Sabtu, 4 Desember 2021 / 28 Rabiul Akhir 1443 H

Internasional

Situs WikiLeaks Eror, Bisa Mengancam Intelijen AS

Bagikan:


Hidayatullah.com—Situs Wikileaks, yang membocorkan data rahasia militer perang Amerika di Afghnistan secara terbuka, kini mengalami kerusakan. Tak ada aktivitas apa-apa di laman internet yang sempat membuat heboh dunia.  Satu-satunya informasi hanyalah tulisan yang berbunyi, “Well there was an error. Maybe we are just overloaded, please try again in a few minutes.

You can check our Twitter feed for the latest news. Please help us to protect and defend our work.”

Sebelumnya, situs ini sempat membuat pihak militer AS merada setelah  membocornya data militer perang Afghanistan milik AS. Akibat kebocoran itu,badan intelijen AS diambang perpecahan.

Mantan kepala Badan Intelijen Pusat (CIA) Michael Hayden memperingatkan kebocoran data-data militer itu yang dilakukan WikiLeaks dapat menyabotase kampanye perang terhadap terorisme setelah insiden 11 September untuk menghancurkan tembok-tembok persaingan antara badan-badan intelijen AS.

“Kebocoran data ini merusak di berbagai tingkat,” ujar pensiunan jenderal Angkatan Udara itu. Hayden mengungkapkan, kebocoran data itu justru memperkuat malaikat kegelapan. Para pemimpin di komunitas intelijen, kata dia, harus bekerja sama untuk menyelesaikan masalah ini dan bekerja keras untuk mencari sebuah jawaban.

“Pada tahun-tahun setelah serangan 11 September, apapun yang terjadi meskipun salah, saya menyalahkan kedua pihak mengenai kegagalan untuk menyebar (informasi),” ungkap Hayden. “Kita mengatakan kepada para senator ‘Ya, kita akan menyebarkan’. Tetapi, di belakang pikiran sadar Anda berkata bahwa ini sangat berbahaya, jika disebarkan. Dan itu hanya dipajang saja,”katanya. Memang WikiLeaks tidak menyebutkan sumber pembocor dokumen rahasia itu.Namun,Pentagon telah memiliki nama si pembocor itu. Dugaan kuat mengarah kepada analis intelijen AS Bradley Manning yang saat ini ditahan di penjara militer di Kuwait.

Pentagon sebelumnya menyebutkan bahwa Manning mungkin mengirimkan video penting dan 260.000 data ke WikiLeaks. Menurut Hayden,Manning merupakan prajurit tingkat rendah dan,jika dia mampu mengirimkan informasi justru akan memperkuat risiko dalam pembagian informasi intelijen.Dia menyarankan badan-badan intelijen untuk bekerja sama dengan para pakar teknologi untuk mempersulit dalam akses pembocoran data militer. Para analis pun menyebutkan kebocoran data itu menjadi tantangan penting Pentagon di era digital saat ini. Pasalnya, ribuan data dapat diekspos hanya dengan satu klik semata.

Meradang

Bagaimanapun, publikasi WikiLeaks membuat berbagai pihak –utamanya yang berperang menyerang Afghanistan—ikut kebakaran jenggot. Termasuk diantaranya para jenderal AS, Presiden “boneka” Afghanistan,  ISAF dan kelompok-kelompok terkait penyerangan Negara itu.

“Adalah tindakan yang sangat tidak bertanggung jawab untuk mengedarkan dokumen rahasia itu ke pasaran,” demikian dikatakan juru bicara pasukan internasional pelindung Afghanistan ISAF, Josef Blotz, dalam suatu konferensi video antara kota Potsdam  di Jerman dengan Kabul, Afghanistan.

WikiLeaks mempublikasikan sekitar 90 ribu dokumen rahasia Amerika Serikat mengenai penugasan di Afghanistan.

Semua yang teribat, mulai para jenderal,  nama petugas Afghanistan,  nama penerjemah,  bagian aparat keamanan atau siapapin yang bekerja sama dengan pasukan ISAF, disebutkan secara lengkap.  

Parahnya lagi,  WikiLeaks kemudian meneruskan materi informasi tersebut pada sejumlah media massa seperti majalah berita Jerman “Der Spiegel”, harian “New York Times” dan “The Guardian”.

Dalam laporan mengenai penugasan itu puluhan nama pihak Afghanistan yang memberikan informasi terperinci kepada Amerika Serikat dan sekutunya.

Sebaliknya, pendiri WikiLeaks Julian Assange menyatakan dalam sebuah wawancara dengan harian Inggris “The Times”, bahwa aktivitas yang dilakukan laman internetnya “sangat penting bagi sejarah perang di Afghanistan”. Assange menyebutkan bahwa sebelum arsip tersebut dipublikasikan, WikiLeaks sudah menghubungi Gedung Putih agar “menekan risiko serendah mungkin bahwa nama informan yang tidak bersalah akan disebut.” Tapi WikiLeaks tidak mendapatkan reaksi dari Gedung Putih.

Mengancam

WikiLeaks
sendiri mengaku masih memiliki 15.000 data militer yang masih diedit untuk menyembunyikan informan-informan.

Jika pihaknya merasa terancam, WikiLeaks mengaku  bakal membocorkan data terbarunya ke publik setelah 90.000 dokumen yang dapat diakses di situs WikiLeaks tersebut.

“Tidak ada seorang pun terluka, tetapi jika ada seorang sengaja datang untuk menyakiti kami, tentunya akan menjadi sebuah penyesalan yang amat dalam,” kata Assange.

“Jika kami nantinya terpaksa merilis sebagian dokumen rahasia tersebut, tetap akan menjadi bagian penting dari sejarah perang di dunia. Dan bila kami (WikiLeaks) dianggap bersalah, kami akan meninjau kembali prosedur dan reaksi kami,” tandas Assange. Nah, kita tunggu kejutan barunya nanti. [wik/dwwd/sin/ap/hidayatullah.com]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

Turki Berharap Hubungan Dagang dengan Iran Segera Pulih

Turki Berharap Hubungan Dagang dengan Iran Segera Pulih

Orang Inggris Timbun Barang Antisipasi Brexit Tanpa Kesepakatan

Orang Inggris Timbun Barang Antisipasi Brexit Tanpa Kesepakatan

AS Lakukan Kejahatan Kemanusiaan di Guatemala

AS Lakukan Kejahatan Kemanusiaan di Guatemala

Mengkritik Netanyahu dan Lieberman di Twitter, 3 Diplomat Israel Diberhentikan

Mengkritik Netanyahu dan Lieberman di Twitter, 3 Diplomat Israel Diberhentikan

Skotlandia Tetap Bergabung dengan Kerajaan Inggris

Skotlandia Tetap Bergabung dengan Kerajaan Inggris

Baca Juga

Berita Lainnya