Senin, 6 Desember 2021 / 30 Rabiul Akhir 1443 H

Internasional

Fatah Dan Hamas Gagal Capai Perjanjian

Bagikan:

Hidayatullah.com–Kelompok Palestina Fatah dan Hamas yang bersaing telah gagal menandatangani perjanjian untuk memperkecil perbedaan tajam mengenai masalah keamanan dan sudah mengakhiri putaran terakhir pembicaraan mereka semalam, demikian beberapa pejabat, Kamis (18/11).

Konflik Hamas-Fatah, yang meletus menjadi perang pada 2007, telah merugikan tujuan yang mereka nyatakan untuk memperoleh kembali tanah yang diduduki (oleh Israel), memicu perebutan oleh kekuatan-kekuatan luar — Suriah, Iran, Amerika Serikat dan Mesir — untuk mempengaruhi politik Palestina.

Pembicaraan itu adalah yang kedua sejak September dan dirancang untuk membicarakan pengawasan aparatur keamanan Palestina, yang telah terbagi antara Jalur Gaza — yang dikuasai oleh gerakan Islam Hamas — dan Tepi Barat tempat Fatah beroperasi.

“Kami tidak mencapai perjanjian,” kata pejabat Fatah Azzam al-Ahmad, yang kelompoknya lebih sekuler setia pada pemerintah Otonomi Palestina pimpinan Presiden Palestina Mahmoud Abbas yang didukung AS, pada wartawan di ibukota Suriah, Damaskus.

Seorang pejabat Palestina lainnya mengatakan, kedua belah pihak juga gagal menyepakati mengenai tanggal bagi putaran ketiga pembicaraan itu, tapi menolak memberikan alasan yang lebih terperinci.

Pembicaraan rekonsiliasi itu dimulai Selasa lalu, dengan delegasi Fatah mencakup pejabat senior intelijen Majid Farah, dan wakil pemimpin Hamas Moussa Abu Marzuk memimpin tim kelompoknya.

Fatah secara efektif telah menolak pengurangan kekuasaannya atas aparatur keamanan pemerintah Otonomi Palestina, setelah membersihkannya dari para simpatisan Hamas.

Hamas sebaliknya menyatakan sayap intelijen pemerintah Otonomi Palestina yang didukung AS itu, yang beroperasi di Tepi Barat yang diduduki dengan izin Israel, telah bekerjasama dengan Israel melawan Hamas dan kelompok lainnya, yang mereka yakini dalam perlawanan militer terhadap Israel.

Anggota politbiro Hamas Izzat al-Rishq menyatakan pekan lalu, Hamas menginginkan pembentukan komisi untuk mengawasi badan keamanan di Tepi Barat dan Jalur Gaza, serta menindaklanjuti “dengan penyusunan lagi dan pembangunan kembali aparatur keamanan”.

Kedua belah pihak setuju pada putaran pertama pembicaraan pada September lalu untuk membantu upaya Mesir memperkecil perbedaan, tapi mereka sejak itu mempertimbangkan kembali pernyataan-pernyataan positif yang dibuat waktu itu mengenai prospek bagi rekonsiliasi.

Pembicaraan kerjasama keamanan itu pada awalnya dijadwalkan pada Oktober, tapi dibatalkan setelah Abbas dan Presiden Suriah Bashar al-Assad bertukar kata-kata marah pada pertemuan puncak Arab perihal perlawanan terhadap Israel.

Hamas menguasai Jalur Gaza sejak mengalahkan pasukan Fatah pada 2007.

Pembicaraan antara Israel dan pemerintah Otonomi Palestina pimpinan Abbas macet ketika 10 bulan pembekuan pembangunan permukiman sepihak Israel di Tepi Barat berakhir September lalu. [rtr/ant/hidayatullah.com]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

Junta Militer Mali Resmi Dibubarkan

Junta Militer Mali Resmi Dibubarkan

Saudi Larang Non Saudi Manjadi Wakil Muadzin

Saudi Larang Non Saudi Manjadi Wakil Muadzin

Amir Kuwait Tolak Hukuman Mati Bagi Penista Agama

Amir Kuwait Tolak Hukuman Mati Bagi Penista Agama

Mursy Didesak Tunjuk Pengacara

Mursy Didesak Tunjuk Pengacara

Masjid di Nangarhar Dibom, Merenggut 62 Nyawa Jamaah Shalat Jumat

Masjid di Nangarhar Dibom, Merenggut 62 Nyawa Jamaah Shalat Jumat

Baca Juga

Berita Lainnya