Selasa, 16 Februari 2021 / 4 Rajab 1442 H

Internasional

Pro-Kontra Washington dalam Rencana Penambahan Pasukan ke Afghanistan

Bagikan:

Hidayatullah.com– Peristiwa menegangkan dua kubu di Kongres AS itu berlangsung selama sekitar 90 menit di Gedung Putih. Namun Presiden Barack Obama tidak memaparkan suatu strategi mapan bagi Afghanistan.

Senator Partai Republik John McCain dalam Sidang Kongres mendesak pengiriman pasukan tambahan ke Afghanistan. Sedangkan Demokrat menentangnya.

Usai pembicaraan tersebut, juru bicara Fraksi Partai Demokrat di Senat, Harry Reid, menjelaskan bahwa Fraksi Republik dan Demokrat ikut terlibat dalam pengambilan keputusan Presiden mengenai Afghanistan. Sementara wakil Fraksi Demokrat dan Republik juga mengutarakan pendapat partainya masing-masing terhadap strategi negara Paman Sam itu di Afghanistan.

Kubu Demokrat berusaha mengerem Presidennya, dan juru bicara fraksi Demokrat di parlemen, Nancy Pelosi, menyebutkan secara umum apa saja yang akan diputuskan. Katanya, “Tentu saja masalah keamanan, kepemimpinan pemerintahan Afganistan, pembangunan Afganistan, dan diplomasi seluruh kawasan. Dan juga masalah mengenai, apa yang akan disumbangkan negara-negara anggota NATO dalam strategi baru ini.”

Amerika Serikat belum meminta pemerintah Jerman mengirimkan tambahan pasukan ke Afganistan. Perdana Menteri negara bagian Niedersachsen Christian Wulf juga tidak merasa menerima desakan AS dalam pertemuannya dengan penasihat keamanan Obama, James Jones, Jumat pekan lalu (02/10).

Sebaliknya, Fraksi Partai Republik mendesak agar AS mengirimkan lebih banyak lagi serdadunya ke Afganistan. Senator McCain mengatakan, “Saya yakin, analisis Jenderal McChrystal tidak hanya tepat, tapi juga harus diterapkan sesegera mungkin.”

Ucapan McCain juga didukung oleh rekan separtainya John Boehner. “Kita harus memikirkan bahwa setiap harinya, bahaya yang mengintai serdadu kami meningkat.”

Sebelumnya, Panglima ISAF di Afghanistan Stanley McChrystal menuntut tambahan 10 ribu hingga 40 ribu serdadu tambahan ke Afghanistan. McChrystal sudah melaporkannya akhir Agustus lalu. Dikabarkan, setiap harinya, dukungan warga AS terhadap pasukannya di Afganistan terus berkurang.

Ketika di Gedung Putih berlangsung pertemuan dengan Kongres, sejumlah demonstran berunjuk rasa di depan Gedung Putih. Mereka ingin agar AS menarik semua tentaranya dari Afganistan. Salah seorang di antaranya adalah Cindy Sheehan, yang putranya gugur di Afghanistan, seperti juga hampir 800 prajurit AS yang ditugaskan:

“Kami sudah lama menuntut hal itu, ketika Bush masih jadi Presiden. Sekarang kami juga mendesak Presiden Obama,” kata Cindy Sheehan.

Namun, saat ini di pemerintahan Obama, tidak ada yang memikirkannya. Menteri Pertahanan Robert Gates mengatakan, “Hendaknya tidak ada keraguan mengenai tekad kami untuk tetap tinggal di Afganistan.”

Kini, sudah sewindu keberadaan pasukan NATO di Afghanistan sejak serangan 11 September 2001. Namun bagi Amerika, situasi di Afganistan masih jauh dari tenang. Pemilu sebulan lalu dibayangi tuduhan manipulasi dan kecurangan besar-besaran. Hasil akhirnya belum juga dapat diumumkan.

 

Sementara itu, perlawanan pejuang Taliban terhadap tentara sekutu Amerika mulai menguat kembali, termasuk di kawasan yang sebelumnya dianggap relatif tenang, seperti di provinsi-provinsi utara. Kehadiran Taliban kini bahkan bisa dilihat di hampir seluruh penjuru Afghanistan.  [cha, berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

Cyril Ramaphosa Presiden Baru Afrika Selatan Pengganti Jacob Zuma

Cyril Ramaphosa Presiden Baru Afrika Selatan Pengganti Jacob Zuma

Giliran Saudi Blokir YouTube

Giliran Saudi Blokir YouTube

Ulama India Minta Larang Masuk Salman Rushdie

Ulama India Minta Larang Masuk Salman Rushdie

Inilah Suara Muslim India Jelang Peresmian Kuil Dewa Rama di Reruntuhan Masjid Babri

Inilah Suara Muslim India Jelang Peresmian Kuil Dewa Rama di Reruntuhan Masjid Babri

Negara Teluk Menyambut Baik Kesepakatan Damai Kelompok Bersenjata di Sudan

Negara Teluk Menyambut Baik Kesepakatan Damai Kelompok Bersenjata di Sudan

Baca Juga

Berita Lainnya