Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

Gara-gara Jilbab, Jenderal Turki Tidak Hadiri Acara Kepresidenan

Bagikan:

Hidayatullah.com—Inilah akibat sistem negara terlalu sekuler. Di negeri yang pernah menjadi kekuatan kekuasaan Islam ini masih direpotkan dengan persoalan-persoalan bagaimana memisahkan hak individu dan sistem negara. Sebagai contoh, Kepala Staf AD Turki telah tidak hadir pada upacara resmi di istana kepresidenan karena istri Presiden Turki mengenakan jilbab, demikian dilaporkan media setempat seperti dikutip AFP, Senin (1/11).

Kelancangan pemimpin puncak AD Turki ini tampak mencolok dengan ketidakhadirannya pada Jumat malam dalam acara pesta yang digelar Presiden Abdullah Gul untuk memperingati berdirinya Turki sekuler nan modern pada 1923.

Militer mengadakan acara resepsi terpisah pada saat bersamaan sehingga memberi para jenderal alasan untuk tidak memenuhi undangan presiden, lapor media itu.

Partai oposisi utama yang sekuler Partai Rakyat Republik (CHP) juga menolak undangan Gul.

Ibu Negara Turki mengenakan jilbab, yang menutup kepala dan lehernya sejak remaja.

Boikot militer ini dikritik Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan, yang istrinya juga mengenakan jilbab.

Para jenderal yang mengklaim dirinya pengawal Republik Turki, menganggap jilbab sebagai ancaman terhadap tradisi sekuler dan kemunduran dari segala larangan pemakaian jilbab di sekolah-sekolah dan gedung-gedung pemerintah.

Hayrunnisa Guila dan Emine Erdogan, seperti juga para istri pimpinan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berkuasa, memakai jilbab hingga menutup seluruh leher dan rambut mereka.

Erdogan, yang telah memimpin pemerintah konservatif Islam sejak 2002 mencela para jenderal dengan mengatakan, “Angkatan Bersenjata seharusnya hadir di istana kepresidenan.”

Dulu, para jenderal harus menghadiri jamuan itu untuk merayakan berdirinya Republik Turki, tapi tahun ini Presiden mengundang pula istri-istri mereka, yang berarti perempuan berjilbab juga hadir.

Gul, mantan kader AKP, ditekan untuk mencabut larangan berjilbab sejak ia naik ke kekuasaan.

Larangan jilbab di kampus universitas baru-baru ini dilonggarkan oleh Dewan Pendidikan Tinggi (YOK) yang dulu adalah benteng sekularisme, tetapi sekarang lembaga itu dipimpin seorang pendukung Erdogan. [ant/hidayatullah.com]

Keterangan foto: Presiden Turki Abdullah Gul dan istrinya, Hayrunnisa Guila.

Rep: Admin Hidcom
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

Lebih Suka Jadi Orang Biasa, Paus Fransiskus akan Pensiun dari Vatikan

Lebih Suka Jadi Orang Biasa, Paus Fransiskus akan Pensiun dari Vatikan

Delegasi Uni Eropa Kumpulkan Bukti Pelanggaran HAM China di Xinjiang

Delegasi Uni Eropa Kumpulkan Bukti Pelanggaran HAM China di Xinjiang

Minta Naik Gaji Pekerja Bandara Jerman Mogok, Penerbangan Dibatalkan

Minta Naik Gaji Pekerja Bandara Jerman Mogok, Penerbangan Dibatalkan

Longsoran Sampah Bunuh Puluhan Warga Ethiopia

Longsoran Sampah Bunuh Puluhan Warga Ethiopia

Krisis, Warga AS Cari Kerja ke Kanada

Krisis, Warga AS Cari Kerja ke Kanada

Baca Juga

Berita Lainnya