Kamis, 9 Desember 2021 / 5 Jumadil Awwal 1443 H

Internasional

Amerika Mengincar Kandungan Alam Berharga di Afghanistan

Bagikan:

Hidayatullah—Amerika selalu berdalih ingin menegakkan demokrasi di negeri di Afganistan yang akhirnya berbuntut perang berkepanjangan. Namun motif tersembunyi akhirnya terkuak juga.  

Temuan para ahli geologi AS di Afganistan memberi sudut pandang lain. Para ahli geologi AS dilaporkan telah menemukan banyak mineral berharga di Afghanistan. Temuan mineral yang belum termanfaatkan itu nilainya mencapai lebih dari USD 1 triliun.

Juru bicara pemerintah Afghanistan, Waheed Omar, menyatakan bahwa Badan Survei Geologi AS (USGS) yang bekerja di bawah kontrak Pemerintah Afghanistan telah melakukan survei dan menemukan mineral berharga. “Hasil surveinya menunjukkan bahwa Afghanistan memiliki sumber daya mineral bernilai USD 1 triliun,” ujar Omar seperti dikutip AP, Senin (14/6).

Meski demikian, temuan itu belum menunjukkan keseluruhan harta terpendam di negeri yang sarat konflik kitu. “Ini bukan survey menyeluruh atas kandungan mineral di Afghanistan,” lanjut Omar.

Hanya saja Omar menolak menyebutkan kandungan mineral berharga yang ditemukan ahli geologi AS di Afghanistan itu. Namun berdasarkan laporan USGS tahun 2007, ada data tentang sumber daya mineral Afghanistan yang disusun selama kurun waktu 1950-an hingga 1985.

Hanya saja, banyak data tentang itu yang disembunyikan dan dilindungi oleh para ilmuwan Afghanistan selama konflik sepanjang lebih dari dua dekade itu.

The New York Times edisi kemarin yang mengutip pejabat senior di AS, menyebutkan bahwa kekayaan mineral Afghanistan bernilai USD 1 triliun yang belum dimanfaatkan itu jauh melebihi cadangan mineral yang diketahui sebelumnya.

Kekayaan terpendam itu dinilai cukup untuk mengubah perekonomian Afghanistan dan bahkan mungkin perang Afghanistan juga. Mineral yang belum dimanfaatkan hasil temuan USGS itu antara lain berupa besi, tembaga, kobalt, emas serta logam industri penting lainnya seperti lithium.

Sementara menurut majalah Times yang mengutip memo dari Departemen Pertahanan AS, Pentagon, dengan kekayaan mineralnya itu Afghanistan diibaratkan sebagai “Saudi Arabianya lithium”. Lithium adalah material dalam industri baterai untuk laptop dan telepon selular.

“Ada potensi yang menakjubkan di sini (Afghanistan),” ujar Jendral David H. Petraeus, komandan di Pusat Komando AS. “Ada banyak (mineral) tentunya, saya kira potensinya sangat signifikan,” ujarnya.

Para ahli gelologis sebenarnya telah mengetahui selama puluhan tahun bahwa Afghanistan memang kaya akan mineral seperti tembaga, emas dan kobalt. Namun sumber daya alam itu tidak pernah sepenuhnya dieksploitasi karena selama konflik bersenjata berkepanjangan dan minimnya infrastruktur.

Dalam laporannya Times menyebutkan, cadangan lithium dalam jumlah besar ditemukan di Provinsi Ghazni, yang berada di bawah kontrol kaum Taliban.

Presiden Afghanistan Hamid Karzai dalam kunjungannya ke Washington bulan lalu, menyatakan bahwa kekayaan mineral negerinya yang belum dimanfaatkan bisa mencapai lebih dari angka USD 1 triliun. Karzai bahkan menyebut angka USD 3 triliun.

Tahun lalu, gugus tugas di Pentagon yang membuat program pengembangan bisnis di Irak dan di Afghanistan menganalisa temuan para ahli geologi. Para ahli pertambangan AS dibawa untuk memvalidasi kesimpulan survei geologist.

Para petinggi pemerintahan Afghanistan dan AS pun dibriefing soal hasil validasi atas temuan para geologis tersebut. Menurut Omar, temuan itu akan memberi keuntungan bagi Afghanistan dalam jangka panjang.

“Saya kira ini berita yang sangat-sangat besar bagi rakyat Afghanistan dan kami berharap ini dapat membawa kesejahteraan bagi setiap rakyat Afghanistan,” tandas Omar.

Sejauh ini, temuan terbesar adalah besi dan tembaga. Namun ada juga jumlah besar cadangan niobium, logam lunak yang digunakan untuk baja superkonduksi. Selain itu, dilaporkan pula adanya cadangan emas dalam jumlah besar di daerah Pashtun, di sebelah selatan Afghanistan. Namun area tersebut masih sangat berbahaya oleh aktifitas Taliban.

Sebelumnya, para peneliti juga mengungkap motif Amerika menyerang Iraq di mana ada kemauan menguasai sumber-sumber minyak. [nyt/jp/hidayatullah.com]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

Kisah WikiLeaks dan Assange Dibuat Film Dokumenter

Kisah WikiLeaks dan Assange Dibuat Film Dokumenter

Universitas Ummul Qura

Universitas Ummul Qura Raup 12 Medali dalam Pameran Penemuan Internasional Jenewa 2021

Serangkaian Bom Kembali Terjadi di Iraq

Serangkaian Bom Kembali Terjadi di Iraq

Menolak Deportasi, Seratusan Pencari Suaka Serang Polisi Jerman

Menolak Deportasi, Seratusan Pencari Suaka Serang Polisi Jerman

Femen Bugil di Dalam Masjid di Stockholm

Femen Bugil di Dalam Masjid di Stockholm

Baca Juga

Berita Lainnya