Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

Mantan Dubes AS: Israel Fitnah Tragedi Mavi Marmara

Bagikan:

Hidayatullah.com–Mantan Dubes AS untuk Mauritania Edward Peck adalah salah seorang tokoh ternama yang pernah berkarier di Kementerian Luar Negeri AS selama 30 tahun. Dalam tragedi kapal Mavi Marmara pekan lalu, dia turut dalam rombongan relawan kemanusiaan yang akhirnya tertangkap dan dideportase Zionis-Israel.

Dalam wawancara beberapa hari lalu kepada situs Salon, dia menyesalkan pemberitaan media-media AS yang cenderung mendukung Zionis-Israel. Malahan dia menilai, publik AS hanya membaca apa yang keluar dari mulut Tel Aviv.

Dia juga menolak pemberitaan media yang menyebut tentara Zionis-Israel diserang. Baginya ini merupakan kenyataan yang menyedihkan. Kesimpulannya bisa terbalik, siapa yang menyerang dan siapa yang diserang, kata mantan diplomat karier di Kemlu AS. Seolah-olah tentara Israel saat itu mempertahankan diri.

Masalah Timteng sangat akrab di dalam kepalanya, lantaran dia pernah bertugas sebagai diplomat AS di Mesir, Aljazair, Maroko, dan Tunisia. Dia juga pernah menjadi Kepala Misi AS di Baghdad tahun 1977-1980. Dalam pemerintahan Reagen dia pernah menjabat sebagai Deputi Direktur Pasukan Khusus Terorisme di Gedung Putih.

Pada 1 Juni lalu dia sempat memberikan sambutan dalam demonstrasi menentang serangan tentara Zionis-Israel terhadap kapal Mavi Marmara di depan Gedung Putih. Bersama ratusan demonstran dia menegaskan bahwa pendudukan Zionis-Israel atas Gaza merupakan tindakan illegal.

Dia juga tercatat sebagai pengkritik keras kebijakan mantan Presiden AS George W. Bush yang menginvasi Irak pada 2008 saat penggulingan Saddam Hussein. Berikut wawancara selengkapnya:

Bagaimana Anda melihat pemberitaan media AS mengenai serangan Israel terhadap kapal kemanusiaan?

Begini. Saya baru saja diwanwancarai sebuah radio. Salah satu hal yang membuat saya sulit mengatakan adalah ternyata Israel telah berhasil, misalnya membuat publik Amerika bertanya kenapa penumpang kapal bantuan Turki itu menyerang tentara Israel.

Saya katakan, tunggu dulu, tunggu dulu, mereka mempertahankan kapalnya dari para penyerang. Anda terbalik. Mereka itu semua orang sipil, laki-laki dan perempuan, di sebuah kapal berbendera Turki di perairan internasional. Dan di sinilah datang sekelompok orang bersenjata berat dan mereka membajaknya, lalu memaksa kapal itu menuju ke Israel, di mana para penumpang tidak ingin ke sana. Lalu mereka mengambil kursi-kursi itu untuk melawan pasukan tentara yang bersenjata lengkap, dan itulah mengapa mereka lalu menyerang. Itulah yang sedikit mengagetkan saya.

Di luar peristiwa berdarah itu semua, masalah ini menjadi perang opini. Publik Amerika membaca laporan dari Tel Aviv yang dikutip media AS sehingga akhirnya relawan di dalam kapal itu digambarkan sebagai teroris yang dibenci Israel, pendukung Hamas, dan pembunuh. Saya berkata dalam hati saya, apa yang Anda ingin dengar dari orang Israel menyebut orang-orang itu; para pecinta alam yang menanam pohon? Tidak, mereka semua pembunuh, semuanya. Ini menjadi fitnah atas orang yang menolaknya. Dan media tampaknya ingin menggambarkan seperti itu. Dan saya menyimpulkan hal itu menyedihkan. Dan inilah penggunaan bahasa yang saya perhatikan. Siapa yang mempertahankan diri dan siapa yang menyerang.”

Lalu pertanyaan apakah yang seharusnya dilontarkan oleh media-media saat ini?

