Sabtu, 16 Oktober 2021 / 9 Rabiul Awwal 1443 H

Internasional

Dilarang Hina Yahudi di Belanda

Bagikan:

Hidayatullah.com–Satu dari sedikit tabu di Belanda adalah, tidak boleh menulis, memberitakan atau mengucapkan sesuatu yang negatif mengenai kaum Yahudi. Untuk itu dibuat sejumlah peraturan melarang antisemitisme.

Tabu terbesar di negeri Kincir Angin ini sering kali berusaha didobrak. Tapi hasilnya masih jauh dari sukses.

Harry de Winter seorang produser, dan pembawa acara televisi terkenal Belanda mengkritik film Fitna buatan politikus Geert Wilders. Ia lewat iklan satu halaman besar di koran De Volkskrant menyatakan, “Apabila Wilders melakukan hal sama terhadap orang Yahudi, seperti ia lakukan terhadap muslim, maka ia sudah dari dulu ditangkap dan dihukum dengan alasan antisemitisme,” dikutip RNW (11/11/2011) 

Aksi de Winter langsung menuai banyak kecaman.

De Winter sendiri orang Yahudi. Tapi bersama sejumlah tokoh beken Belanda lain, ia mendirikan yayasan ‘Een ander Joods geluid’ atau suara lain dari kaum Yahudi. Yayasan ini mendorong diskusi umum dan opini kritis mengenai Israel. Terutama sikap kaum Yahudi di Belanda yang mentolerir politik pendudukan Israel.

Dalam sebuah acara televisi di Belanda Harry de Winter mengatakan, “saya orang Yahudi, apabila saya berbicara tentang Israel, maka saya diharapkan selalu pro-Israel. Kalau tidak saya dianggap pembangkang.”

Ia tidak mendukung kebijakan pemerintah Tel Aviv merebut tanah rakyat Palestina. Pernyataannya yang terkenal, “Israel bukan lagi korban, tapi penjajah dan pembunuh.”

Pemerintah Belanda selalu menjalankan kebijakan mendukung Israel. Misalnya: pemerintah Den Haag menolak keanggotaan Palestina dalam PBB, dan juga menentang keanggotaan Palestina dalam organisasi pendidikan dan kebudayaan PBB, UNESCO.

Menurut Den Haag keanggotaan Palestina di PBB haruslah hasil dari perundingan dengan Israel.

Partai-partai Kristen Belanda mendukung Israel karena merasa bersaudara dengan umat Yahudi. Sementara partai liberal mendukung Israel karena negara ini satu-satunya negara yang dianggap demokratis di Timur Tengah.

Bendera Palestina

Gretta Duisenberg adalah aktivis politik Belanda dan ketua Yayasan ‘Stop de Bezetting’ atau Stop Pendudukan. Ia adalah istri almarhum Presiden bank Sentral Eropa, Wim Duisenberg. Gretta selalu mendukung kepentingan Palestina dan tidak jarang mengeluarkan pernyataan-pernyataan kontroversial.

Salah satu tindakan, yang paling banyak dibicarakan adalah pengibaran bendera Palestina di balkon rumahnya di Amsterdam tahun 2002. Gretta memprotes aksi tentara Israel yang menduduki dan menembaki sejumlah kota di Tepi Barat.

Berita ini menarik perhatian internasional, setelah tetangganya, orang Yahudi, memprotes pengibaran tersebut. Setelah beberapa minggu bendera diturunkan dari balkon dan dipajang di berbagai rumah di Belanda, dalam rangka kampanye membela rakyat Palestina.

Tahun 2002 Gretta dan yayasannya mengumpulkan tanda tangan lewat email, menentang pendudukan Israel di Palestina. Ketika ditanya seorang presentator televisi berapa banyak tanda tangan ia ingin kumpulkan, Gretta menjawab: enam juta.

Kata enam juta, menjadi alasan bagi dua orang pengacara terkemuka Belanda mengajukan gugatan terhadap Gretta. Enam juta diasosiasikan dengan enam juta orang Yahudi yang menjadi korban Holocaust. Tapi gugatan ini ditolak hakim, karena dianggap tidak menyebabkan kebencian terhadap orang Yahudi.

Ajax

Klub sepak bola Ajax dianggap sebagai klub Yahudi. Suporter klub-klub lawan seperti Feyenoord dan ADO Den Haag, memandang Amsterdam sebagai kota Yahudi. Mereka mulai menyanyikan semboyan-semboyan antisemitisme saat pertandingan bola.

Yayasan Pemberantasan Antisemitisme (BAN), bulan lalu mengatakan akan mengajukan gugatan terhadap Ajax, bila klub itu tidak menindak para bonek yang kerap berseru: YAHUDI, YAHUDI! Menurut BAN hal ini memang maksudnya tidak menyakiti hati orang Yahudi, tapi itu toh terjadi. Sorakan-sorakan justru memicu teriakan-teriakan antisemitisme dari kubu lawan.

Beberapa bulan lalu, Yayasan BAN memenangkan proses pengadilan terhadap ADO Den Haag, yang harus menindak suporter berteriak antisemitis saat pertandingan. Yel-yel ketika itu adalah “Hamas Hamas, Yahudi digas” dan “Kami memburu Yahudi”. Hakim memutuskan ADO Den Haag mulai sekarang harus menindak pekikan serupa itu.*

Rep: Panji Islam
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Bawa Balon, Warga Mongolia Protes Polusi Udara

Bawa Balon, Warga Mongolia Protes Polusi Udara

NATO Dukung Serangan ke Suriah oleh AS, Inggris dan Prancis

NATO Dukung Serangan ke Suriah oleh AS, Inggris dan Prancis

al-azhar masjid al-aqsha

Grand Syeikh Al-Azhar Menolak Sebut Ikhwanul Muslimin ‘Teroris’

Juru Kamera  Malaysia Tewas di Somalia

Juru Kamera Malaysia Tewas di Somalia

Pertemuan Cendekiawan Muslim di Istanbul Bahas Pembebasan Baitul Maqdis

Pertemuan Cendekiawan Muslim di Istanbul Bahas Pembebasan Baitul Maqdis

Baca Juga

Berita Lainnya