Sabtu, 27 Maret 2021 / 13 Sya'ban 1442 H

Internasional

Barat Khawatirkan Tumbuhnya Sikap Anti-Barat di Mesir

Bagikan:

Hidayatullah.com–Lebih dari separuh warga Mesir menginginkan kesepakatan damai dengan Israel, melalui Perjanjian Camp David 1979, diakhiri. Hal itu terungkap dari sebuah jajak pendapat yang dilakukan lembaga riset Amerika Serikat, Pew Research Center.

Dirilis cbsnews, Selasa (26/4), jajak pendapat tersebut mengungkap bahwa sebenarnya kesepakatan damai dengan Israel yang dibuat mendiang Presiden Anwar Sadat, tak bisa diterima mayoritas rakyat Mesir.

Berdasarkan kesepakatan itu, Mesir menjadi negara Arab pertama yang mengakui sekaligus bersabahat dengan Israel. Sebaliknya, Mesir mendapatkan lagi wilayah Semenanjung Sinai yang direbut Israel pada perang 1967. Pada 1981, Sadat terbunuh, dan ia digantikan Hosni Mubarak yang selama 30 tahun berkuasa membawa hubungan Mesir-Israel ke tingkat yang sangat dekat, nyaris sebagai sekutu.

Dengan tergulingnya Mubarak pada 11 Februari lalu, Barat memang mengkhawatirkan tumbuhnya sikap anti-Barat di Mesir, dan hal itu terbukti dari jajak pendapat.

Menurut jajak pendapat itu, hanya 36 persen responden yang setuju kesepakatan damai dengan Israel dipelihara, berbanding dengan 54 persen yang memilih perjanjian itu diakhiri.

Jajak pendapat melibatkan 1.000 responden dan dilakukan pada 24 Maret hingga 7 April.

Tolak Zionis

Pasca jatuhnya Husni Mubarak diperkirakan kedekatan Israel dan Mesir akan berubah haluan. Kini, banyak warga Mesir tak menginginkan pemerintahnya dekat dengan Negeri Zionis tersebut. Televisi al-Alam Hari Sabtu,  16 April melaporkan, rakyat Mesir berkumpul di depan konsulat Zionis di kota Iskandariyah, Mesir utara, dan menekankan pemutusan hubungan dengan Tel Aviv serta pengusiran dubes ilegal itu dari Kairo.

Para demonstran dengan slogan-slogannya menyuarakan dukungannya terhadap rakyat tertindas Palestina. Sejumlah aksi demo anti-Israel digelar rakyat Mesir pasca tergulingnya Presiden Husni Mubarak. Pekan lalu juga terjadi aksi serupa di depan kedutaan besar Israel di Kairo.

Sebelumnya, Perdana Menteri Mesir Essam Sharaf meminta revisi semua kontrak yang terkait dengan ekspor gas alam ke luar negeri, terutama pada Zionis-Israel.

Sharaf mengatakan  revisi yang direncanakan Kairo akan menambah pendapatan Mesir tiga hingga empat miliar dolar. Sebagaimana banyak ditulis media, Husni Mubarak telah menjual gas alamnya ke Israel dan beberapa negara Barat dengan harga rendah. Tel Aviv akan sangat terpukul dengan keputusan Kairo yang sebelumnya memasok sekitar 40 persen kebutuhan gas Israel.*

Rep: Muhammad Usamah
Editor: Panji Islam

Bagikan:

Berita Terkait

Rihanna Diprotes setelah Gunakan Lagu Berlirik Hadits dalam Peragaan Busana Pakaian Dalam

Rihanna Diprotes setelah Gunakan Lagu Berlirik Hadits dalam Peragaan Busana Pakaian Dalam

Snowden Minta Suaka ke Ekuador

Snowden Minta Suaka ke Ekuador

Asosiasi Sopir Taksi London Mungkin Akan Menggugat Uber

Asosiasi Sopir Taksi London Mungkin Akan Menggugat Uber

Polisi Belanda Mencurigai Narkoba Diselundupkan Lewat Jalur Perdagangan Bunga

Polisi Belanda Mencurigai Narkoba Diselundupkan Lewat Jalur Perdagangan Bunga

Korban dan Aktivis Mavi Marmara Banding atas Putusan ICC yang Menolak Mengadili Zionis

Korban dan Aktivis Mavi Marmara Banding atas Putusan ICC yang Menolak Mengadili Zionis

Baca Juga

Berita Lainnya