Mereka harus terfokus pada sebuah fakta bahwa Israel secara illegal menguasai Gaza, seperti yang dipahami oleh dunia. Malah Israel mengatakan, Anda tidak bisa masuk ke wilayah ini karena kami sedang mempertahankan diri. Namun jika mengambil alih kapal di pantai Somalia itu dinamakan pembajakan, maka jika Israel mengklaim mereka mempertahankan diri dengan mengusir kapal itu, mereka dapat lakukan ini, tidak ada yang dapat menghentikan polah mereka, bahkan mengkritik mereka sekalipun karena perbuatannya ini. Namun ini adalah illegal.

Saya akan memberi ilustrasi lebih dalam. Ketika kami ditangkap dan diarahkan ke Ashdod, salah seorang pejabat Israel bertanya kepada saya bahwa saya akan dideportasi. Saya jawab, Ok. Lalu dia berkata, Anda telah melanggar hukum Israel. Lalu saya jawab maaf, saya diarahkan ke sini, hukum Israel apa yang saya langgar?” Dan dia menjawab Anda masuk ke wilayah Israel secara illegal. Saya bilang, OK, kapal ditangkap secara paksa dan saya dibawa kemari dengan paksa, di bawah tekanan, dan terpaksa masuk ke negara Anda yang bertolak belakang dengan keinginan saya, dan Anda sebut saya masuk secara illegal” Lalu kita berbicara dengan bahasa dan pijakan yang berbeda. Namun itulah mengapa mereka mendeportasi saya, karena saya masuk secara illegal (padahal) saya tidak ingin masuk ke sana.

Orang Amerika harus sadar bahwa tidak ada satu pun terbersit keinginan sesuatu yang buruk terjadi, baik kepada Israel, kepada Palestina, dan dalam kasus saya, terhadap seorang Amerika. Namun situasi yang buruk telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi.

Dua wartawan Thomas Friedman dan Jeffrey Goldberg menilai, armada kapal itu bukanlah kapal yang bermisi kemanusiaan, namun sebuah skenario politik, apa tanggapan Anda?

Saya harus bertanya pada Anda, bagaimana mereka tahu? Mereka hanya duduk-duduk di belakang meja di mana pun mereka berada. Dan pertanyaan kedua adalah, apakah mereka pernah mengkritik Israel? Dan jawabannya adalah: tidak. Saya tidak menyalahkan keduanya dalam hal ini, namun mereka dikenal sebagai pendukung Israel. OK silakan lakukan sesuka Anda. Tapi jangan berharap saya akan mendengarkan kata-kata mereka sebagai sebuah kebenaran yang terbantahkan. Kedua orang itu merupakan wartawan yang terkemuka, namun pandangannya berbeda dengan saya. Jadi jika Anda bertanya, apa kesan saya terhadap tulisan mereka, saya akan jawab dengan sorakan—seperti ketika Anda menjulurkan lidah dengan suara keras.

Saya cenderung menyaring informasi dari mereka yang anti-Israel dan pro-Israel, karena akan mendapatkan opini mereka yang jauh dari fakta-fakta penting.

Kenapa insiden ini begitu banyak mendapatkan perhatian di AS, berbeda dengan peristiwa perang Gaza pada 2009?

Salah satu alasannya adalah para relawan itu terdiri dari 30 negara. Ini merupakan pekerjaan besar dari penyelenggara sehingga misi ini terlaksana dengan melibatkan sejumlah aktifis kemanusiaan, yang menaruh kepedulian apa yang terjadi dan tidak terjadi di Gaza. Anda dapat katakan misi ini bermotif politis. Dalam beberapa hal ada benarnya. Namun niat ini lebih kepada program kemanusiaan. [pel/hidayatullah.com]

Foto: Edward Peck saat kampanye anti Zionis-Israel

Rep: Admin Hidcom
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

Paus Kecam Pembocoran Dokumen “Skandal” Vatikan

Paus Kecam Pembocoran Dokumen “Skandal” Vatikan

Clinton Serukan Boikot Terhadap Suriah

Clinton Serukan Boikot Terhadap Suriah

[Berita Foto] Rakyat Pakistan Marah pada Pemerintahnya

[Berita Foto] Rakyat Pakistan Marah pada Pemerintahnya

Vladimir Putin Menang Telak Pilpres Rusia 2018

Vladimir Putin Menang Telak Pilpres Rusia 2018

Sambil Mengajar Guru di Florida Diperbolehkan Bawa Senjata Api

Sambil Mengajar Guru di Florida Diperbolehkan Bawa Senjata Api

Baca Juga

Berita Lainnya