddhis, di mana rasisme dan diskriminasi memainkan peran penting di dalamnya, bukan fenomena baru, kata Bunte. Ketegangan yang selalu ada itu kini mencuat ke permukaan, seperti borok lama yang muncul kembali.

Robertson menggambarkan nasib Rohingya sebagai kunci tonggak demokrasi di Myanmar.

“Rohingya merupakan ujian bagi negara multietnis Myanmar,” kata Robertson. “Sayangnya pemerintah gagal dalam tahap ini,” imbuhnya. Hal itu disebabkan karena pasukan keamanan Myanmar berpihak kepada Buddhis.

Sementara itu menurut Zollner, kasus Rohingya ini agak unik. Oleh karena dampak penderitaan Rohingya hanya memberikan efek kecil bagi persatuan Myanmar, maka tidak ada orang yang mau berpihak kepada Rohingya di dalam negeri. Konsekuensinya, siapapun yang berani menyatakan berpihak pada Rohingya di Myanmar, maka akan kehilangan dukungan dari dan pengaruh atas masyarakat mayoritas Buddhis. Tidak peduli apakah orang itu pejabat pemerintah, oposisi, Aun San Suu Kyi atau para tokoh lainnya.

Selama masalah struktural terkait mayoritas Buddhis di Myanmar tidak dapat diatasi, maka Muslim Rohingya juga tidak akan pernah hidup damai.

Buddhis serang Rohingya

Menjelang rombongan Turki yang disertai Menteri Luar Negeri Ahmet Davutglo dan isteri perdana menteri Turki Emine Erdogan berkunjung ke Myanmar untuk membawa bantuan kemanusiaan, Muslim Rohingya dilaporkan mendapat serangan lagi dari warga Buddhis.

Menurut laporan koran Vatan yang dikutip Today’s Zaman, Jumat (10/8/2012), pembantaian atas Muslim Rohingya meningkat menjelang kedatangan Davutoglu dan Emine Erdogan pada hari Kamis 9 Agustus lalu di Arakan.

Situs Amerika Salem News melaporkan, “Setelah mendengar tentang kunjungan delegasi Turki ke sini (Myanmar), Buddhis menyerbu rumah-rumah Muslim setempat dan membunuh puluha orang. Kami belum pernah melihat pemandangan yang mengerikan semacam itu. Bahkan sutradara yang paling berbakat sekalipun tidak bisa menyuting adegan horor seperti ini.”*

Rep: Ama Farah
Editor: Dija

Bagikan:

Berita Terkait

MA Jerman Larang Demonstrasi Anti-Lockdown

MA Jerman Larang Demonstrasi Anti-Lockdown

Pria Rohingya Dibunuh Usai Wawancara dengan Wartawan

Pria Rohingya Dibunuh Usai Wawancara dengan Wartawan

Manifesto Partai Jerman, AFD, Larang Adzan dan Cadar

Manifesto Partai Jerman, AFD, Larang Adzan dan Cadar

Polisi Anti-Teror Turki Serbu Kantor IHH, 2 Komandannya Dicopot

Polisi Anti-Teror Turki Serbu Kantor IHH, 2 Komandannya Dicopot

Rumah Mewah Para Uskup Agung AS di bawah Pengawasan

Rumah Mewah Para Uskup Agung AS di bawah Pengawasan

Baca Juga

Berita Lainnya