Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Internasional

Hanya Penentang Jilbab yang Selalu Diberi Tempat

Bagikan:

Hidayatullah.com–Bertahun lamanya jilbab menjadi perdebatan sengit di kalangan politisi Belanda. Negara Eropa barat lainnya juga tak ketinggalan. Masalah jilbab perempuan Muslim masih menjadi bahan diskusi yang tak ada hentinya. Kendati demikian tak pernah ada kesimpulan, pendapat soal ini justru terbelah. 

Prancis melarang murid dan guru perempuan mengenakan jilbab di sekolah-sekolah umum sejak tahun 2004. Sementara di beberapa wilayah di Jerman larangan itu hanya berlaku untuk para guru perempuan. Di Belanda juga masih berlangsung debat sengit dan sampai saat ini belum ada kesimpulannya.

Doutje Lettinga, dari Vrije Universiteit di Amsterdam Belanda, melakukan penelitian soal debat politik menyangkut jilbab. Konsep nasional soal agama dan etnis memainkan peran penting.

Menurut Lettinga, tradisi Prancis adalah sekuler. Agama hanya boleh dijalankan di rumah serta di wilayah pribadi lainnya. Sementara Belanda mengizinkan ekspresi keagamaan di tempat-tempat umum dan semua agama dianggap sama rata. Sementara di beberapa wilayah negara bagian Jerman, kelompok mayoritas diizinkan untuk mengenakan simbol agama, sedangkan minoritas tidak. Seorang biarawati boleh memberikan pelajaran dengan jubahnya

Isu Politik

Jilbab menjadi pembicaraan hangat di antara partai politik, sebagai dampak munculnya partai-partai populis. Para kritisi beranggapan, jilbab sebagai simbol kegagalan integrasi dan penindasan perempuan.

Belanda—yang sejak tahun 90 an menerima kritik soal kehidupan multikultural—juga tak ketinggalan. Perdebatan politik soal jilbab terus menghangat. Suara perempuan pemakai jilbab sendiri tidak terdengar.

Menurut Lettinga, dari sekian ratus debat, diskusi politik dan mosi yang diamatinya, hanya ada sedikit perempuan berjilbab yang diundang untuk mengeluarkan pendapatnya. Sementara perempuan muslim yang menentang jilbab justru mendapat kesempatan untuk berbicara.

Hal itu terutama terjadi di Prancis dan Jerman. Sementara di Belanda perempuan yang mengenakan jilbab dapat mengadukan nasibnya ke Komisi Penanganan Kesamaan Hak, yang merupakan wadah bagi para muslimah untuk menuntut haknya.

Percaya Diri

Familie Arslan adalah pengacara pertama di Belanda yang mengenakan jilbab. Para hakim dan jaksa dilarang mengenakan penutup kepala muslimah untuk tetap menjaga kenetralan dan keimbangan. Sementara pengacara boleh mengenakannya. Jilbab merupakan pembicaraan yang tak ada habisnya di Belanda.

”Dulu anda kadang anda melihat perempuan dengan jilbab yang bekerja membersihkan rumah. Anak-anak para pekerja migran kini lebih banyak yang berpendidikan tinggi dan memiliki posisi yang baik dalam masyarakat. Mereka berpandangan: Saya menjalakan agama saya. Sikap percaya diri seperti itu banyak menimbulkan perlawanan.”

Debat Menguntungkan

Para penentang jilbab secara terbuka mengeluarkan pendapatnya. Pemimpin PVV Geert Wilders pernah mengusulkan pajak untuk para pemakai jilbab.

“Pajak kain usang penutup kepala”, namanya. Baik istilah dan usulannya itu memukul para muslimah. Sementara anggota liberal parlemen Jeanine Hennis seperti halnya PVV mengusulkan larangan mengenakan jilbab di kantor pemerintah.

Pengacara Arslan mengatakan diskusi itu justru memperkuat posisi pemakai jilbab.

”Yang terjadi di Belanda tampaknya mengejutkan, jika dipandang dari luar. Namun sebetulnya Belanda lebih maju dibanding negara-negara lainnya. Di Belanda, debat jilbab berlangsung terang-terangan. Itu lebih baik, daripada pertentangan yang tidak terlihat. Akibat Wilders, para muslim setidaknya bergerak untuk lebih gencar lagi menuntut haknya.”

Pemerintah kini sedang menggarap nota integrasi yang berisi antara lain penerapan larangan mengenakan burka mulai tahun 2013. Sementara soal larangan mengenakan jilbab pun sampai saat ini belum diputuskan. *

Rep: Cholis Akbar
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Senjata Pelaku Serangan Paris Dipastikan Dibuat di Serbia

Senjata Pelaku Serangan Paris Dipastikan Dibuat di Serbia

Mike Tyson Ramadhan di Makkah,  Menangis di Makam Nabi

Mike Tyson Ramadhan di Makkah, Menangis di Makam Nabi

Sekjen PBB Ban Ki-moon Tiba di Baghdad

Sekjen PBB Ban Ki-moon Tiba di Baghdad

Meski Krisis Diplomasi, Turki Akhirnya Undang Mesir untuk Pertemuan OKI

Meski Krisis Diplomasi, Turki Akhirnya Undang Mesir untuk Pertemuan OKI

Warga Inggris Krisis Gizi karena Krisis Finansial

Warga Inggris Krisis Gizi karena Krisis Finansial

Baca Juga

Berita Lainnya