Selasa, 30 November 2021 / 25 Rabiul Akhir 1443 H

Internasional

Penyiar TV Kanada Mengolok-Olok Cadar dan Maria TV

Bagikan:

Hidayatullah.com—Seorang penyiar televisi Kanada mengenakan abaya lengkap dengan cadar saat menyampaikan memandu acara di Sun News TV, untuk mengolok-olok stasiun televisi Maria TV asal Mesir, lapor Al Arabiya (30/7/2012) yang mengutip kantor berita Maan.

Stasiun televisi satelit Maria TV diluncurkan sejak awal bulan Ramadhan ini. Lembaga penyiaran itu hanya menampilkan wanita-wanita bercadar di layar televisinya. Tidak hanya itu, para pekerja di belakang kamera pun semuanya bercadar.

Michael Coren berpakaian hitam-hitam dari ujung kaki hingga ujung kepala, disertai dengan cadar. Ia mengundang seorang tokoh Muslim dari Toronto untuk membahas stasiun televisi semacam Maria TV itu.

Coren bertanya kepada tokoh Muslim itu, kenapa wanita Muslim berpakaian “aneh seperti itu”? Penyiar TV Kanada itu juga bertanya mengapa pria Muslim tidak berpakaian hitam-hitam seperti wanitanya.

Imam itu menjawab, alasannya sama seperti biarawati Kristen mengenakan kerudung di gereja.

Awal bulan ini, Coren muncul dalam acara “Arena” membahas tentang seorang anak perempuan Muslim Kanada berusia 9 tahun yang menolak untuk melepas kerudungnya saat bermain sepakbola. Pada acara itu Coren berkata bahwa gadis kecil itu memiliki dua pilihan: melepas jilbabnya atau tidak bermain sepakbola.

“Al Qur`an hanya menuntut kesopanan. Meskipun itu tuntutan agama, memangnya kenapa? Kami menghormati hak kalian untuk mengenakannya (berkerudung), tapi itu bukan berarti kami memiliki kewajiban untuk memperolehkan kalian mengenakannya di liga sepakbola,” kata Coren sinis.

Maria TV

Nama Maria TV diambil dari nama salah satu istri Nabi Muhammad yang berasal dari Mesir, Mariyah Al Qibthiyah.

“Tujuan utama dari stasiun televisi ini adalah untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa ada wanita-wanita bercadar yang aktif, yang dapat memainkan peran dalam masyarakat dan menjadi sukses, menjadi dokter, insinyur atau awak media yang berhasil,” kata Abir Shahir, pimpinan presenter di stasiun televisi itu, dikutip Al Arabiya (26/7/2012).

“Kami ditindas selama puluhan tahun. Kami dilarang di tempat-tempat tertentu, kami diperlakukan berbeda di universitas-universitas dan di institusi pemerintah, hanya karena kami menjalankan kebebasan beragama kami dengan mengenakan pakaian yang kami yakini sesuai dengan ajaran Islam,” kata Shahir kepada AFP.

“Selama bertahun-tahun di media resmi Mesir, para wanita yang mengenakan kerudung dijauhkan dari kamera dan diberi pekerjaan yang tidak berkaitan dengan kamera. Saluran televisi ini menegaskan bahwa wanita-wanita yang mengenakan cadar memang ada di Mesir,” kata Mozn Hassan, direktur eksekutif Nazra, sebuah pusat studi wanita di Mesir, yang tidak mengenakan hijab.

Shahir menegaskan bahwa Maria TV bukan saluran televisi agama, melainkan stasiun televisi wanita. “Kami ini stasiun televisi budaya. Kami punya program acara anak-anak, menjahit, acara yang membahas tentang relasi, komedi, politik.” jelas Shahir. “Kami punya yang semuanya wanita butuhkan.”*

Rep: Ama Farah
Editor: Dija

Bagikan:

Berita Terkait

AS Marah Hait al-Buraq Disebut Milik Palestina

AS Marah Hait al-Buraq Disebut Milik Palestina

Saksi: 500 Imigran Sengaja Ditenggelamkan di Laut Malta

Saksi: 500 Imigran Sengaja Ditenggelamkan di Laut Malta

Bantu Curi Dokumen, Staf IT Vatikan Disidang

Bantu Curi Dokumen, Staf IT Vatikan Disidang

Amerika Kurangi Bantuan Dana ke Afghanistan

Amerika Kurangi Bantuan Dana ke Afghanistan

Giliran PM Prancis Jean Castex Positif Covid-19

Giliran PM Prancis Jean Castex Positif Covid-19

Baca Juga

Berita Lainnya