Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

Barzat, Tradisi Makkah Selama Idul Fitri

Bagikan:



Hidayatullah.com–Idul Fitri kerap dijadikan momen untuk saling bertemu baik itu dengan anggota keluarga maupun masyarakat secara luas. Di kota suci Makkah ada sebuah tradisi yang dikenal dengan barzat, yang diselenggarakan oleh para umdah atau pemimpin distrik.

Mahmud Baitar, umdah untuk distrik Hejla Makkah bercerita tentang barzat, sebuah tradisi yang diwarisi secara turun-temurun oleh penduduk setempat dari bapak-bapak mereka.

Pada acara barzat ditampilkan tarian rakyat, pertandingan olahraga dan pembacaan puisi. Acara ini biasa diselenggarakan dekat kantor umdah. Para sesepuh diberikan tempat khusus untuk duduk.

“Acara ini memberikan kesempatan kepada orang-orang untuk saling berkelakar,” katanya.

Barzat diselenggarakan pada tiga hari pertama Idul Fitri. Acaranya dimulai setelah shalat maghrib dan diteruskan hingga tengah malam. “Saya telah menyelenggarakan acara ini selama 15 tahun, sejak saya menjabat kepala distrik Hejla,” kata Baitar.

“Kami melakukan persiapan untuk barzat di hari-hari terakhir bulan Ramadhan, mengumpulkan uang dari masyarakat umum.”

Para tamu disuguhi hidangan makan malam, jus dan kopi Arab.

“Acara ini berperan penting untuk mewujudkan hubungan yang lebih baik antar penduduk distrik, menyelesaikan konflik,” katanya menjelaskan. “Sebagai contoh, ada dua orang penduduk yang selalu bertengkar sepanjang tahun. Banyak cara dilakukan untuk mendamaikan mereka, tapi semuanya gagal. Selama acara barzat tahun ini saya berhasil mendamaikan mereka dengan bantuan anggota masyarakat lainnya. Ini pencapaian besar.”

Baitar mengatakan, sebagian penduduk yang terpaksa harus meninggalkan distrik itu karena tergusur perluasan Masjidil Haram dan proyek pembangunan lainnya, juga hadir dalam acara itu.

“Ini menunjukkan bahwa orang-orang menghargai peran penting acara ini untuk mempererat ikatan sosial,” kata Baitar, seraya menambahkan bahwa jamaah umrah dari luar daerah, terutama orang Arab, juga ikut serta dalam acara itu guna mempelajari lebih banyak warisan tradisi dan budaya Makkah.

“Di masa lalu, orang-orang biasa melakukan persiapan matang selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan untuk menggelar acara ini,” kata kepala distrik itu. “Para ibu rumah tangga membersihkan furnitur dan tirai-tirai. Aneka macam budaya dan olahraga digelar, beserta makan malam untuk umum.”

Orang-orang datang ke acara barzat untuk menyaksikan pertunjukan dan mengikuti aktivitas lainnya. Semua orang yang menunjukkan kebolehannya adalah anggota masyarakat setempat.

Para raja dan pangeran juga sering menghadiri acara barzat di Makkah. Seringkali mereka membagi-bagikan uang dalam rangka sedekah atau menjaga tradisi diwan, di mana para pemimpin yang berasal dari kalangan raja, pangeran dan kepala suku menerima rakyatnya untuk mendengarkan keluhan dan memberikan bantuan kepada mereka. Selama Idul Fitri, tradisi ini biasanya dilakukan para raja atau pangeran yang berpangkat tinggi dengan memberikan bantuan dana untuk proyek pembangunan di lingkungan setempat dan bukan memberikan bantuan kepada setiap orang yang membutuhkan secara langsung.

Penduduk setempat biasanya bekerja giat untuk menyelenggarakan barzat sebaik mungkin, terutama jika mereka akan mendapat kunjungan dari anggota kerajaan, sambil berharap pemimpin mereka berkenan memberikan bantuan untuk pembangunan distrik dan penduduk setempat.

“Selama hari-hari itu raja dan pangeran seringkali mendatangi acara barzat,” kata Baitar. “Raja Saud, Faisal dan Khalid mengunjungi Makkah untuk mengucapkan selamat hari raya kepada masyarakat luas. Menerima penghargaan dari raja merupakan sebuah kehormatan besar dan bisa jadi bahan pembicaraan sepajang tahun.”

Baitar juga menceritakan sumbangsih para kepala distrik.

“Para umdah di masa lalu biasanya juga memberikan bantuan untuk orang-orang yang berada dalam wilayah kekuasaannya, baik secara langsung maupun melalui anak-anak dan istri-istri mereka.”

Para umdah itu katanya, berhati-hati dalam memberikan bantuan kepada setiap keluarga, agar kekurangan mereka tidak diketahui umum dan agar sedekah itu tidak diketahui masyarakat. “Mereka melakukan itu secara diam-diam tanpa menyakiti perasaan orang yang menerima bantuan tersebut.”[di/an/www.hidayatullah.com]
 




Rep: Admin Hidcom
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

“Kalian Hizbiyun…”

“Kalian Hizbiyun…”

Belasan Pengemis Kaya Ditangkap di Taif

Belasan Pengemis Kaya Ditangkap di Taif

Erdogan Ucapkan Selamat kepada Putin atas Kemenangannya dalam Pilpres

Erdogan Ucapkan Selamat kepada Putin atas Kemenangannya dalam Pilpres

Diduga Banyak Orang Tertular Ebola ketika Seorang Bayi Mali Bepergian

Diduga Banyak Orang Tertular Ebola ketika Seorang Bayi Mali Bepergian

Singapore Airlines Batalkan Paket “Terbang Gak Ke Mana-Mana”

Singapore Airlines Batalkan Paket “Terbang Gak Ke Mana-Mana”

Baca Juga

Berita Lainnya