Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

Istri Presiden Mesir Tolak Dipanggil Ibu Negara

Baginya, di Ikhwanul Muslimin, jabatan adalah amanah dan pelayan
Bagikan:

Hidayatullah.com–Naglaa Ali Mahmud, istri presiden Mesir yang baru terpilih Muhammad Mursy, memang sangat berbeda dengan pendahulunya, Suzanna Mubarak. Meski keduanya sama-sama menikah dengan calon-calon presiden masa depan pada umur remaja, namun gaya Mubarak yang penuh gemerlap dan kebarat-baratan membuatnya berjarak dengan masyarakat Mesir. Kehidupan Mahmud sebagai ibu rumah tangga yang memakai abaya lebih mencerminkan perempuan kebanyakan di negara itu.

Balam sebuah wawancara  dengan Voice of America (VOA) pada masa awal kampanye presiden di rumah mereka di Edwa, sebelah Timur delta Sungai Nil, saat suaminya sedang berada di lantai atas dan cucu-cucu mereka berikut kawan-kawannya dari desa bermain di kamar sebelah, Mahmud mendiskusikan masa awal pernikahan, gerakan Al Ikhwan al Muslimun, dan apa yang akan terjadi di masa depan.

Tentang suami, yang dipanggilnya Dr. Mursy, Al Ikhwan al Muslimun, dan hidupnya sebagai istri belia dari suami yang sudah S2 di California.

“Dr. Mursy bergabung dengan Al Ikhwan al Muslimun 31 tahun yang lalu, saat kami tinggal di Los Angeles. Anggota gerakan tersebut sangat terbuka dan menjelaskan bahwa keterlibatan dalam gerakan berisiko penjara, dan salah satu hal yang penting adalah bahwa istri setuju dengan jalan hidup tersebut sehingga rumah tangga tidak goyah. Bagi kami [Ikhwan], keluarga adalah sangat penting. Jadi, jika sang istri tidak mampu menghadapi ekspektasi-ekspektasi tersebut, maka Anda tidak akan dipaksa bergabung. Dr. Mursy datang pada saya dan mengatakan bahwa Al Ikhwan  mengatakan bahwa ada risiko penjara dan hilang pekerjaan. Semua itu terjadi pada saat kami masih di Amerika. Saya katakana padanya, ”Tidak masalah. Tidak ada masalah. Mari kita jalani, Insya Allah.’”

Tentang memimpin negara, dan peran sentral Al Ikhwan al Muslimun dalam hidup mereka. Setelah terpilih menjadi presiden, Mursy secara terbuka keluar dari gerakan yang dipimpin oleh dewan syuro tersebut.

“Ini alasannya mengapa kita memiliki banyak kekhawatiran berada dalam posisi yang bertanggung jawab atau sensitive. Kami prihatin, tidak bahagia. Kami cemas dan takut, namun tentu saja pada akhirnya kami memiliki lembaga yang bisa kami patuhi. Kami patuh pada dewan syuro dan ini adalah kewajiban kami pada Mesir saat ini.”

Sedang pesannya pada kaum Kristen Koptik (Qibthi) di Mesir.

“Saya ingin mengatakan bahwa kita ada di tanah air yang sama, keturunan yang sama. Islam tidak membedakan antara Muslim dan Kristen. Sebaliknya, kami belajar bahwa dalam Islam, umat Muslim dan Kristen memiliki hak penuh yang sama di negara yang sama. Mereka memiliki apa yang kami punya, dan kita semua memiliki kewajiban yang sama. Saya pribadi mengenal anggota masyarakat beragama Kristen, baik perempuan maupun laki-laki, dan saya bersyukur pada Tuhan, hubungan saya dengan mereka baik.”

Tentang peran sebagai ibu negara dan presiden, wanita sederhana ini justru menolak dipanggil “Ibu Negara” serta menolak pengawalan.

“Panggil saja saya istri presiden,” katanya dikutip Associated Press (AP). “Bukankah istri presiden adalah ibu negara,” ucap AP. Ia berkeras tetap ingin dipanggil Umi Ahmad, artinya Ibunya Ahmad. Ahmad adalah putra pertama pasangan ini. Kalau toh ada sebutan gelar, dia menjelaskan, dirinya tak keberatan dipanggil sebagai “pelayan masyarakat”.

Dia juga mengatakan, dalam Islam dan gerakannya di Ikhwanul Muslimin, jabatan adalah amanah dan pelayan.

”Dalam Al Ikhwan al Muslimun, kedudukan presiden dianggap sebagai pelayan nomor satu, karena presiden republik ini seharunya menjadi pelayan utama Mesir. Ia yang akan menjadi sponsor, dan ini adalah ajaran Islam. Dalam Islam, siapa saja yang memimpin dan mengelola urusan negara, seperti yang dikatakan oleh khalifah Umar Ibn al Khattab, ”jika ada unta yang jatuh di daerah Iraq, saya yang akan diminta pertanggungjawaban. Inilah Islam.”

Saat ditanya suaminya, ia menjawab, ”Ia orang yang sangat seimbang, sangat serius. Ini bukan karena ia suami saya. Tapi memang sifatnya seperti itu. Ia sangat seimbang dan rasional serta bermental politis. Saya telah menikah dengannya selama hampir 31, 32 tahun. Saya tidak bilang dia pelawak, tapi ia punya selera humor dan pandai menghibur. Ia serius di saat yang serius dan menghibur di kala susah.”

Pada penampilannya pertama di depan publik sebagai istri Presiden Mesir, ibu negara ini tetap mengenakan penutup aurat, jilbab. Penampilannya tidak dicemooh oleh banyak orang, tapi  mereka meminta agar ada pilihan lain dari jilbab yang dikenakan seperti yang biasa dipakai oleh seragam aktivis perempuan al Ikhwanul al Muslimun.*

Rep: Panji Islam
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Paus Benedictus Dinilai Punya Masalah Humas

Paus Benedictus Dinilai Punya Masalah Humas

Jelang Ramadhan Jamaah Berbondong ke Tanah Suci

Jelang Ramadhan Jamaah Berbondong ke Tanah Suci

Los Angeles Larang Penggunaan Tas Plastik

Los Angeles Larang Penggunaan Tas Plastik

Sekitar 50.000 Hewan Qurban akan Disembelih di Riyadh

Sekitar 50.000 Hewan Qurban akan Disembelih di Riyadh

Amnesty: Muslim Eropa Diperlakukan Diskriminatif

Amnesty: Muslim Eropa Diperlakukan Diskriminatif

Baca Juga

Berita Lainnya