Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

560 Mahasiswa Indonesia Dilibatkan Menjadi Pelayan Haji Tahun Ini

Bagikan:

Hidayatullah.com–Sebagian pelayan haji Indonesia di Arab Saudi adalah para mahasiswa. Ada yang sedang menempuh S2, ada yang baru lulus S1. Honornya bisa dipakai untuk pulang kampung, bahkan ada yang akan mempergunakannya untuk kawin.

Dua wanita duduk berhimpitan di pojok ruang pertemuan. Wajahnya lebih banyak menunduk. Sesekali mereka berbisik, saling mendekatkan kepala. Sementara itu, 29 pasang mata laki-laki memandanginya. Wanita itu baru menegakkan kepala manakala diajak bicara.

Mereka adalah sebagian mahasiswa Indonesia yang belajar di berbagai negara di Timur Tengah. Kini mereka bergabung menjadi pelayan haji di Arab Saudi. Kebetulan 31 orang tersebut ditempatkan di Jeddah. Tanggal 31 Oktober lalu, mereka dikumpulkan untuk diberi penjelasan mengenai tugas yang harus dijalankan.

Siti Ruhayyah dan Aprina menjadi pusat perhatian karena merekalah yang wanita. Keduanya mahasiswa Al-Azhar Kairo, Mesir. Meski tidak satu jurusan, mereka akrab. Ruhayyah mengambil jurusan Hadits. Aprina di jurusan Syariah Islamiyah.

Baik Ruhayyah maupun Aprina tak menyangka kalau bakal menjadi pelayan haji. Mereka terpilih berkat undian. Tentu sangat menggembirakan. Di samping bisa melaksanakan ibadah haji gratis, mendapat gaji lagi. “Disyukuri saja,” kata Ruhayyah dengan senyum. Aprina pun ikut tersenyum.

Sesuai pembagian tugas, Sabtu lalu (31/10) Ruhayyah dan Aprina ditempatkan di bagian administrasi sebagai pembantu pelaksana. Sedangkan teman-temannya yang laki-laki ditempatkan di berbagai bagian. Ada yang menjadi pelayan umum, pelayan ibadah, perantara komunikasi, dan sebagainya.

Kegembiraan

Tahun ini jumlah mahasiswa yang dilibatkan dalam pelayanan haji 560 orang. Sebanyak 364 orang dari Arab Saudi. Sisanya dari negara-negara tetangga. Wilayah penempatannya di Jedah, Madinah maupun Mekah.

Ruhayyah tak menawar tugas yang dibebankan kepadanya, meski baru kali ini melakoninya. Dia juga siap bekerja 12 jam sehari. Kebetulan bulan ini lagi kosong perkuliahan.

Dia enjoy karena akan mendapat biaya pulang kampung. Ruhayyah sudah lima tahun tak pulang. Ketika daerahnya, Aceh, disapu tsunami, dia sudah berada di Mesir. Sampai menamatkan S1 pun dia belum pulang. Kini bungsu dari tiga bersaudara itu sudah menempuh S2. Sementara itu, Aprina akan menamatkan S1-nya tahun ini.

Bagi gadis kelahiran Sigli, Pidie, itu belajar di Mesir butuh perjuangan berat. Biaya menempuh S2 di negeri orang itu sepenuhnya ditanggung orang tua. Padahal ketika masih S1 dia mendapat beasiswa dari Al Azhar. Ketika itu sebulan memperoleh 160 pound. Kini dia harus mengeluarkan 350 pound (sekitar Rp 700 ribu) untuk biaya hidup dan biaya kuliah 1.000 pound setahun.

Kegembiraan juga dipancarkan Abdul Hakim. Lelaki asal Madiun itu ingin memanfaatkan honornya untuk pulang kampung dan menikah. Di kampung sudah ada wanita yang menunggu. Dia masih ada hubungan famili. Keluarganyalah yang menemukan calon pendamping itu. “Baru bertemu sekali, ketika pulang dulu,” kata mahasiswa Darul Mustofa, Yaman, itu.

Alumnus MA Temboro itu bersekolah di Yaman berkat bantuan alumnus perguruan tingginya. Ketika itu dia membayar sekitar Rp 18 juta untuk kuliah sampai lulus S1. Sekarang, biayanya sekitar Rp 27 juta. Kini dia sudah lulus S1 jurusan Syariah.

Anak ketujuh dari delapan bersaudara itu ingin segera kawin karena semua saudaranya sudah menikah, termasuk adiknya. Terpilihnya menjadi pelayanan haji yang sering disebut tenaga musiman itu, membawa angin segar. Kelak dia akan mndapat honor USD 70 perhari. Satu penghasilan yang belum pernah diterima sebelumnya.

Untuk bisa menjadi pelayan haji dia harus mengikuti tes, baik tulis maupun wawancara. Setelah diterima, dia diharuskan bersiap-siap berangkat dari Kota Yaman sejak sebulan lalu. Persoalan muncul ketika pada saatnya berangkat, visa belum keluar. Waktu itu visa untuk semua mahasiswa dari luar Arab Saudi juga belum selesai.

Hakim baru lega setelah visanya kelar 28 Oktober. Meskipun pemberangkatannya ke Jedah terlambat sepuluh hari, dia tetap bersyukur. “Saya belum tahu apakah honor saya dihitung sejak hari in atau sebelumnya,” katanya.

Mukhyar Imran idem ditto. Alumnus Alwasliyah Medan itu siap-siap masuk S2 setelah menyelesaikan S1 jurusan Syariah. Lebih-lebih dia kuliah hanya berkat bantuan kaum dermawan di Mesir. “Saya ingin pulang dulu,” ujar mahasiswa jurusan Syariah, Al-Azhar, Mesir.

Sudah delapan tahun dia tidak pulang kampung ke Telaga Suke, Paniai Tengah, Labuhan Batu, Sumut. Dia sudah kangen orang tua dan saudara-saudaranya. Selama ini keinginannya untuk pulang selalu dipendam karena keterbatasan biaya. Kebetulan tahun ini dia menang undian untuk menjadi pelayan haji.

Sejak dulu memang ada jatah bagi mahasiswa yang belajar di Timur Tengah untuk menjadi tenaga musiman haji. Tujuannya untuk membantu pembiayaan. Mereka diperlukan karena memiliki kemampuan Bahasa Arab, sehingga bisa menjadi jembatan bagi jemaah haji Indonesia dengan petugas Arab Saudi.

Bagi mereka, menjadi pelayan haji merupakan berkah yang sulit dicari padanannya. Selain bisa berhaji, mengabdi ke luar negeri secara gratis, juga memperoleh honor yang lumayan tinggi. [sep/mch/www.hidayatullah.com]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

Ukraina Temukan Daftar 47 Orang Target Pembunuhan

Ukraina Temukan Daftar 47 Orang Target Pembunuhan

Baghdad Jatuh Di Tangan Pasukan Penjajah

Baghdad Jatuh Di Tangan Pasukan Penjajah

Anjing Masuk Kelas Hibur Pelajar Denmark Supaya Tidak Stres

Anjing Masuk Kelas Hibur Pelajar Denmark Supaya Tidak Stres

Sayap Sipil Palestina Tuntut Hamas-Fatah Berdamai

Sayap Sipil Palestina Tuntut Hamas-Fatah Berdamai

Ribuan Orang Berunjuk Rasa di Swiss Menentang Pemasangan Jaringan 5G

Ribuan Orang Berunjuk Rasa di Swiss Menentang Pemasangan Jaringan 5G

Baca Juga

Berita Lainnya