Senin, 29 Maret 2021 / 15 Sya'ban 1442 H

Internasional

Kelantan Kehilangan Seorang Ulama Tersohor

Bagikan:

AYAT-AYAT suci al- Quran  yang dibacanya begitu nyaring dan bertenaga. Siapa juga yang menjadi makmun, yang belum kenal  suara atau melihat wajahnya, pasti akan mengatakan, lelaki yang sedang  mengimamkan  sholat itu usianya sekitar 30-an. Namun bagi mereka yang sudah kenal biasa dengannya, sosok yang bersuara merdu dengan vokal yang sangat  bertenaga itu,  adalah seorang yang sudah berusia senja.

Meskipun usianya sudah lanjut,  namun saat berbicara  dengan    tamu atau memberi kuliah kepada santri, suaranya begitu mantap, bersemangat dan menyakinkan.

Percakapannya sarat dengan nasihat keagamaan tapi  selalu diselipi humor.  Siapapun yang berbicara dengannya, pasti tidak sadar dan mampu berjam-jam.

Beliau tak lain adalah Tuan guru Haji Hashim Abu Bakar atau lebih akrab dengan panggilan Ayah Sin.  Pada tanggal 30 Agustus 2011, jam 1.15 sore waktu Malaysia, saat umat Islam merayakan hari raya Iedul Fitri, tokoh ulama tersohor itu kembali rahmatullah dalam usia 91 tahun di rumahnya di komplek Madarasah Ad-Daniah Balakariah Pasir Tumboh, Kota Bharu, Kelantan, karena sakit tua.

Lahir pada 1920, di Kg. Pantai Johor, Alor Setar, Kedah, dari keluarga ulama. Ayahnya berasal dari Pattani yang berhijrah ke Kedah dan menikah dengan anak  setempat.  Pada 1935, ketika usianya 12 tahun, ibu bapanya mengantar belajar di Darul Ulum dan di Masjidil Haram, Makkah.  Gurunya ketika itu, adalah Syeikh Mohd. Yasin al Padangni, seorang ulama terkenal di Makkah asal  Minangkabau, Indonesia,  Syeikh Hassan Mashud dan Syeikh Muhamad Alawi daripada Maghribi.

Sekembalinya ke tanah air (1939), dia menyambung lagi pengajian secara tradisional di Madarsah Asyariah, Bagan Datok, Perak, selama setahun (1940). Semasa Jepang menduduki Tanah Melayu beliau kembali ke kampung kelahirannya di Kedah, sehingglah pada 1946.  Setahun  selepas tentera Jepun   menyerah kalah, Haji Hashim berhijrah ke Kelantan. Ketika  di Kelantan, dia mendalami lagi ilmu agama di Pondok Bunut Payung.

Antara rekan-rekan sepengajian beliau ketika itu, saat di Makkah, maupun di tanah air, adalah bekas guru di Ma’had Muhammadi, Ustaz Haji Hasan Idris, yaitu anak Tok Guru Haji Idris, Bachok dan Tok Guru Ayah Kob, Machang, Kelantan.

Madarasah Ad-Daniah Bal-akariah atau nama popularnya Pondok Terosan, Pasir Tumboh,  dibuka pada 1953 oleh dua orang ulama bersuadara,  Haji Mustafa bin Abu Bakar dan adiknya Haji Abdul Aziz Abu Bakar. Ketika itu   Ayah Sin menyambung sentri di pesantren tersebut. Minat beliau kepada pengajian Islam secara tradisional  menjadikan dirinya sangat sinonim dengan suasana pesantren.

Kebetulan, almarhum mempunyai hubungan kekeluargaan dengan Tok Guru Haji Abdul Aziz atau nama akrabnya,  Tok Guru Ayah Jik, adalah adik ipar. Menurut  haraki pondok Terosan, Ayah Sin  merupakan murid paling kanan antara ribuan murid yang belajar di situ ketika itu. Justeru ketika Tok Guru Ayah Jik meninggal dunia, maka kepimpinan pesantren  Pasir Tumboh diserahkan kepada beliau.

Ayah Sin,  mulai memimpin pesanteran  pada 1987. Banyak perubahan dilakukannya sedikit demi sedikit, terutama membangunan prasarana. Masjid diperbesarkan, asrama-asrama moden untuk sentri setingi 5 lantai didirikan. Lengkap dengan kantin, kedai runcit dan lain-lain kemudahan, bagi menggantikan rumah-rumah kecil bebentuk pondok kayu yang sudah usang dan tidak teratur.

Hari ini, siapapun yang berkunjung ke Pondok Terosan, akan terpegun dengan pembanguan yang dijalankan berbanding dengan sebelumnya.

Meskipun,  sekolah-sekolah aliran agama dibangun di setiap daerah dan kota dengan sistem pembelajarannya  secara moden, namun kaedah pembelajaran agama secara tradisional seperti dipraktikkan di sini  terus kekal.

Sekarang terdapat sekitar 500 sentri  daripada seluruh Malaysia, dan  luar negara seperti Pattani (Thailand)  dan Kemboja belajar di sini secara tetap, disamping ratusan lagi para pelajar yang mengikuti pengajian secara tidak formal, mayoritas warga setempat.

Karena jasa-jasa beliau  dalam perkembangan agama Islam, khususnya dalam mempertahankan  institusi pondok tradisional untuk terus bediri sama tinggi dengan institiusi pengajian Islam secara moden, pada 2007 pemerintah Kelantan  mencalonkan beliau sebagai Tok Maal Hijrah 1428H bagi Negeri Kelantan.

Pada 2010, KDYMM Al Sultan Kelantan, Sultan Muhammad V memperkenankan menganugerah gelaran Dato’ kepada beliau.

Ayah Sin yang mempunyai lima orang anak, dua lelaki dan tiga perempuan merupakan ulama yang disegani lagi dihormati. Beliau juga merupakan seorang yang zuhud. Sering dijemput untuk mengimamkan sholat hajat perdana, yang dihadiri ribuan makmun, bila sesuatu kepentingan Islam coba diinjak-injak oleh musuh Islam.*/Rossem, Kelantan, Malaysia

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Yahudi Ortodoks Sebut Polisi Israel Nazi

Yahudi Ortodoks Sebut Polisi Israel Nazi

FBI Selidiki Kemungkinan Penyadapan oleh News Corp

FBI Selidiki Kemungkinan Penyadapan oleh News Corp

AS Masukkan Pimpinan Taliban Pakistan Daftar Teroris

AS Masukkan Pimpinan Taliban Pakistan Daftar Teroris

Lima Masjid Dibakar dan 30 Tewas dalam Konflik di Myanmar Terbaru

Lima Masjid Dibakar dan 30 Tewas dalam Konflik di Myanmar Terbaru

Angka Kelahiran di Jerman Turun, Wanita Berpendidikan Menunda Berkeluarga

Angka Kelahiran di Jerman Turun, Wanita Berpendidikan Menunda Berkeluarga

Baca Juga

Berita Lainnya