Sabtu, 27 November 2021 / 22 Rabiul Akhir 1443 H

Internasional

As Shalibi Kritik Teori Tanah yang Dijanjikan

Bagikan:


Hidayatullah.com–Sejarawan asal Libanon, Kamal As Shalibi telah menyanggah teori “tanah yang dijanjikan”, yaitu teori yang selama ini digunakan oleh orang-orang Zionis sebagai alasan untuk mendirikan negara Israel di Palestina. Menurut teorinya, secara astronomi, kitab Taurat itu turun di Jazirah Arab. Dan seorang astronom asal Inggris, Anthony Yas membuktikan bahwa secara ilmiyah bahwa Palestina tidak mungkin menjadi tanah yang dijanjikan untuk orang-orang Yahudi.

Dalam sebuah wawancara dengan Al-Jazeera.net (23/5), As Shalibi menceritakan salah satu kisah yang dikutip dari Taurat tentang Raja Hizkia yang meminta do’a kepada Nabi Yesaya agar umurnya diperpanjang oleh Allah. Secara astronomis As Shalibi membuktikan bahwa kejadian dalam cerita tersebut tidak mungkin terjadi di Yerusalem, Palestina, melainkan di daerah Asir, yaitu pada titik 17 dan 19 derajat berdasarkan garis lintang.

Ketika ditanya apakah ia dalam merumuskan teorinya itu ada latar belakang politik, maka dengan tegas ia menjawab, “Saya sangat jauh sekali dengan politik. Dan saya melakukannya memang benar-benar berdasarkan prinsip yang ilmiah”.

Salibi juga menambahkan, ketika teorinya tersebut banyak diketahui publik khususnya dalam buku-bukunya seperti Tarikhiyah Israel At-Tauratiyah, maka ia banyak menuai protes dari kalangan Yahudi. Sejak buku pertamanya tentang Ilmu Taurat terbit, banyak ilmuan Taurat di Amerika dan Barat yang marah kepadanya, karena apa yang ia lakukan telah meruntuhkan teori yang sudah berumur 210 tahun lamanya.

Menurutnya, meskipun dasar keilmuan yang membangun teorinya tersebut adalah ilmu sejarah yang masih belum dapat dipastikan kebenarannya secara mutlak, namun ketika teori tersebut dibuktikan dengan beberapa disiplin ilmu pasti seperti astronomi, geologi, ataupun arkeologi, maka orang akan susah untuk membantahnya.

Dalam kajian teorinya tersebut memang ia dituntut untuk berpegangan kepada Taurat itu sendiri, namun menurutnya juga boleh-boleh saja jika kita menggunakan sumber lain seperti Al-Qur’an. Karena banyak sekali hal yang belum dapat diungkapkan oleh manusia, tapi sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an.

Ia menegaskan bahwa tidak ada sumber lain lagi yang bisa dijadikan sandaran untuk mengkaji sejarah Bani Israel, selain Taurat dan Al-Qur’an. Namun untuk dapat mencapai titik dari kajian sejarah tersebut, kita bisa menggunakan perangkat ilmu pasti yang ilmiah seperti astronomi dan geologi.[sadz/jzr/Hidayatullah.com]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

Biaya Hidup Mahal Rakyat Israel Menjerit Lagi

Biaya Hidup Mahal Rakyat Israel Menjerit Lagi

Pendeta Senior Ortodoks Rusia: Aborsi Lebih Mengerikan Dibanding Holocaust

Pendeta Senior Ortodoks Rusia: Aborsi Lebih Mengerikan Dibanding Holocaust

Taliban Temui Komunitas Sikh dan Hindu Afghanistan, Jamin Keamaan Mereka

Taliban Temui Komunitas Sikh dan Hindu Afghanistan, Jamin Keamaan Mereka

Operasi Komando AS Tewaskan 14 Militan Al-Qaeda di Yaman

Operasi Komando AS Tewaskan 14 Militan Al-Qaeda di Yaman

Musim Hujan, Kamp Pengungsian di Afrin Suriah Terendam Banjir

Musim Hujan, Kamp Pengungsian di Afrin Suriah Terendam Banjir

Baca Juga

Berita Lainnya