Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

FLP Australia Adakan Pelatihan Menulis

Bagikan:

Hidayatullah.com–Hidup di negeri lain tentu memberikan pengalaman berharga yang tidak semua orang bisa merasakannya. Kekhasan budaya, iklim, dan cara hidup saat tinggal dan belajar di Australia menarik untuk diceritakan kepada orang lain, khususnya di Tanah Air. Foorum Lingkar Pena (FLP) Australia bekerjasama dengan PPIA-ACT pada tangal 6 Maret 2011 menyelenggarakan pelatihan menulis dengan tema: “Dari Novel ke Layar Lebar” dengan pembicara Habiburrahman El Shirazy (Kang Abik) dan Dr. Minako Sakai.

Acara tersebut dibagi kedalam dua sesi, yaitu sesi untuk masyarakat umum dan dilanjutkan dengan sesi khusus pelatihan penulisan.

Menurut pembicara utama, Kang Abik, meski banyak orang berkeinginan menulis, tetapi tidak semua bisa mewujudkannya. Ada banyak alasan yang membuat orang tidak jadi menulis, mulai dari merasa tidak punya bakat, banyaknya kesibukan, sampai takut “kadar intelektualitasnya diukur orang lain”.

Di acara inilah Kang Abik memotivasi para penulis pemula untuk terus berkarya. Dalam bahasa Kang Abik, setiap orang yang bisa membuat selembar surat, berarti mempunyai kans untuk menjadi penulis handal. Syarat yang diberikan penulis buku best seller Ayat-Ayat Cinta tersebut jauh lebih ringan dari yang diberikan misalnya oleh Ahmadun Y. Herfanda, yaitu orang yang bisa membuat skripsi maka memiliki kemampuan menjadi penulis.

Menurut sutradara film “Dalam Mihrab Cinta” ini pula, modal utama penulis adalah niat yang kuat. Seorang Iwan Gayo, atau Dr. Abdul Hadi W.M., berhasil mewujudkan impiannya menjadi penulis terkenal setelah upaya yang kesekian kalinya. Buku Pintar Iwan Gayo ditolak oleh beberapa penerbit sebelum akhirnya diterbitkan sendiri dan sukses besar.

Penyair Dr. Abdul Hadi W.M menurut Kang Abik harus mencoba lebih seratus kali mengirimkan puisi sebelum akhirnya diterima oleh media massa. Orang akan dengan mudah menyebut seseorang berbakat menulis ketika seseorang tersebut telah berhasil. Dari sisi penulis, ketika telah diterbitkan, kepercayaan dirinya akan semakin menjulang. Jadi, tanpa niat yang kuat meskipun seseorang mengikuti puluhan kali pelatihan menulis atau membaca ratusan buku motivasi menulis tidak akan banyak manfaatnya.

Sedangkan terkait inspirasi tulisan menurut Kang Abik orang bisa mengupayakannya dengan berbagai cara. Ada yang mencari inspirasi dengan berlayar seperti dilakukan oleh Ernest Hemingway, tiduran di stasiun seperti dilakukan oleh Gerson Poyk, atau bahkan bermula dari sobekan koran seperti terjadi pada Ali Muakhir yang meraih juara pertama Lomba Cipta Cerpen Remaja. Jika ide dan inspirasi ibarat ikan-ikan di lautan, seorang penulis menurut Bambang Trim seperti dinukil Kang Abik harus berusaha keras dan memiliki kepiawaian untuk mengailnya. Bagi sebagian orang ilham dalam menulis bisa saja datang begitu saja sebagai karunia Allah yang sangat berharga.

Ditambahkan oleh Kang Abik bahwa saat memperjuangkan sesuatu yang diyakini, maka semangat untuk menulis akan terus menyala diujung pena. Dicontohkan bagaimana seorang Yusuf Qaradhawi menulis lebih dari enam puluh buku best seller yang tersebar di seluruh dunia. Juga, seorang Imam Bukhari harus melakukan perjalanan ribuan kilometer sambil memunguti dan menghafal lebih dari 600 ribu hadits di berbagai negara selama lebih dari 16 tahun serta  menyeleksinya melalui proses penyucian jiwa untuk sebuah buku kumpulan 4.000 hadits shahih, demi rasa cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Seorang J.K. Rowling mendapatkan penghasilan bulanan yang lebih besar dari Ratu Elizabeth dan ketenaran yang melebihi Kaisar Jepang karena membawa idealisme. Bahkan seorang Karl Mark yang komunis-pun menghasilkan karya yang monumental, Das Capital, karena memperjuangkan sesuatu. Sebagai seorang penulis, Kang Abik mengakui bahwa kekuatan cinta-lah yang membuatnya bisa menyelesaikan buku laris Ayat-Ayat Cinta, Diatas Sajadah Cinta, Ketika Cinta Berbuah Surga, Pudarnya Pesona Cleopatra, Ketika Cinta Bertasbih, Dalam Mihrab Cinta, dan Bumi Cinta.

Kang Abik dalam acara pelatihan tersebut membagikan pengalaman pribadinya sebelum berhasil menelorkan karya yang diterima khalayak luas, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di Malaysia, Brunei Darussalam, Mesir, Hongkong, Singapura, Taiwan dan Australia. Beliau menjadi sastrawan karena terpicu oleh kemenangan lomba deklamasi saat Sekolah Dasar dan bangga mendapatkan hadiah buku tulis. Pengalaman itu terus memacunya untuk menyenangi puisi dan cerpen saat menempuh MTs Futuhiyyah 1 Mranggen dan Pondok Pesantren Al Anwar,  Demak.

Persentuhannya dengan banyak perlombaan baca puisi, pidato dan olah teater di Surakarta turut mengasah bakat berkeseniannya yang mengantarkannya memenangkan berbagai penghargaan.

Hoby berkesenian itupun akhirnya tetap dipelihara saat melanjutkan kuliah di Fakultas Ushuluddin, Jurusan Hadist Universitas Al-Azhar. Novelnya yang berjudul Ayat-Ayat Cinta akhirnya menjadi best seller dan bahkan dijadikan mahar pernikahan beliau yang terasa sangat istimewa.

Dr. Minako Sakai, seorang Jepang pengajar bahasa Indonesia di beberapa universitas di Australia menceritakan pengalamannya menangis saat membaca buku Ayat-Ayat Cinta ini ketika berada di Palembang.

Minako Sakai terkesan terhadap karya-karya Kang Abik yang menurutnya banyak menyentuh perasaan.

Di sesi pelatihan menulis, Kang Abik memaparkan bagaimana kiat-kiat menjadi penulis novel best seller dengan “enam langkah dan tujuh pertanyaan”. Ibarat jurus-jurus pencak silat, Kang Abik memberikan tips-tips berdasarkan pengalaman keberhasilan yang pernah dialaminya sendiri.

Acara ini sangat bermanfaat bagi masyarakat dan para student Indonesia yang sedang belajar di Australia, beberapa diantaranya bahkan datang langsung dari Sydney. Beberapa penggemar Kang Abik dari Malaysia juga terlihat hadir di acara tersebut dan merasa senang karena terdapat pula sesi tanda tangan buku dan sesi foto bersama.

Berbekal kesuksesan di pasar, beberapa novel Kang Abik telah difilmkan dan meraih kesuksesan pula. Meski kecewa karena bahasa film tidak bisa mengungkapkan seluruh imajinasi dalam sebuah novel, adaptasi novel kedalam film memberi banyak pengalaman bagi Kang Abik yang bersedia berbagi pengalaman dalam acara tersebut. Acara semakin semarak dengan pemberian door prize berupa buku dan produk kerudung dari sponsor bagi yang berhasil menjawab pertanyaan yang diberikan. Para peserta pelatihan penulisan sangat antusias mengikuti acara yang diadakan di Balai Kartini, KBRI Canberra tersebut dengan memberikan banyak pertanyaan kritis dan menarik.

FLP Australia pada acara tersebut juga melakukan soft lounching buku berjudul “Catatan dari Negeri Selatan”. Buku tersebut berisi tulisan dari para penulis yang tinggal atau sedang studi di Australia dengan tema tentang kehidupan sehari-hari di Australia. Seluruh royalty dari penjualan buku tersebut rencananya akan disumbangkan kepada para korban bencana alam di Tanah Air. Dalam acara tersebut sekaligus dikukuhkan pembentukan FLP Australia dan dilantik para pengurusnya oleh Kang Abik. Diangkat sebagai penasehat dalam kepengurusan tersebut, atase pendidikan KBRI, Canberra.

Semoga acara tersebut bisa menjadi trigger bagi kemajuan para penulis kita.* Nico Andrianto, Mahasiswa Master of Policy and Governance Program, Crawford School of Economics and Government, Australian National University, Canberra, Australia

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Berkerudung, Gadis Kecil Cile Didukung Menteri

Berkerudung, Gadis Kecil Cile Didukung Menteri

Jumlah Orang yang Didenda karena Kencing Sembarangan di Swedia Menurun

Jumlah Orang yang Didenda karena Kencing Sembarangan di Swedia Menurun

Gereja Amerika Rugi Miliaran Dollar Akibat Skandal

Gereja Amerika Rugi Miliaran Dollar Akibat Skandal

Pengungsi Muslim Rohingya di Bangladesh Memprotes Pembantaian yang Terus Berlangsung di Myanmar

Pengungsi Muslim Rohingya di Bangladesh Memprotes Pembantaian yang Terus Berlangsung di Myanmar

Malaysia Sewa Perusahaan Amerika Cari Pesawat MH370

Malaysia Sewa Perusahaan Amerika Cari Pesawat MH370

Baca Juga

Berita Lainnya